Senior High School- Before The
Troubles Came
Chapter 9
03 Desember 2009
Hari
ini hari ulang tahunku yang ke 15. Aku merasa special di usiaku yang ke 15 ini.
Yup. Aku punya pacar. Baru 3 minggu yang lalu. Will namanya. Dia memberiku
kejutan di hari ulang tahunku kali ini padahal tak ada sebulan kami jadian.
Semua juga berkat kerja sama teman sekelas. Ini adalah ulangtahun yang tak akan
aku lupakan sepanjang hidupku.
Dia
mencium pipi kanan kiriku dikelas. Dia memberiku chiffon cake keju dan hadiah
boneka kelinci pink sambil memegang hati yangbertuliskan ‘I love u’. Dia juga mengantarkanku pulang kerumah.
Pertama kalinya dalam hidupku, beginilah rasanya diberi kejutan oleh pacar di
hari ulang tahun. Semua teman memberikanku ucapan selamat
Aku
pamerkan boneka itu dikamar. Sejarah yang hebat.
To
: Will
Makasi
yah buat hari ini.
From
: Will
Iyah
my sweetie J
Ahh..
gak bosen dapet SMS dari dia setiap hari. Pasti malam ini mimpi indah.
Chapter 10
01 Januari 2010
Tahun
baru kali ini aku berharap pada Tuhan. Aku berterima kasih atas setahun yang
lalu diberikan kesempatan merasakan cinta. Kali ini pun aku memohon pada Tuhan
agar terus menjaga cinta dia agar selalu untukku.
Aku senang bisa melihatnya setiap hari. Aku
senang mengajari dia mata pelajaran yang sulit. Aku suka tersenyum kalau wajah
dia lucu saat kebingungan. Aku suka dia yang selalu romantis. Aku suka dia yang
selalu mengirimi ku kata-kata puitis. Aku suka dia yang selalu memantau
perasaan dan masalahku lewat facebook. Aku suka melihat dia terburu-terburu
masuk ke kelas kalau hampir terlambat. Aku suka dia yang ikut menungguku ketika
aku juga sedang menunggu angkutan umum. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta.
Walau cara kami jadian itu terlewat unik. Aku menyukainya.
11 Mei 2010
Aku
terharu sungguh. Saat aku hendak tidur siang, aku mendengar bunyi motor yang
aku kenal. Will datang kerumah. Yah, memang sih hari ini hari setengah tahun
jadian kami. Semua berjalan normal dan lancar. Tidak ada masalah yang serius di
dalam hubungan kami. Dan aku bahagia semua berjalan normal. Will baik padaku.
Dia tidak pemarah dan kasar. Dia selalu
berkata lembut padaku dan menegurku dengan caranya yang aku suka. Dia tahu apa
yang aku suka. Dan selalu mengusahakan apa yang aku inginkan. Dia selalu mau
berusaha untuk dan selalu mau berusaha hadir untukku. Aku merasa perhatiannya
padaku begitu tulus.
Dengan
gaya khasnya yang sopan santun dan begitu hangat dimataku, dia menyapa mama
yang kebetulan sedang ada di halaman rumah. Lalu menurunkan box besar yang
nampaknya bergerak-gerak. Aku bangkit dari tempat tidurku. Merapikan rambutku.
Berhaburan ke luar dengan lusuhnya. Kebiasaanku
setiap pulang sekolah adalah
tidur siang.
“Ta,
lihat deh. Aku bawa apa tebak? Lihat sini. “ kata Will tersenyum melihatku.
“Lucu
banget Will, kamu beli dimana?” seruku membuka box berisi sepasang kelinci yang
amat teramat gemuk sedang berebutan menggigit wortel.
“Ga
penting beli dimana. Ini hadiah buat kamu di hari jadian kita yang 6 bulan.
Kamu suka ?” tanya nya sambil mengeluarkan bungkusan plastic hitam lainnya dari
dalam jok motornya.
“Ini
tempat minumnya, ini vitaminnya, ini makanan kapsul vitaminnya. Aku udah
lengkapin semuanya. Udah aku mandiin kelincinya dan dipotongin kukunya.”
Lanjutnya tanpa henti.
“Kamu
yang beli ini semua?” aku memandang semua yang dia berikan buat aku. Aku
menggendong kedua kelinci itu.
“Iyah,
aku mau kamu rawat baik-baik. Itu udah cukup buat aku dan udah cukup buat
buktiin bahwa kamu sayang sama aku.” Katanya ikut menggendong si kelinci
cokelat.
“Aku
namain chubby and chappi yah?” tanya ku pada Will.
“Kenapa
chubby dan chappi?”
“Karena
yang coklat ini gemuk banget tau gak sih Will, jadi aku kasi nama Chubby. Lalu
yang putih ini ada corak hitam-hitamnya. Jadi mirip banget sama sapi. Jadi aku
kasih nama chappi.” Jelasku panjang lebar.
“Bagus
juga. Hebat kamu. “pujinya sambil mencubit pipiku.
“Ih
cubit-cubit. Ada mama loh..” godaku sambil memeluk kedua kelinci
berhargaku.Will tersenyum puas.
Chapter 11
04 Juli 2010
Ini
adalah hari pertama Will melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) setelah tadi
malam Will mengajak ku makan malam bersama sebelum dia berangkat PKL hari ini.
Biar ku jelaskan, PKL di sekolah kami adalah wajib mengingat kami adalah
sekolah kejurusan perhotelan. Tentulah bagi anak perhotelan akan di tempatkan
di hotel hotel yang berbintang 3 ke atas sebagai praktik lapangan kerja mereka selama
3 bulan sebelum masuk kedalam dunia kerja sesungguhnya.
Will
ditempatkan di salah satu hotel bintang 5 di kawasan Mangga Dua Jakarta sebagai
chef training. Tentulah ia berurusan dengan dapur. Tidak heran memang mengingat
dia memang berbakat diurusan dapur. Sedangkan aku di tempatkan di Hotel bintang
3 kawasan Kebayoran Lama. Jarak yang begitu jauh antara Mangga Dua dan
Kebayoran Lama membuatku pesimis untuk menyempatkan diriku bertemu dengan Will.
Belum lagi waktu kerja Will yang sudah pasti over time.
Aku
kuatir tidak bisa bertemu dengannya. Apalagi kini aku nge-kos di kawasan
Kebayoran Lama untuk mempersingkat waktu menuju tempat praktik kerjaku yang
amat jauh dari tempat tinggalku. Aku pun memutuskan nge-kos dengan 5 orang
temanku juga yang sama-sama ditempatkan disana. Semakin sempitlah waktuku
bertemu dengannya. Aku juga tak tega menyuruh Will untuk menengokku disini.
Aku
benar-benar pasti akan rindu setengah mati dengannya nanti.
“Will,
pasti kita bakal jarang ketemu deh. Jauh banget kamu PKL-nya.” Keluhku pada
Will yang menyeruput bakmi karetnya. Aku terus menatap mata Will. Tidak nafsu makan karena tahu esok
tak akan ada hari seperti ini lagi.
“Tenang
saja, Ta. Aku pasti akan sesering mungkin mengunjungi kamu nanti disana kok.”
Janjinya sambil terus menyeruput bakminya.
Aku
tersenyum.
“Kenapa
tersenyum gitu?” tanya Will padaku.
“Kamu
selalu tahu apa yang bisa bikin aku senang dan tidak kuatir lagi.” Kataku
“Iya,
aku pasti sering nemuin kamu kok. Aku janji. Nah, sekarang makan ya.”
Aku
mengangguk dan menyeruput bakmiku untuk yang pertama, sementara Will sudah
mangkuk kedua. Aku pun tertawa geli. Aku semakin menyayanginnya.
11 Juli 2010
Pk 06.55 wib
Aku
tergopoh gopoh berlarian menuju lobby hotel. Aku hampir telat karena kesiangan.
Waktu di jam tanganku menunjukan pukul 06.55 wib. Itu tandanya 5 menit lagi aku
pasti telat. Namun tiba-tiba telepon berdering di handphone ku.
“halo..
selamat pagi sayang.” Suara dari sebrang yang begitu ku kenal menyapaku dan aku
tersenyum mendengarnya.
Aku
pun bersandar di tiang masuk sebelum lobby.
“Will,
kenapa ?” tanyaku sambil tersenyum senang.
“Selamat
hari jadi kita yang 8bulan yah. Semoga kita makin awet.” Katanya singkat.
“Iya
Will, semoga kita awet-awet aja ya.” Kataku lagi
“Sayang,
udah dulu ya. Donatku gosong nih. Aku lagi buat makanan breakfast untuk tamu
hotel. Maaf ya aku buru-buru. Muah.”
Teleponnya
dimatikan, namun aku masih saja tersenyum. Itu yang aku suka dari Will. Ia
penuh perhatian dan penuh kejutan kecil. Aku semangat sekali untuk bekerja hari
ini karena telepon darinya. Tidak sadar aku sudah telat 5menit.
Pk 11.00 wib
Pekerjaanku
membereskan kamar tamu sudah selesai. Padahal waktu masih menunjukan pukul
11.00. karena terlalu begitu semangat, kerjaanku jadi lebih cepat selesai dari
pada biasanya. Kakak seniorku begitu heran melihatku bersemangat hari ini dan
senyum menghiasi wajahku seharian. Teman sekelas ku yang PKL dan sekamar di
kos-an denganku juga heran.
“ehemm..
cie yang udah 8bulan, makan-makan nih.” Senggol Debora si gendut yang
menghabiskan jatah kasur ku di kosan. Senggolannya juga cukup membuatku jatuh.
“Iya
dooong..” kataku masih belum berhenti tersenyum.
“Traktir
doong.” Kata Debora lagi.
“Minta
sama Will dong.” Kataku mencubit pinggang Debora.
“Maunya
sama Renata ajah ah.”
“Dasar
makan mulu nih..tar naik tuh timbangannya.” Ledekku pada Debora.
Debora
pun mengejarku yang berusaha lari menghindari cubitannya. Kami pun berlarian.
Senangnya hari ini. Hidupku begitu lengkap. Sahabat yang mencintaiku, rekan
kerja yang memanjakanku dan baik padaku, dan pacar yang perhatian padaku. Aku
merasa aku adalah orang yang paling beruntung di dunia.
Pk 20.00 wib
From
: Will
Aku
di depan kos-an kamu.
Aku
terkaget membaca sms yang baru kubaca. Will di depan kos-an ? apa dia menepati
janjinya untuk selalu mengunjungi aku disini? aku berlarian menuju lantai 1
karena kamar kos ku ada di lantai 2.
Ku
buka pintu dan akupun tidak bisa menahan kebahagiaan yang membuncah dalam
dadaku melihat seseorang berdiri disana. Aku pun memeluknya. Sudah lama sekali
tidak bertemu dengannya setelah kesibukannya yang begitu padat. Will pun masuk
ke dalam ruang tamu mengingat lelaki tidak boleh berkunjung kedalam kamar di
kos-an ini.
Debora,
teman sekamarku pun ikut turun. Kami bertiga mengobrol bersama. Namun tak lama
kemudian Debora masuk ke kamar karena mengantuk. Memang jam sudah menunjukan pk
10.00 malam, namun Will belum memutuskan untuk pulang padahal besok ia masuk
shift pagi. Aku ingin menyuruhnya pulang, namun aku masih belum puas
melihatnya. Sejam dua jam bagiku tak kan cukup untuk bersama Will. Kalau bisa, aku ingin ia bermalam disini.
Tapi tak bisa, karena kos-an ku melarangnya. Jam sudah menunjukan hampir pukul
jam setengah sebelas malam. Aku yang tertidur dipangkuannya memutuskan untuk
bangun.
“Will,
kamu harus pulang. Besok kamu kerja. Jam segini sudah gak ada bus way, sayang.”
Kataku memeluknya.
“Tadi
kamu tertidur,jadi aku gak mau bangunin kamu. Aku mau nunggu kamu bangun dulu.”
Jelasnya sambil mengelus rambutku.
“Maaf
ya, kamu gak apa apa pulang sendirian? Aku mau anterin kamu. Takut kamu
kenapa-kenapa.” Aku merajuk ingin mengantar Will pulang. Ini salahku yang
membuat Will pulang larut malam karena keegoisan ku yang masih ingin lama
dengannya.
“Gak
apa apa, Ta. Kamu udah ngantuk. Aku masih bisa naik angkot kok. Tenang aja
yank. Aku pulang dulu yah. Semoga kamu mimpi indah.” Will mencium keningku.
Aku
hanya bisa menatapnya pergi dari depan pintu. Aku kuatir karena malam semakin
larut. Tuhan, lindungi Will. Aku sayang padanya.
Chapter 12
18 Agustus 2010
Tak
terasa sudah sebulan lebih menjalani PKL disini. Sebulan long distance
sementara dengan Will. Dan ternyata aku mampu bertahan dengan Will. Will masih
setia padaku dan mudah-mudahan aku masih tetap ada untuknya.
Will
selalu menyempatkan waktunya untuk bertemu denganku. Dalam seminggu, Will
selalu mengunjungiku 4 kali bahkan lebih. Kadang saat akhir pekan dan di hari
off, dia menyempatkan menjemputku dan mengantarkanku kerumah untuk berkumpul
bersama keluargaku maupun kembali ke
kosan lagi. Will sangat sangat perhatian padaku. Ini yang membuatku tak
sedikitpun melirik cowok-cowok ditempatku PKL. Aku merasa memiliki Will
dihidupku sudah lebih dari cukup. Will tidak mebiarkan hatiku kosong dan diisi
oleh laki-laki lain.
Namun,
suatu hari aku dilanda gundah. Seorang kakak senior menyatakan perasaannya
padaku. Aku jadi tidak nyaman bekerja. Aku memang menolaknya. Dan agaknya dia
tidak menyukai keputusanku. Dia adalah kakak akrabku dan Debora. Namun
akhir-akhir ini dia lebih akrab pada Debora ketimbang denganku. Aku tahu apa
yang menjadi penyebabnya. Tapi aku tidak bisa menduakan Will yang begitu
sempurna untukku. Yang selalu menepati janjinya untukku. Yang setidaknya aku sudah
akui kesetiaannya padaku.
Hanya
Will yang peduli jadwal makanku. Dia yang selalu mengingatkanku untuk makan
pagi, siang, dan malam. Hanya Will yang benar-benar kuatir apabila aku jatuh
sakit dan kelelahan. Dan Will juga yang selalu memberikan solusi atas segala
masalah yang terjadi didalam hidupku. Boleh di bilang aku memang terlalu
bergantung padanya. Aku memang manja namun Will memang selalu mampu memenuhi
nya dan mampu memanjakanku sebagaimana yang aku mau. Itu yang membuatku merasa
bahwa aku tak perlu yang lain lagi, selama aku memiliki Will dalam hidupku.
21 Agustus 2010
Pk 16.00 wib
Aku
baru saja pulang dari tempat kerjaku. Hari ini melelahkan sekali rasanya. Kak
Kelik yang biasa menjadi partner kerjaku tidak masuk kerja karena pulang
kampung, jadinya aku membersihkan 16kamar hari ini sendirian.
Belum
lagi, tadi malam aku seperti kelelahan hingga masuk angin dan mual rasanya. Aku
pun mengeluhkan hal ini pada Will tadi malam. Semenjak nge-kos jadwal makanku
memang berantakan. Semuanya demi penghematan karena aku tidak mau menambah
beban mama lagi. Belum uang kos-an yang 300ribu perbulan, aku tidak mau meminta
uang jajan terlalu banyak lagi pada mama. Alhasil, aku kadang tidak makan
malam, dan harus sarapan biscuit setiap hari. Aku tidak menceritakan ini pada
Will, tentu saja. Pasti dia akan marah besar padaku kalau tahu aku terlihat
agak kurus sekali semenjak PKL. Lagipula aku
tak mau menambah beban Will lagi.
Will
memang tidak suka kalau aku kurus. Alasannya, itu akan mengurangi ketembem-an
pipiku. Maklum saja, dia memang suka mencubit pipiku. Dia lebih suka aku apa
adanya. Sempurna kan sifat pacarku ini? Apa pacarmu memiliki sifat sesempurna
Will, pangeranku? Apalagi aku tidak cantik. Beruntungkan aku?
Tok..tok..
Pintu
kos-an diketuk. Kakak kos-an yang menginap di bawah memanggilku yang sedang
tidur dikamar.
“Ta,
ada temanmu.” Kata kak Uci, penghuni kamar lantai bawah yang kebetulan membukakan pintu.
Aku
pun turun kebawah. Ada Will bberdiri disana. Dengan lemas aku tersenyum
padanya.
“Kok
lemes gitu? Gak suka yah aku datang kesini ?” tanya nya bercanda.
“Gak
lah, sayang. Aku lagi gak enak badan aja. Kamu tumben jam 4 sore begini udah
pulang PKL?”tanyaku sambil merangkul pinggangnya.
“Aku
kemarin ambil dua shift, biar hari ini bisa off dan ketemu kamu. Maaf ya
kemarin aku gak SMS kamu soalnya kemarin aku sibuk banget.”
“Gak
apa-apa kok. Hehe “ aku hanya menyengir. Bagaimana mungkin aku bisa marah pada
Will hanya karena ia tidak SMS aku hanya sehari sedangkan pengorbanan nyata dia
untukku lebih dari pada itu semua. Aku tidak mau egois.
“Kamu
bawa apa?” aku menanyakan bungkusan plastic hitam yang ia bawa.
“Ini,
ikan salmon, aku mau masak sup ikan salmon saus lemon untuk kamu. Salmon bagus
buat kesehatan, supaya kamu jangan sakit lagi .”
“Terima
kasih Wil, kamu perhatian banget,”
“Aku
cuman gak mau orang yang aku sayang kenapa-kenapa. Aku masak, kamu bantuin ya.”
Pintanya mencium keningku.
“Iyah,
sayang.”
Aku
pun membantunya di dappur kecil kos-an walau dengan peralatan seadanya.
Sesekali ia mencium pipiku tiba-tiba selama memasak. Aku jadi tersenyum malu
diberi perhatian seperti itu. Sempurna rasanya.
Chapter 13
01 September 2010
“Aku
mau berhenti sekolah, Ta.” Kata Will waktu ku telepon dia karena tiba-tiba dia
tak SMS ku selama seminggu ini.
“Kenapa?
Aku gak mau kamu berhenti, nanti aku sendirian di kelas. Kenapa, Will? Mungkin
aku bisa bantu? Cerita doong.” Paksaku kepada Will dengan sedihnya. Itu adalah
hal terburuk dari mulutnya yang pernah ku dengar.
“Papaku
sakit. Pengobatannya mahal. Keluarga aku sudah hutang sana sini untuk melunasi.
Kalau sampai semua tidak cukup, mau gak mau aku harus berhenti sekolah, Ta. Aku
juga mulai agak jarang nantinya SMS kamu karena aku lagi sibuk urus papaku dan
adikku yang kecil gak ada yang urus. Mamaku
juga bantuin ngurus papa. Maaf ya Ta”
“Tapi,
caranya tidak harus dengan berhenti sekolah kan? Please Will.” Aku hampir saja
menangis mendengar ini semua.
“Aku
pusing banget, Ta. Maaf banget ya, aku sedang tidak mood SMS dan telpon kamu
dulu. Gak apa apa kan?”
“Gak
apa apa Will kalau itu bisa sedikit meringankan beban kamu. Aku akan bantu kamu
apapun caranya.”
Telponnya
dimatikan. Betapa bodohnya aku ini. Pacar yang tiidak berguna. Selama ini aku
menutup mata akan kesusahan-kesusahan yang Will miliki. Aku merasa Will baik-baik
saja karena Will mampu memanjakanku, memennuhi semua kebutuhanku. Aku tidak
pernah membuka mata untuk memperdulikan Will seperti dia memperdulikanku.
Selama
ini dia selalu rutin mengunjungiku, memasakan makanan untukku, dan pulang larut
malam demi menemani aku. Dia selalu kuatir akan segala sakit, lapar, dan
masalahku. Walau aku tidak pernah cerita padanya, namun dia selalu menanyakan
keadaanku. Dia selalu ingin tahu tentang kabarku dan apa yang terjadi padaku.
Sekarang
mataku terbuka. Semua yang dia lakukan
padaku, tak sedikitpun aku membalaskannya. Bahkan saat Will memiliki masalah
yang berat, apa gunanya aku baginya? Selama ini aku bermanja padanya, tanpa
sedikitpun menyadari ada beban yang bergelantung dipundaknya. Aku tidak pernah
menanyakan kabarnya. Aku terlalu senang bermanja padanya karena ku pikir ia
juga tak ada masalah. Selama ini aku selalu menuntut ia agar peka terhadapku,
namun justru aku yang sama sekali tidak pernah peka terhadapnya.
Aku
menangis. Aku baru sadar ternyata banyak masalah yang Will gantungkan di pundaknya dan ia tak mau aku tahu. Yang ia
pentingkan hanya kesenanganku dan senyumku. Sementara aku, dengan egoisnya
selalu menuntut perhatian darinya tanpa mau tahu masalah yang ia miliki.
Bodohnya aku, tak pernah mau peka terhadap dia.
Aku
tak bisa tak menangis kalau mengingat dia yang masih sempatkan waktu untuk
berkunjung ke kos-an padahal dirumahnya sendiripun ada banyak masalah yang
masih harus ia selesaikan. Will masih sempatkan waktu untukku walau ia
sendiripun tak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri yang tersita untuk
mengurus keluarganya.
31 September 2010
Aku
kini terbiasa bila Will tak bisa sempat berkunjung ke kos-an. Aku maklum. Aku
harus mengerti keadaan Will. Bagiku, dia masih tetap sekolah adalah cukup untukku.
Aku tidak sanggup kalau tidak melihat wajahnya di pagi hari. Ini serius loh.
Wajah ngantuknya adalah hal yang paling ku tunggu setiap hari. Ini juga benar
serius loh, wajah Will itu lucu sekali saat masuk kelas dengan
terkantuk-kantuk. Aku jadi ingin cepat-cepat masuk sekolah lagi.
Saat
ini saja Will belum sempat SMS aku. Aku baru benar merasa kesepian. Tapi aku
yakin Will pasti merasakan kesepian yang aku rasakan ditengah kesibukannya.
Tidak
terasa waktu PKL ku tinggal 2 minggu lagi. Aku dan Debora sedih sekali karena
kami sudah terlanjur sayang sama kakak-kakak senior disini. Karena aku bingung
harus melakukan apa dikala Will tak SMS,
aku dan Debora bernarsis-narsis ria dengan kakak-kakak disini sebagai kenang-kenangan.
Cukup banyak juga foto yang kami ambil. Lucu-lucu sekali ekspresinya. Jadi gak
kebayang kalau sudah tidak PKL lagi disini. Disisi lain, aku senang sekali
karena terbebas dari pekerjaan pelayan alian jongos itu. Tapi tak sanggup
melewati kenangannya.
15 Oktober 2010
Ini
hari terakhirku bekerja. Aku bangun pagi sekali dan bekerja satu jam sebelum
waktu nya. Aku ingin menunjukan keseriusanku di hari terakhirku. Kalau Will
seharusnya sudah selesai dari tanggal 7 kemarin, namun hotel memaksanya untuk
stay karena keahliannya masih dibutuhkan. Mungkin kira-kira PKL kami akan
selesai bersamaan.
Seluruh
kamar ku bersihkan dengan sepenuh hati. Seteliti mungkin. Aku pun menikmati
waktu terakhirku dengan kakak-kakak disini. Kebetulan kami diundang untuk buka
puasa bersama malam ini sekalian merayakan
selesainya masa PKL kami disini. Rasanya bangga di hargai kerja keras kami
disini. Seluruh kehangatan dan ilmu yang kami dapatkan disini tak akan kami
lupakan.
Aku
merasa sedih mengakhiri kegiatan yang sudah seperti rutinitasku selama ini.
Satpam komplek yang biasa kami sapa saat kami berangkat kerja, sarapan pagi
dari kak Kelik, makanan ringan yang kami dapatkan seusai bekerja yang lumayan
untuk makan malamku, dan suasana kkerja yang nyaman.
Dari
sudut mataku sebenarnya aku menangkap sosok mata itu sedang memperhatikanku
dari kejauhan. Ya, kak Wahyu. Dia kakak senior yang pernah menyatakan cinta
padaku. Aku tahu tapi aku mengacuhkan pandangan itu. Namun tiba-tiba dia
menghampiriku.
“Ta,
ini kenangan buat lo. Tolong jangan dibuang ya. Terimakasih telah mengisi hari
hari gue selama 3 bulan ini. Udah jadi penyemangat gue dalam bekerja walau lo
Cuma anggep gue sebagai kakak.” Kata kak Wahyu dengan penuh kesungguhan
menyerahkan file berisikan lukisan kertas bergambar diriku. Aku baru sadar dia
begitu memperhatikanku sampai apapun yang aku lakukan dilukiskannya dalam
sebuah gambar.
“Terimakasih
ya kak.” Kataku singkat. Aku pun kembali bercanda dengan Debora. Ada rasa tidak
enak hati pada kak Wahyu sebenarnya. Namun aku menepis semua itu. Aku mau tetap
setia pada Will.
Chapter
14
16 Oktober 2010
Pk 09.00 wib
Hari
ini aku bangun agak siang. Sengaja, karena siang ini aku akan pulang kerumahku
yang di Bekasi. Rencananya, Will akan menjemputku hari ini, namun ia tidak
janji karena ada urusan dengan mamanya. Akhirnya aku memutuskan untuk numpang
mobil Debora saja. nanti aku akan lanjutkan dengan naik angkot sendiri kerumah.
Aku
memandangi kamar kos-an ku untuk beberapa menit. Walau kecil kayak pos satpam,
tapi trimakasih ya sudah menjadi tempatku berlindung dari hujan dan terik
selama 3 bulan ini. Perlahan aku menuju kamar mandi kos-an. Aku pandangi juga.
Walau harus gantian dan rebutan kamar mandi, trimakasih ya sudah bisa menjadi tempatku
membasuh air mata dan membasuh tubuh selama 3 bulan ini. Untuk dapur dan ruang
tamu, makasih ya. Sudah banyak kenagan terukir disana sewaktu Will datang
berkunjung.
Matahari
menerobos jendela ventilasi kamarku. Jam menunjukan pk 09.00wib. namun aku
belum beranjak untuk mandi. Aku melihat Debora terdiam disampingku. Aku tahu
dia juga merasakan kesedihan yang sama seperti yang kurasakan. Perpisahan. Tapi
memang kan, bila ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Aku pun menguatkan
diriku. SMS di handphoneku membuyarkan semuanya.
From : Will
Pulang jam berapa?
To :Will
Jam 2 siang sama mobilnya Debora.
From : Will
Mau ku jemput kalau sudah sampai rumah
Debora?
To : Will
Terserah kamu, sesempatnya kamu. Kalau tidak
bisa jangan dipaksa Will.
From: Will
Kalau sudah hampir sampai rumah Debora, kasi
tau aku ya. Aku mau jemput. Miss u :*
To : Will
Iyah . :*
“Deb,
gue ntar bareng mobil lo ya. Gak apa apa kan?” tanyaku membuyarkan lamunan
Debora.
“Gak
apa apa Ta, gue seneng kok. Mandi yuk.” Ajak Debora padaku sambil tersenyum.
“Deb,
jangan sedih ya, nanti kapan-kapan kita main aja lagi kesini. Okeh? Udah dong
sedih-sedihnya !”
“Tau
aja lu ah gue lagi sedih.”ledeknya sambil melemparkan bantal ke arahku.
Pk 17.00 wib
to
: Will
aku
udah sampai rumahnya Debora nih. Kamu dimana?
Aku
menunggu Will didalam rumah Debora sambil berbincang-bincang dengan mamanya.
Namun tak lama kemudian Will datang.
“Ta,
tuh Willl udah datang.” Kata Debora memotong pembicaraanku dengan mamanya.
“ok,
tante, om, Debora, semuanya. Saya pamit dulu yah. Makasi tumpangannya.” Kataku
sebelum pulang sambil menggotong bantal gguling dan tas-tasku dengan susah
payahnya.
“Iya,
nak.. hati-hati ya.” kata mamam Debora menasihatiku.
“Sip,
tante.”
Dari
luar Nampak Will kaget dengan barang bawaanku. Aku tersenyum melihat dia
memandang heran jemuran yang ku selipkan diantara sarung bantalku.
“Ga usah heran gitu Will. Aku hanya sedikit kreatif.”
Candaku
“Bukan,
bukan jemuranmu maksudnya. Tapi sarung bantal kamu itu loh jorok banget, dekil
ih.” Serunya
“Ya
abisnya aku gak ada waktu buat nyuci. Wangi kok, wangi iler. Mau ?” ledekku
“Ihhh..
gak mau, haha” Will menghindari bantal bersarung winni the pooh yang ku
dekatkan di pipinya.
“Mesra
banget sih, cepet pulang woiiii.” Teriak Debora dari pintu pagar mengagetkan
kami berdua.
“Cie
yang sirikkkk.” Ledekku pada Debora lalu melaju kencang. Sekilas aku mendengar
Debora mengomel, “Kampret nih ! awas ya !!”
Motor
Will pun melaju dengan cepatnya. Hebatkan pacarku ini? Selalu ada untukku
bahkan menyambut kepulanganku. Aku pun kembali memeluknya. Hal yang jarang aku
lakukan lagi selama 3bulan ini. Kali ini aku memeluknya erat. 3bulan dia sudah
membuatku percaya bahwa cintanya memang hanya untukku. Dan rintik hujan yang
turun pun mengakuinya.
Yang
pasti, selamat datang suasana kelasku yang ku rindu. Selamat datang semuanya !
Chapter 15
26 November 2010
Hubungan kami baik-baik saja. Kadang aku
bingung, tidak ada hal yang ingin kuperdebatkan. Will selalu menyetujui apa
yang menjadi pikiranku dan keinginanku. Sehingga, aku pun segan untuk meminta
hal yang akan menyulitkan Will nantinya. Will jarang mempermasalahkan perilaku
ku, pakaianku, sifatku, cara makanku, dan semuanya. Aku senang karena Will
bukan tipe cowok yang banyak protes, tapi sifatnya inilah yang kadang membuatku
bingung.
Dia tak pernah membalas marahku, dia
selalu tersenyum saat aku melampiaskan kekesalanku padanya. Dia juga tak pernah
membalas kata-kata kasarku saat aku sedang emosi. Dia tahu bagaimana caranya
memadamkan amarahku, dia tahu bagaimana menyejukkan hatiku yang panas. Dia tahu
bagaimana cara membuat aku tersenyum lagi. Aku bersyukur bisa dimanja Will bak
putri raja.
Disisi lain, sebenarnya aku berpikir.
Sampai kapan Will masih akan bertahan denganku. Aku mau merubah semua sifat
burukku, namun sulit rasanya. Aku jugatak mau terus-terusan melampiaskan semua
pada Will. Aku juga berpikir, sampai kapan cinta Will masih untukku.
Aku mencintainya. Semenjak semua ia
buktikan dengan selalu ada untukku diwaktu aku harus menge-kos. Diwaktu saat
dia buktikan padaku dengan tetap menjemputku meski hujan lebat. Disaat dia
masih meluangkan waktuku walau dia juga memiliki banyak masalah. Banyak hal yang
telah dia buktikan padaku.
Aku semakin takut bila hari itu datang.
Hari dimana perpisahan harus terjadi entah karena apa. Apa Will menakutkan hal
yang sama? Apa dia tahu bahwa semua akan berakhir juga? Apa ini yang
menyebabkan dia tidak pernah mau mencari masalah denganku dan selalu mengalah
untukku?
Kita tak akan tahu apayang terjadi dimasa
yang akan datang kan? Meski kami jarang bermasalah selama pacaran, tapi entah
mengapa aku takut. Takut tak bisa melihat wajah ngantuknya lagi setiap pagi.
Takut tak bisa mendekapnya lagi. Takut tak bisa melihat tatapan matanya yang
meluluhkan itu. Will, harus berapa kali aku mengutarakan bahwa aku sungguh
mencintai mu?
Senior High School- When The Troubles
came
Chapter 15
02 Januari 2011
Tahun
baru ini, hubungan kami berakhir. Aku hancur. Tahun baru baru berjalan 2 hari,
namun aku harus memulainya dengan hancur. Sebenarnya dia sudah memutuskan
hubungan ini sejak Desember. Aku tidak tahu mengapa alasannya. Tapi aku memang
sudah merasakan dari sejak awal November dia mulai menjauhiku.
Aku
merasakannya. Ya, jelas. Setiap jam istirahat dia selalu menghilang entah
kemana. Namun setiap kutanya alasannya, dia selalu bilang bahwa dia ke kelas
koko nya atau sedang ada di lab computer. Setiap pulang sekolah dia selalu
pulang duluan. Alasannya terburu-buru harus menjemput adiknya. Ada yang
membuatku ganjil disana. Ada yang disembunyikan dan aku tak tahu mengapa.
Terakhir
kali kami SMS adalah di malam tahun baru kemarin. Aku bahkan tahu ada hal yang
sedang menjadi pertanyaan dalam hatiku. Namun aku tak mau asal menuduh tanpa alasan
yang jelas. Tapi aku tahu. Tapi aku seolah tak ada kekuatan lagi.
Ku
pandang celengan ungu berbentuk rumah dengan selembar surat dalam amplop yang
masih dibungkus rapi dengan kadonya. Itu adalah kado ulang tahun terakhir dari
Will untukku sebelum kami memutuskan untuk menyudahi segalanya. Oh ya, Bukan kami. Tapi dia.
Aku
tahu apa yang Will lakukan di belakangku. Aku tahu apa yang Will sembunyikan
dariku. Ceritanya, aku tak sengaja membaca SMS dari Vita, anak perhotelan yang
beda kelas denganku. Aku tahu semua isi SMS itu karena ku baca satu persatu
dengan sadar. Ya, memang kebiasaan Will adalah, tidak pernah menghapus isi SMS
dalam hp nya walau sudah seminggu bahkan sebulan yang lalu. Vita memang manis.
Lebih cantik dariku. Badannya mungil dan tutur katanya sopan. Dia pendiam dan
aku juga tidak terlalu akrab dengannya karena kami beda kelas.
Aku
tahu Vita menyukai Will sejak lama. Lebih tepatnya saat mereka PKL di hotel
yang sama. 3bulan adalah waktu yang cukup untuk menabur benih cinta, kan? Maka
tak heran apabila saat kami putus, dia mengungkapkan semua yang dia rasakan
pada Will. Ya Vita ’menembak’ Will. Will tdk menolak ataupun mengiyakan. Ya,
aku tahu semuanya. Aku tahu. Dan itu menyakitkan.
Aku
memang tidak tahu dari mulut Will sendiri. Aku jelas tahu dari orang lain. Aku
pun tahu saat menjelang malam tahun baru, Will memberikan sepasang hamster
beserta kandang dan peralatannya lengkap untuk Vita. Hal yang sama saat dia
memberikan aku sepasang kelinci. Dan aku pun tahu mereka sempat nonton bersama. Aku jujur tidak ada hak untuk marah saat ini.
Hubungan kami telah berakhir. Tapi aku kecewa, semua berakhir tanpa ku tahu apa
penyebab aku di putuskan seperti ini. Dan fakta yang aku tahu adalah tentang
Vita yang menyukai Will. Aku sangat yakin, Will bukan cowok playboy. Dia tak
mungkin memutuskanku karena dia menyukai Vita juga. Aku yakin, bukan karena
itu.
17 Januari 2011
Aku
sekarang tahu apa yang menjadi rahasia Will memutuskan aku. Dari sahabat SMP
ku. Shenni namanya. Okey, biar kujelaskan mengapa Will sampai akrab dengan
Shenni.
Sewaktu
sedang membelikan kado untuk ulang tahunkuyang ke 15 tahun lalu, dia memang
sempat SMS-an dengan Shenni. Sebagai sahabatku dari SMP, dia pasti tahu apa
yang aku suka. Karena Shenni lah, akhirnya Will tahu bahwa aku sangat menyukai
kelinci. Sehingga dia membelikanku kado boneka kelinci waktu itu. Aku tidak
menyadari keakraban mereka akan berlanjut sampai sekarang. Bahkan Shenni tahu
alasan mengapa Will memutuskanku yang aku sendiri tidak tahu mengapa.
Aku
sempat cemburu mengingat Will pernah kerumah Shenni tapi tidak sekalian kerumah
ku yang jaraknya tidak jauh. Dia juga sempat bilang dulu bahwa Shenni itu
cantik dan dia suka walau cintanya hanya untukku. Dulu aku percaya, tapi tidak
untuk sekarang. Melihat keakraban yang terjadi diantara mereka, aku menjadi
berpikiran negative terhadap sahabat SMP ku ini.
Sebelum
aku dan Shenni akhirnya bertengkar karena aku tak suka dengan keakrabannya
lewat sms kepada Will, aku tahu bahwa Will curhat kepada Shenni kalau mamanya
tidak menyukai hubungan kami karena perbedaan suku antara aku dan Will.
Mama
Will melarang Will untuk terlalu akrab denganku dan harus mulai menjauhiku. Aku
memang sudah tak kaget dengan penolakan mama Will terhadapku walau sebenarnya
aku tak tahu alasannya. Tapi mama Will
memang pernah mengirim pesan kepadaku untuk menjauhi Will dan berteman saja.
Ya,
perbedaan suku. Aku pribumi dan dia Chinnese. Tak dapat menyatu. Itu yang baru
aku tahu.
31 Januari 2011
Sekarang
aku tahu mengapa Will tidak mau cerita kepadaku tentang alasan dia menjauhiku.
Dia tidak mau aku tersinggung. Dia takut aku sedih kalau tahu mamanya menentang
hubungan ini.
Dia
juga menjelaskan awal pertama hubungannya dengan Vita yang begitu akrab. Dia
memang menyukai Vita. Dia mengakui bahwa ia sempat menonton bersama Vita. Ia
juga mengakui semuanya bahwa Vita sempat menembaknya. Semua hal yang telat
untuk dijelaskan karena aku tahu dengan sendirinya. Ia menyadari rasanya pada
Vita karena seringnya pertemuan antara mereka sejak PKL. Namun, kalau bukan
karena mamanya yang terus memaksa dia
untuk menjauhiku, rasa sukanya pada Vita tak akan muncul. Tapi sulit bagiku
untuk mempercayai dia sepenuh hati.
Dia
mengajakku untuk kembali. Aku tidak bisa karena aku tahu beban yang akan dia
alami nantinya. Aku tak mau dia tertekan karena mencintaiku. Tapi dia
meyakinkanku bahwa mamanya pasti berubah seiring berjalannya waktu. Dia pun
mengajakku balikan. Jujur, aku masih menginginkannya. Tak peduli apa yang
terjadi esok. Hari ini aku berharap semuanya kembali seperti sedia kala. Dan
mamanya mau merubah pendiriannya.
Dan
semuanya kembali. Aku menyusun kembali kepingan hatiku yang sudah berserakan
hancur. Walau tak seutuh dulu, aku ingin harapan itu menjadi nyata. Aku sudah
mengorbankan segalanya, termasuk persahabatanku dengan Shenni yang kini hancur.
Kami tak seakrab dulu. Bahkan sudah mulai lost contact dan tak pernah saling sapa. Tapi aku tak peduli. Aku
masih memiliki Will. Aku rela korbankan itu semua. Yah , kadang cemburu buta
memang bisa menghancurkan persahabatan.
Chapter 16
14 Febuari 2011
Aku menantikan hari ini. Tour Jawa-Bali
angkatan 2009. Yup. Kami akan berkeliling Jawa Bali selama 8 hari. Aku pun
mencari cari bus ku. Aku duduk bertiga dengan Aryana dan Funa, teman dekatku
selama disekolah. Sebenarnya aku mau duduk dengan Debora, teman dekatku selama
kita nge-kos bareng. Tapi, kedua teman dekatku ini tak menyukai sifat Debora.
Alhasil, aku harus membuat Debora kecewa karena dia berharap untuk tetap bisa
duduk denganku. Sementara teman dekatku yang lainnya, Rezi, dan Will, pacarku
ada di bus lain.
Selama di bus, aku lebih banyak diam dan
SMS-an dengan Will. Aku paling tidak bisa pecicilan didalam bus karena hal itu
akan membuatku mual. Hal yang paling bisa membuatku antusias adalah melihat bus
Will berdampingan dengan bus ku lalu aku melihat wajahnya dibalik jendela.
Atau, saat bus kami rehat sebentar di pom bensin dan Will menemuiku sambil
menanyakan keadaanku.
Perjalanan untuk sampai ke Bali dengan bus
yang kami tempuh adalah 2 hari. Selama itulah aku harus duduk di dalam bus.
Bosan rasanya. Aku hanya sempat menghirup udara saat bus kami sampai di dek
kapal untuk menyebrang. Alhasil aku cukup puas melihat lautan membentang dari
atas kapal.
Saat aku berusaha menikmati hembusan angin
laut yang begitu kencang dari sisi kapal, Will berdiri disampingku secara
tiba-tiba.
“Enak yah Ta, adem udaranya,” Kata Will
“Iya. Hehe.” Kataku sambil tersenyum
sambil terus memandang pemandangan sekitar laut.
“Kamu pucat.” Katanya lagi memperhatikan
wajahku lekat-lekat.
“Ah masa sih.” Sergahku cepat.
“Kamu udah makan? Mau aku beliin pop
mie?” tanya Will menawarkan.
“Gak usah Will, makanan nya mahal disini.
Aku gak apa apa. Ini pucat karena di bus seharian. Mual aku jadinya. Hehe”
“Aku ambilin obat masuk angin aja yah, nanti kamu tambah
sakit.” Desak Will kuatir.
“Gak apa kok Wil, udah ah. Bagus yah Will
pemandangannya. Udaranya juga enak, Will.” Kataku menatap bentangan laut yang
tidak begitu biru namun menyejukkan.
“Kamu sih baru pertama kali naik kapal ya
? hahah” katanya meledekku.
“Iyah sih, aku gak pernah naik kapal.
Pulang kampung naik bus. Emang dulu kamu sering?”
“Waktu kecil sih, sering. Kan kampung mama
papaku di Pontianak. Jadi kalau mau pulang kampung naik kapal dulu.” Jelasnya
membelai pipiku.
“Kalau sekarang?”
“Gak pernah. Udah gak ada saudara lagi
disana. Tapi setidaknya aku pernah naik kapal, weee..”lidahnya menjulur padaku,
ku sambut dengan cubitan dipinggangnya. Dia meng-aduh manja padaku.
“Sakit..sakit..sakit Ta ! udah doooong.”
Rengek Will padaku.
Aku pun hanya menyengir kuda melihatnya meminta ampun
padaku.
16 Febuari 2011
Pk 21.00 wib
Akhirnya rombongan tur kami sampai juga di
Bali. Lelah menghantui malam kami. Will menungguku turun dari bus. Aku
mengacuhkannya. Aku memang masih mencintainya, namun perasaanku tidak total
100% lagi seperti dulu. Aku tahu masalah dari hubungan kami cukup berat karena
sudah menyangkut penolakan dari pihak keluarga. Oleh karenanya, aku menghindari
dirinya. Ku bawa koper besarku dengan penuh susah payah tanpa bantuan Will
lagi. Kalau saja hubungan kami masih ‘semudah’ dulu, aku yakin pasti Will
memaksaku untuk membawakan koper besarku.
Aku mengikuti Funa dan Aryana ke kamar
penginapan kami. Kami memang ditempatkan sekamar. Tak sabar aku merebahkan diri
ku yang lelah ini. Will berusaha berjalan seiringan denganku. Mengantarkanku ke
kamar dahulu setelahnya ia menuju kamarnya sendiri.
Aku menutup pintu kamarku. Ingin kubasuh
diriku ke air. Jernih. Ya, agar pikiranku jernih. Ku jatuhkan tubuhku ke atas spring bed empuk yang cukup menampung
dua orang. Aku merasa ada yang janggal setelah kami kembali balikan. Aku merasa
kini Will lebih hati-hati dan tidak se-protektif dahulu. Dia mulai membiarkanku
bebas, walau masih sedikit membiarkanku. Perhatian yang dia berikan padaku pun
terasa kaku dimataku. Tak seromantis dulu. Aku tahu dia terlalu memaksakan
hubungan ini karena dia tahu bahwa aku teralalu berharap padanya.
Aku pusing dengan semuanya. Kantukku tak
dapat ditahan lagi. Ku abaikan handphoneku yang biasanya selalu ku dekap untuk
tetap terjaga saat Will menghubungiku. Tidak untuk malam ini. aku membiarkan
handphoneku didalam tas. Tak lagi menantikan ucapan selamat tidur itu.
17 Februari 2011
Pk 07.00 wib
Tak sadar sudah pagi. Aku merasa baru
sekejap menutup mata. Belum puas rasanya, aku pun kembali memeluk guling. Funa
dan Aryana pun masih terlelap karena setahuku, mereka tidur lebih malam
daripada aku. Aku melihat handphoneku sejenak. Tidak ada sms masuk. Oh, begitu
rupanya, kuletakkan kembali handphone ku di tas.
Tok..tok..tok..
Sekilas ku dengar seseorang mengetuk pintu
kamarku. Terlalu malas untuk membuka pintu,ku biarkan saja pintu itu terus
diketuk. Samar-samar kulihat Funa membuka pintu. Seseorang berdebat disana.
“Hei, kalian belum mandi? Mau sarapan loh
bentar lagi.” Kata suara yang ku kenali itu. Will. Ya pasti Will
“Ah bodo ah, masih ngantuk gue. Ngapain
sih lo kesini?” ku dengar Funa sewot sekali dibangunkan dari tidur nyenyaknya.
“Bangunin kalian. Yaudah see u.” Lalu tak
kudengar lagi Funa menggerutu.
Aku bangun. Berusaha membuka mata. Aku
kecewa. Will tak sedikitpun beralasan untuk bertemu denganku. Ku pikir dia
kekamarku untuk membangunkanku atau sekedar menengokku. Ku bangunkan Aryana dan
Funa yang sama-sama enggan untuk bangun. Akhirnya mereka pun ku tinggal mandi.
Pk 09.00 wib
Aku terduduk di bangku bus ku. Aku melanjutkan
tidurku yang kurasa belum cukup. Sebal rasanya mengingat tadi saat makan pagi,
semua orang termasuk Will mempermasalahkan eyeliner ku. Aku memang jarang
berdandan, tapi memangnya kenapa sih kalau sesekali aku ingin terlihat berbeda?
Apa image baik, pintar, dan apa adanya sudah begitu melekat padaku sehingga
saat aku ingin nakal sedikit saja, semuanya terasa aneh ya?! Memakai eyeliner
kan bukan berarti aku nakal.
Funa dan Aryana ikut membelaku. Mereka bilang, semua hanya sirik
saja padaku karena tidak biasanya aku berdandan begini. Hebatnya, Will ikut
memprotes ku. Dia yang paling kecewa melihatku berdandan diluar kebiasaanku
ini. Katanya aku tidak pantas berdandan nakal seperti itu.
Setelah itu, Will juga memprotes porsi
makan pagiku yang dinilainya terlalu sedikit. Dia tak setuju bila aku diet
begitu ketatnya. Aku sudah mengelak bahwa aku tidak diet. Tapi aku mual jika
makan terlalu banyak. Aku sedang sakit perut, namun dia tetap memaksaku untuk
makan banyak.
Aku
pun hanya duduk terdiam di bangku bus ku. Sesekali aku mendendangkan lagu yang
anak-anak lainnya sedang nyanyikan
atau mendengarkan ‘bli’, orang Bali yang kali ini menjadi tour guide bus kami.
Kalau lagunya ku ketahui, ya aku ikut bernyanyi. Apabila tidak, aku hanya
menyandarkan kepala ku disisi kaca jendela sambil memejamkan mataku.
Ah.
Hari ini aku sungguh kesal.
Chapter 17
Hari terakhir di Bali, menuju Jogja
Pk 09.00 wib
Aku
sudah mengepak-ngepak barangku. Tidak terlalu banyak yang harus kubereskan
mengingat aku ini adalah orang yang rapi dan cukup simple. Aku masih sedih,
hape nokia 6600 yang dibelikan mama papaku harus wafat di laut kuta Bali.
Kemarin, kami berkesempatan bermain di pantai kuta Bali. Saat sedang berjalan
di bibir laut sambil beradu lari dengan ombak yang akan membuat bajuku basah,
teman sekelasku dengan menyebalkannya menyeretku dan melemparkanku ke laut. Aku
teringat hape nokia 6600 masih ada disaku celanaku. Dengan sebalnya langsung ku
maki –maki si Andrian, temanku yang menyeretku itu.
Kini
hape itu kusimpan benar-benar. Hanya tinggal tulang saja. layarnya kini tak
lagi hidup. Hapeku sudah seperti ikan asin rasanya. Bukan hanya itu, bahkan
simcard nya pun harus ikut wafat. Ahh.. sebal sekali. Dan bukan hanya itu, karena sudah terlanjur basah
kuyup, mau tak mau, ku lanjutkan saja bermain di lautan yang katanya paling
indah didunia ini . Aku, Rezi, Aryana, Funa, serta Will berlarian menyongsong
air, tak peduli baju kami yang basah. Kami sampai lupa bahwa kami lupa membawa
baju ganti. Akhirnya, kami semua pun membeli baju yang dijual oleh banyak
pedagang dipinggiran Pantai Kuta. Will membelikan baju untukku karena aku
benar-benar sudah kehabisan uang. Dia yang memilihkan baju itu untukku. Satu
hal yang benar-benar kulupakan. Pakaian dalamku basah semua. Dan akhirnya mau
tak mau, untuk pertama kalinya aku berpakaian tanpa menggunakan pakaian dalam,
begitupun yang ku tahu bahwa yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Sungguh
lucu.
Aku
ingin segera meninggalkan Bali. Pulau yang indah, namun hatiku sedang tidak
disini untuk menikmatinya. Semua terasahambar karena seseorang terkadang yang terlihat asyik sendiri
selama tur ini. Beberapa waktu,mataku memang tak pernah beralih untuk
mengawasinya selama kami berwisata. Apalagi Vita juga ada dirombongan tur ini.
Aku tak mau mereka bernostalgia dan menganggapku sebagai salah satu dari ukiran
patung Bali yang tak bergerak. Aku tahu bahwa Vita pun masih mengharapkan Will
Sebenarnya
aku malas sekali membahas ini. Will benar-benar membuatku mati rasa. Hampir,
maksudku.
Chapter 18
19 Feb 2011
Pk 12.00 wib
Di Poh Sarang, Blitar.
Hari
keempat di tur kami. Wisata menuju Goa Maria di Poh Sarang. Disanalah aku
menyempatkan diri untuk berdoa. Hanya 3 permintaan yang kupanjatkan. Kesehatan
orang tua, kesuksesan untuk diriku, dan kelancaran dari hubunganku. Aku dan
Will sudah berpacaran 1tahun lebih, maka dari itu, aku tak mau semua berakhir
sia-sia. 3 permintaan itu sudah cukup bagiku. Aku tak mau yang lain.
Aku
menyempatkan diri untuk membasuh wajahku dengan air suci yang mengalir di Gua
itu. Rasanya sejuk dan kuharap penuh mujizat. Memang tak bisa mengandalkan
mujizat yang datangnya dari air, karena sesungguhnya mujizat itu datangnya dari
Tuhan. Aku tahu sekali akan hal itu, tapi keinginanku untuk mendapatkan mujizat
membuatku meremehkan hal yang sudah kutahu sejak lama itu. Aku ingin benar-benar berpacaran layaknya temanku
yang lain. Dimana saat pacarku sakit, aku bisa berkunjung kesana tanpa takut
dengan makian mamanya dan pandangan sinis mamanya terhadapku.
Aku mengharapkan mujizat itu ya Tuhan.
Sepintas, mataku mulai mencari sosok Will. Will tidak berdoa. Tapi dia
ikut menemaniku mengambil air yang terus mengalir dari gua. Apakah tak ada doa
yang dia panjatkan untuk hubungan kita?
Pk 19.00 wib
Rombongan akhirnya tiba disebuah Cottage
di kawasan Jogja. Hari sudah gelap, namun aku harus menguatkan diriku untuk
mencari cottage kelompok kami yang jaraknya sanagt berjauhan. Sambil menenteng
koper yang sangat berat, akhirnya kami mau tak mau harus mencari sendiri kamar
kami. Aku, Funa, dan Aryana kembali sekamar ditambah Debora yang memang
menambah jumlah muatan kamar kami.
Aku menemukan kamarku. Kamar kami ada di
pojok dari 3 deret cottage yang semuanya
adalah kosong. Belum lagi ditambah dengan pepohonan rimbun yang
mengelilinginya. Sebenarnya kelompok kami merasa tidak adil, mengingat kelompok
yang lain mendapat kamar yang lebih baik dari pihak hotel.
Ya, AC kamar kami bocor, ditambah WC yang
tidak layak untuk dipakai karena terlihat jorok dimataku. Sebagai ketua
kelompok kami, Funa pun yang bertugas mengadukan masalah ini, dan kami menuntut
ganti kamar. Mataku sudah 10 watt, namun aku belum bisa merebahkan diriku di
kasur yang empuk.
Setengah jam kemudian saat aku termenung
diatas koperku, guru ku datang menggiring kami ke kamar yang lain. Kami pun
menuju cottage kami yang baru, yang kuharap lebih layak dan lebih bersih. Dan
ternyata memang benar. Aku sangat menyukai lokasi cottage kami yang baru ini.
Betapa tidak ? Cottage ku bersebelahan dengan cottage Will. Dan setelah ku
mengamati, meja televisi yang ku geser ternyata tersebunyi connecting door yang
tidak dikunci. Funa menemukannya secara
tidak sengaja saat kunciran rambutnya jatuh disela-sela belakang televisi.
Aku menjadi tidak mengantuk. Tanpa
sepengetahuan guru, kami membuka connecting door itu. Malam indahku dimulai.
Kami menonton sinetron bersama-sama sampai tengah malam. Funa dan Aryana
menemaniku hingga akhirnya mereka tidur. Rezi pun tertidur dikamarnya. Hanya
ada aku, Will, dan televisi yang menyala. Kesunyian melanda. Namun aku belum
mau tertidur. Rasanya sulit berpisah dengan Will. Akal sehat ku pun dikalahkan
nafsu yang memuncaki pikiran Will. Gelap. Aku tak dapat menolak hasrat yang tak
bisa lagi kutahan. Dan semuanya terjadi.
20 Feb 11
Kunjungan rombongan tur kali ini adalah
menuju Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Yah, aku belum pernah melihat
seperti apa bedanya kedua candi itu. Bus pun melaju dengan santainya. Seperti
biasa, aku lebih memilih tidak banyak bicara di bus dan lebih asik
mendendangkan lagu yang aku suka. Aku tidak SMS-an dengan Will karena
handphonenya kehabisan baterai.
Saat bus terpakir dipintu halaman candi
Prambanan, aku dengan malasnya keluar karena cuaca nya yang sanngat panas.
Terik sekali. Mengingat aku sedang masa pemutihan kulit, aku enggan keluar dari
bus. Namun rasa penasaranku akan candi Prambanan menyeret kakiku juga untuk
kesana. Kupakai jaketku dan kututup wajahku dengan tas ketika matahari
menyengat dengan ganasnya.
Aku mencari sosok Will diantara rombongan
bis yang baru saja sampai. Teringat aku akan peristiwa tadi malam. Aku meragu,
janji yang ia ucapkan akan ia tepati. Tapi memang dasar setan jenis apa yang
membuatku mau melakukan hal itu tadi malam. Ada sedikit penyesalan dalam diriku.
Padahal aku tahu, hubungan kami memiliki rintangan yang berat dan belum tentu
setelah peristiwa ‘itu’, Will akan mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Ah sudahlah, panasnya terik ini yang
hampir pk 11 siang sangat menggangguku yang sedang memikirkan ini. Aku berjalan
menuju Candi Prambanan yang ternyata masih jauh sekali dari halamannya. Will
terlihat diam saja hari ini ketika ku rangkul dan ku sapa. Tapi entah mengapa
aku acuh dan anggap itu hal sepele yang tak akan merusak hariku yang ingin
menikmati hari ini. Aku bisa saja ‘ngambek’ sebenarnya namun aku sungguh malas
sekali memulai pertengkaran setelah malam kemarin kami baru saja mengalami
peristiwa yang bagi akal sehatku menjijikan itu. Ternyata memang benar apa yang
dikatakan orang, masa SMA terutama saat kelas pertengahan adalah masa yang
rawan sekali bagi yang berpacaran. Aku mengalaminya. Dan akal sehatku selalu
kalah melawannya.
Pk 13.00 wib
Next destination, Candi Prambanan. Kali
ini tour guide yang memandu kami adalah sesama anggota rombongan yang
berjurusan Travel. Aku kembali diam di bus sementara Aryana dan Funa sibuk
mondar mandir sana sini tidak jelas juntrungannya. Sesekali aku melihat mereka
yang sedang pedekate dan jadian selama Tur ini. Ternyata banyak juga yang cinta
lokasi dan akhirnya jadian. Aku menggelengkan kepalaku saat timbul hasrat
melakukan hal yang sama. Tidak. Tidak. Will sudah cukup.
Aku memejamkan mataku. Kututup gorden
jendelaku karena panas terik yang sangat silau. Semakin siang semakin panas
rasanya. Aku sudah membandingkan kulit ditangan kanan dan kiri yang makin
menghitam saja rasanya. Ah, sial. Pasti sulit untuk mengembalikan kulit ke
warna semula bila sudah keling begini. Makin santer saja hinaan mama Will
tentang diriku yang makin terlihat pribumi ini jika melihat warna kulitku
sekarang.
Begitu tiba, aku takjub akan kemegahan
Candi Borobudur. Halamannya lebih luas dan cukup lelah untuk mengelilingi
apalagi sampai pada puncaknya. Aku sudah mulai enggan terlalu berlama-lama
bermandikan terik. Tapi Will penasaran sekali. Ia meninggalkanku dengan Funa
dan Aryana. Entah dengan siapa saat ini, yang aku tahu dia ingin mencapai
puncak borobudur. Ah sudahlah, aku memilih berteduh di dalam Candi. Mencoba
bergabung dan muncul di kamera teman-teman untuk ikut berfoto. Yang penting
tidak terkenan sinar matahari terlalu banyak.
Saat aku sedang duduk diam ditepian
bongkahan kecil batu candi membelakangi
matahari sambil memandangi para pengunjung lainnya yang ada, Debora menepuk
pundakku.
“Renata, sendirian aja, gak bareng Will?
Apa lagi berantem?” tanya nya.
“Gak tahu deh, hehe.. gue kan bukan baby
sitternya. Masa kemana-mana ama dia. Gak kok, gak berantem.” Jawabku ketus.
“Tadi gue liat dia lagi foto-foto ama
Vita. Makanya pas gue liat gada lo, gue pikir lo lagi berantem.” Jelasnya lagi.
“Heheh.. gak kok, emang gue lagi pengen
sendiri ajah. Bosen kali lama-lama nempel terus haha.
“ ujarku setengah bercanda padahal dalam hatiku rasanya panas sekali. Entah mengapa aku malas mempersoalkannya.
“ ujarku setengah bercanda padahal dalam hatiku rasanya panas sekali. Entah mengapa aku malas mempersoalkannya.
“ Yaudah, gue mau foto-foto sama yang
lainnya dulu yah. Dah Renata..” Debora pun lalu dari hadapanku dan melambaikan
tangannya. Aku membalas lambaiannya dengan senyum yang kubuat-buat.
Entah karena kebetulan atau karena apa,
Will tiba-tiba muncul dihadapanku dan menyapa.
“Hei, Ta. Kok duduk disini? Tumben kamu
gak narsis-narsis. Pemandangannya bagus banget loh dari atas.”
“Cape. Hehe. Pengen duduk aja, panas .”
kataku namun tak menatap mukanya sama sekali.
“Iya sih panas banget. Yang lain kemana?
Kok kamu sendirian?” tanyanya lagi yang tambah membuatku emosi.
“Gak tau.” Kataku singkat sambil memainkan
tali karet jaketku.
“Yaudah, balik yuk ke Bus. Panas.” Ajak
Will.
“Kamu aja sendiri. Ajak pacar barunya yang
dari tadi foto-foto sama kamu.” Kataku yang
sudah tak tahan lagi memendam alasan ke-bete-an ku.
“Siapa?”
Will bertanya balik.
“Siapa lagi sih, ya Vita lah !!!!”
bentakku pada Will.
“Kamu tahu aku gak suka sama dia. Dia mau
ngambil kamu dari kau. Apa salah aku marah sama kamu karena aku cemburu. Aku
aja yang JELAS-JELAS PACAR KAMU, belum minta foto-foto tuh sama kamu. Masa dia
yang BUKAN PACAR KAMU, udah foto-foto. Sementara aku sendirian! Lo tuh kemana
aja Will !” Jelasku sambil memberi penekana pada kata ‘pacar’ dan ‘bukan pacar’
“Tadi dia yang ngajak Ta. Aku Cuma temenan
doang kok sama dia. Maaf ya, maaf banget.” Mohonnya padaku.
“Ga ngertiin perasaan aku banget sih
Will.” Kusadari air mataku sudah bergelinang.
“Maaf banget Ta, plis jangan nangis. Iyah
aku salah. Maaf ya. Janji gak foto-foto sama dia lagi deh.” Will memegang
tanganku sambil memohon. Aku semakin tidak tega menghukumnya lebih dari ini,
namun aku mengeraskan hatiku karena ini bukan yang pertama untuknya. Saat di
Bali, ia pun melakukan hal yang sama.
“Yaudah kita jalan yuk, foto-foto bareng.” Ajak Will mulai menggodaku yang
sedang marah.
“Ga ah, udah gak pengen. Panas.” Jawabku
ketus
“Yaudah jangan ngambek lagi ya, udahan
dong ngambeknya.”
“iya, iya. Udah yuk ahh. Aku mau ke bus.”
“Tunggu sebentar yah, 5 menit aja jangan
kemana-mana. Pinjem handphone kamu yah.” Aku meminjamkannya, dan ia pun berlalu
dari hadapanku.
Tiba –tiba terdengar suara pimpinan
rombongan kami yang berbicara dengan TOA-nya.
“Di mohon dengan sangat, para rombongan
SMK Dharma Pelajar harap kumpul kembali
di Bus untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan. Dalam waktu 5menit akan
kami tinggal bila belum sampai bus.”
Aku pun panik. Namun aku tetap menunggu
Will. Saat ku lihat rombongan yang lain sudah menuju bus semua, tambah paniklah
aku. Aku tak mungkin meninggalkan Will. Namun,tiba-tiba belum 5menit, Will
sudah muncul di hadapanku dan menyerahkan handphone.
“Kamu ngapain sih? Kita udah mau ditinggal
tau.”
“Ambil video pemandangan candi borobudur
dari atas buat kamu. Yaudah ayuk cepetan, nanti kita ketinggalan bus. Lari,
Ta.” Will menarik tanganku dan berlari. Aku tidak bisa mengimbangi langkahnya
yang terlalu besar.
“Will, langkahku tidak selebar kamu.”
Protesku.
“Kamu sih pendek. Jadi, kakinya juga
pendek. Haha.” Kata Will mengejekku.
Aku yang kesal pun mengejarnya untuk
mencubit pinggangnya. Dasar. Kenapa bawa-bawa tinggi badan sih.
21 Februari 2011
Pk 08.00 wib
Tujuan hari ini, berkeliling Jogja serta
Malioboronya. Rasanya tak lengkap bila ke Jogja namun tak ke Malioboro. Aku
tidak ada niat untuk berbelanja sih, namun aku hanya ingin cuci mata dengan
bule-bule yang hilir mudik di kota Pelajar ini.
Kali ini aku berencana membeli sepatu
vantovel yang murah untuk acara table
manner nanti malam. Will mau menemaniku berkeliling di department store atau di deretan pedagang kaki lima yang banyak
berjajar disekitar Malioboro. Dia dengan sabar memberi saran dan membiarkanku
memilih sepatu yang sesuai dengan seleraku. Sudah ku jelajahi sepanjang
Malioboro sampai keujungnya namun aku belum menemukan sepatu yang pas dengan
harga yang pas dikantongku juga. Akhirnya aku menuju department store terdekat dan memilih sepatu vantovel plastik yang
termurah. Harganya hanya 29.900 rupiah. Lagi-lagi Will yang mengeluarkan biaya
untuk membelikan sepatuku. Aku berjanji padanya, sampai di Jakarta akan kuganti
semua uangnya walau ia tak ada menyuruhku untuk menggantinya.
Sepatu yang ku cari sudah ku temukan dan
kini tak ada benda yang ingin kubeli. Tapi tiba-tiba mataku tak pernah lepas
dari benda mungil nan populer saat itu, jam monol. Aku ingin sekali jam monol
versi kotak namun berwarna coklat. Will seolah tahu saja apa yang ku mau. Dia
menawarkan jam tangan yang dijajakan oleh para pedagang disana. Namun sulit
sekali menemukan yang berwarna coklat dan harganya mahal sekali, tidak jauh beda dengan harga jam monol di
Jakarta. Namun setelah sekian lama mencari, Will menemukannya untukku dan
membelikannya. Demi mendapatkan harga yang lebih murah, Will membeli dua jam
monol berwarna biru dan coklat. Yang biru untuknya, dan yang coklat untukku.
Kali ini aku punya sesuatu yang sama dengan Will. Jam tangan kembar walau beda
warna. Lagi-lagi aku berjanji padda Will untuk mengembalikan uangnya
sesampainya tiba di Jakarta nanti. Namun ia berkata padaku bahwa itu
kenang-kenangan darinya, cukup aku bisa menjaga dan merawatnya, ia sudah
senang. Aku pun merangkulnya sepanjang
jalan. Betapa bangganya aku mempunyai pacar
seperti dia. Mau mengerti aku, dan tau apa yang ada dipikirankku.
Pk 19.00 wib
Seluruh rombongan sudah siap dengan
perlengkapan mereka masing-masing. Semuanya terlihat rapi dan sangat seragam
dengan blazer kebanggaan kami, khas warna marunnya SMK Dharma Pelajar. Malam
ini akan ada table manner di salah
satu hotel bintang lima di daerah Jogjakarta. Ini adalah acara wajib yang harus
diikuti karena akan mendapatkan sertifikat resmi.
Awalnya aku panik karena aku lupa membawa
kaos kaki seragam sekolah kami. Namun untung saja Funa membawa kaos kaki lebih
jadi aku bisa meminjamnya. Masalah sepatu sudah selesai karena seharian di
Malioboro aku sudah menyempatkan diri untuk mencarinya.
“Ta, dandannya yang wajar saja. Kamu ga
cocok dandan yang aneh-aneh.” Kata Will mengingatkanku.
“Iya, aku Cuma pakai bedak, lipgloss, dan blush
on kok.” Kataku.
“Iyah, jangan mau kalau Funa dan Aryana
maksa kamu memakai mata-mata dukun itu yang hitam-hitam.”
“Eyeliner, Will.” Koreksiku sambil
tersenyum karena Will tidak tahu bagaimana menyebut nama-nama alat kosmetik
untuk cewek.
“Iyah, pokoknya jangan yah. Udah yuk, mau
berangkat nih. “
“ok.”
Pk 21.00 wib
Akhirnya seluruh rombongan sudah sampai di
halaman hotel bintang lima nan megah. Kami semua menuju ballrommdi lantai 3 secara bergantian menggunakan lift.
Will terus disampingku. Sialnya, karena kebagian lift terakhir, kami pun hanya
mendapatkan sisa tempat duduk yang kosong saja. Untungnya masih ada dua tempat
duduk tersisa di depan, tepat depan panggung untuk kami berdua. Tambah dag dig
dug diriku.
Hidangan pertama di awali oleh hidangan appetizer / pembuka berupa toast bread
yang enak sekali. Namun tak bisa main sembarang makan saja. Namanya saja table manner, sudah pasti semua ada tata
krama dan cara makannya. Kalau bukan table
manner, roti kecil seuprit ini sudah
pasti habis dalam hitungan sekali lahap. Namun cara makannya yang ribet dan
njlimet beserta peralatan makannya yang harus sesuai dengan fungsinya,
membuatku kenyang sekali walau belum menghabiskan roti kecil seuprit yang sudah
ku yakini harganya muahal pasti.
Hidangan kedua, ketiga dan selanjutnya
hingga hidangan dessert tak mampu
kutampung lagi. Padahal kalau dipikir-pikir, total porsi yang disajikan jauh
berbeda dengan porsi makanku pada umumnya. Mungkin karena tata krama dan cara
makannya yang mengenyangkan dengan sejumlah peralatan makan yang banyak.
Saat acara table manner selesai, ternyata jam sudah menunjukan pk 11.00 malam.
Pantas saja sudah jamnya aku menguap terus dari tadi. Acara pun ditutup dengan
foto bersama. Dan kami pun pulang kembali ke cottage kami masing-masing. Ini
adalah malam terkahir kami di Jogja. Besok kami akan kembali ke Jakarta. Dan
aku ingin malam ini berkesan bagiku.
22 Februari 2011
Pk 08.00 wib
Sarapan pagi terakhir kami di aula cottage
lebih spesial dari biasanya. Hari ini suasananya lebih berbeda. Alunan gamelan
dan kulintang, musik khas jogja dengan nyanyian jawa para sinden semakin
memperlihatkan cirikhas Jogja. Belum lagi hiasan dan ornamen khas Jogja yang
berada di ruangan seperti keris, gong, dan ukiran-ukiran khas Jawa semakin
memperlihatkan bahwa sarapan terakhir ini lebih berbeda dari biasanya.
Belum lagi makanan yang tersaji adalah
Gudeg, salah satu makanan khas Jogja dan hidangan-hidangan tradisional lainnya.
Aku pun semangat makan pagi hari ini.