. Antara Aku, Trauma dan Masa Lalu Antara Aku, Trauma dan Masa Lalu

jam

Selasa, 14 Oktober 2014

(NOVEL KE-DUA )Antara Aku, Trauma, dan Masa Lalu

Bagian 1

Dia paksa aku tuk alami semuanya….
Trauma. Aku tidak berani menyayangi dan memiliki seseorang lagi. Dia buat segalanya berantakan. Dia buatku gila dan tak berani menatap masa depan. Dia paksaku untuk lupa akan segala kenangan 3 tahun masa sekolah SMA. Dia paksaku berasumsi bahwa semua laki laki itu sama. Dia buatku tahu rasa sakit itu apa. Dia paksa hatiku untuk menolak segala hal yang berkaitan dengan cinta. Dia yang hembuskan nafas kebencian kepada segala hal yang berhubungan dengan masa lalu. Dia yang buatku lupa akan bayangan diriku dimasa lalu. Dia injak bumi tempat dimana seharusnya aku pun melangkah. Dia yang buatku urungkan dan tutup rapat segala pintu dimana kemungkinan cinta dapat masuk kedalamnya. Dia buatku tak berani mendongakan kepala ditempat dahulu kita pernah bersama. Dia paksaku untuk menutup diriku dari orang-orang masalalu. Dia buatku bangun tidur dengan terengah karena mimpi buruk. Dia memaksa untuk dapat masuk kemimpi ku kala aku tak sedetik pun membayangkannya. Dia buatku lupa bahwa cinta itu indah.
Trauma.
Trauma.
Ya, aku trauma. Aku baru sadar bahwa aku trauma.


Aku tahu namanya adalah “trauma”
Gejala trauma dibagi menjadi empat kategori. Seseorang yang mendapat pengalaman traumatis akan memperlihatkan beberapa gejala dan kombinasinya. Gejala-gejala yaitu:
·                     Memutar kembali peristiwa traumatis 
Seseorang yang mengalami trauma sering merasa peristiwanya terulang kembali. Hal ini biasanya disebut flashback, atau menghidupkan kembali peristiwa. Orang ini mungkin mempunyai gambaran mental di kepalanya tentang trauma, mengalami mimpi buruk, atau bahkan mungkin mengalami halusinasi tentang trauma. Gejala ini sering menyebabkan seseorang kehilangan ”saat sekarang” dan bereaksi seolah-olah mereka mengalaminya seperti awal trauma terjadi. 
·                     Penghindaran.
Seseorang yang mengalami trauma berusaha untuk menghindari segala sesuatu yang mengingatkan mereka kembali pada kejadian traumatis. Mereka mungkin akan menghindari orang-orang, tempat, benda-benda yang mengingatkan, termasuk juga bersikap dingin untuk menghindari rasa sakit, perasaan yang berlebihan. Membekukan pikiran dan perasaan akibat trauma disebut juga ”disasociation” dan merupakan karakteristik trauma.
·                      Pelampiasan.
Seseorang yang menderita trauma kadang mengkonsumsi obat-obatan penenang atau alkohol atau rokok untuk menghindari ingatan-ingatan dan perasaan yang berhubungan dengan trauma. Dengan mengkonsumsi obat-obatan penenang atau alkohol atau rokok memang mereka dapat merasa tenang, tetapi hal itu sifatnya hanya sementara.
·                     Pemicu.
Gejala-gejala pemicu psikologis dan fisiologis sangat berbeda-beda pada orang-orang dengan trauma. Mereka mungkin sangat cemas, mudah gelisah, mudah tersinggung atau marah, dan mungkin mengalami sulit tidur seperti insomnia, atau mimpi buruk. Mereka akan terlihat terus menerus waspada dan mengalami kesulitan konsentrasi. Sering orang dengan trauma akan mengalami panic attack yang dibarengi dengan nafas yang pendek dan sakit di bagian dada.
·                      Perasaan bersalah.
Sering seseorang merasa bersalah tentang apa yang telah terjadi dan mereka salah meyakini bahwa mereka pantas untuk disalahkan atau pantas mendapatkan hukuman.


Bagian 2
Mimpi buruk yang pertama…
            Hari ini aku menghabiskan waktu dengannya seharian. Kami berjalan menyusuri kota-kota dengan seragam sekolah yang masih melekat ditubuh. Kami masuk dari satu hotel ke hotel untuk mengajukan permohonan “on the job training”. Kami keliling Jakarta bersama teman-teman yang lain. Menjadi saksi mata betapa panas dan padatnya Jakarta ditemani polusi yang melekat di wajah bak bedak polesan yang tebal. Menyusuri jalan demi jalan bermodalkan uang jajan orang tua. Peluh keringat tak terbantahkan lagi membasahi luar dalam baju seragam kami. Tak terhitung sudah berapa langkah kami berjalan dan berapa orang yang sudah kami tanya-tanyai. Ya, kali ini aku mengakui bahwa orang Indonesia sangat ramah.
Sesekali aku mengeluh dan duduk sejenak. Sesekali juga dia menggandeng tanganku dan membelikanku minum. Perhatiannya begitu hangat. Tak seterik panas matahari yang langsung menyambar ubun-ubunku. Tanpa perlu kuminta, dia membawakan tasku. Dia begitu keren. Dibawah terik matahari dengan seragam sekolah pink dipadu dengan blazer merah marunnya yang sangat pas dibadannya, dimataku dia tampak keren.
Hari ini memang melelahkan. Namun dengan tiada hari tanpa ucapan “selamat pagi” dan sebaris kata “ aku cinta kamu” darinya, semua rasanya menyejukkan hati. Dia buat bangun tidurku bersemangat menemukan handphoneku (yang kadangkala ku tindih dan jatuh dari tempat tidur) dan mencari kiriman sms darinya. Klepek-klepek aku seketika dibuatnya. Jujur saja, smsnya membuatku bak perempuan paling cantik sedunia yang beruntung mendapat perhatian yang mampu melelehkan es batu balok. Kadangkala, aku merasa seolah terkena syndrome nomophobia (tak bisa hidup tanpa handphone)
Rasanya sulit jauh dari handphone. Bahkan aku rela kembali ke rumah untuk mengambil handphone ku yang tertinggal walau aku harus telat ke sekolah. Aku sangat semangat kalau handphone sudah ada dalam genggamanku. Ku simpan semua kata-kata romantic yang dia kirim padaku tiap pagi dalam draft. Ku baca berulang-ulang tanpa bosan.

Ini adalah mimpi buruk yang pertama. 



Mnemophobia
Aku mendapati kenanganku kembali. Lewat historis facebook yang belum terhapus, orang-orang yang berhubungan dengan dia, berbagai foto masa SMA, dan segala hal yang mengandung unsur  masalalu lainnya.
Satu per satu ku singkirkan. Tak ada lagi benda-benda pemberiannya dan tak ada satu pun fotonya di handphoneku. Dulu, aku mengoleksinya dengan sangat lengkap. Hingga surat-suratan masa sekolah pun ku koleksi dengan sangat lengkap walau isi surat-suratan itu hanya masalah memberi contekan atau memberikan semangat. Tak ada satupun barang sepele (bagi oranglain) yang ku buang. Segala hal yang berhubungan dengan dia, aku akan simpan. Bahkan parfumnya pun ku cari sampai kemana pun agar kalau tak ada dia, aku akan tetap merasa ada. Bahkan aku hafal dengan bau jaketnya, wangi rambutnya, bentuk tangannya, cara berjalannya, dan jadwalnya. Itu kegilaanku dulu.
Aku menyadarinya kini. Betapa aku ingin menjauh dari semuanya itu. Aku bahkan sudah tidak ingat lagi masa-masa SMA ku seperti apa. Aku mengidap penyakit Mnemophobia (takut akan kenangan, kejadian yang sudah berlalu). Mengingatnya walau hanya sedikit saja, akan mengorek  semua luka yang hampir mengering. Hampir mengering. Belum sembuh. Aku menyisakan sedikit memori untuk guru-guru yang amat special bagiku dan pesan-pesan penting mereka untukku namun tidak untuk yang lainnya. Bahkan aku sudah lupa nama teman-teman sekelas dan seangkatanku. Aku sudah tak tahu hal apa yang biasa ku lakukan disekolah dan kejadian lucu apa saja yang pernah ku alami bersama teman-temanku. Aku hanya mengingatnya bila itu muncul didalam mimpiku sesekali.
Bila para alumni sudah sering mengunjungi sekolah untuk sekedar mampir, aku sekali pun belum mampir kesana. Terakhir kali aku kesana sekitar 3 tahun yang lalu ketika aku harus mengambil ijazah SMA ku. Itupun dengan dibayangi kenangan kenangan di setiap sudut sekolah dimana aku dan dia pernah berada. Semua berterbangan dalam pikiran. Membawaku berhalusinasi dan merasa seolah dia ada disana. Aku bahkan masih belum mengakui bahwa dia memutuskan untuk pergi.
Aku takut ke kota tua. Itu kali pertama kita berdua naik kereta dan berfoto bersama.
Aku takut kerja di hotel lagi. Dia selalu membantu dan tak mau aku kelelahan bekerja didunia perhotelan yang menuntut otot untuk terus ber-operasional dan mata untuk tetap terjaga mencuci dan mengelap ribuan piring dan sendok dengan penampilan yang tetap cantik dan bersinar. Aih ! sekarang rasanya benci sekali aku disuruh mengingat pernah bekerja di hotel dengan bayaran 50ribu selama 8jam hingga malam sudah menjadi subuh.
Aku takut ke sekolah, itu sudah pasti. 6 hari dalam seminggu bertemu dengannya. Ibarat memory card, mungkin sudah merekam 1000terabyte untuk 3tahunku bersamanya.
Banyak hal yang harus kuhindari. Termasuk teman lama.


Tak punya teman lama
Berdiri lagi dengan satu kaki, terluka pula. Tak butuh obat yang baru untuk menyembuhkan. Tak perlu pengobatan yang mahal juga. Hanya butuh tempat untuk bersandar dan tongkat yang kuat untuk menopang. Walau terluka, aku masih mau berusaha kuat.
Sama seperti cinta. Terjatuh 10 kali, bangunlah 10 kali. Walau sakit, menemukan cinta yang baru bukan juga solusi yang tepat. Apalagi bila dipaksakan hanya untuk lari dari kenyataan. Hanya butuh teman yang merangkulku dengan sabar.
Aku berusaha untuk tidak mengingat lagi. Ku coba melakukan hal-hal positif dengan teman-teman dan ber-eksplorasi dengan segala hal yang baru. Tapi tidak bisa. Semakin aku bereksplorasi dengan mereka, menjalin hubungan erta dengan mereka, kenangan itu semakin banyak. Luka itu semakin parah. Entah kenapa, dengan mereka wajahnya semakin lekat di pikiranku. Aku suka melamun membayangkan masa-masa kita berkumpul bersama.
Kupikir aku sudah gila. Dalam mimpi pun dia tampak nyata. Dia membuatku untuk lebih banyak bermimpi dan ku akui, aku sangat menikmati mimpiku. Aku enggan terbangun lagi. Mungkin hanya aku yang dapat memimpikannya 7 hari dalam seminggu. Rasanya seperti flashback ke masalalu.
Kuputuskan untuk perlahan menjauh dengan orang-orang masa lalu. Berulang klai mereka mengajak reuni, dan dengan berbagai cara pula aku menolaknya secara halus. Aku memang jahat. Apa salah mereka sampai aku harus seperti ini. Namun, mama juga tak setuju bila karena berkumpul dengannya aku harus berhalusinasi terus menerus.
Aku tak punya teman lama SMA. Mnemophobia benar-benar merasuk jiwaku. Habis sudah segala ingatan masa SMA ku. Aku dipaksa menghapus 3tahun ingatan dari 18tahun hidup yang sudah kujalani.

Identitas baru
Kini aku sudah menjadi anak kuliahan. Pola pikirku sekarang mulai dewasa. Aku tidak lagi menangis untuk hal-hal yang sepele. Kini aku jauh lebih kuat dan akan menjadi lebih kuat lagi nantinya. Aku berusaha menjadi yang terbaik dikampus. Ku ubah diriku menjadi anak yang ceria dan supel. Tak ada lagi sikap diam dan pemalu. Kini aku lebih berani dan berusaha untuk disukai semua orang. Kini aku lebih apa adanya.
Aku mengubah diriku sedemikian rupa. Memotong rambut panjangku menjadi pendek sebahu. Mencerahkan kulitku yang dulu kusam. Menurunkan 5kg berat badanku dan mulai memperhatikan hal-hal yang berkaitan fisik dan penampilan. Dulu aku tomboy. Sekarang, aku sudah tak tahu berapa ratus uang ku dalam sebulan ku habiskan hanya untuk membeli baju baru yang lebih perempuan. Untungnya saja aku bekerja sehingga tidak lagi meminta pada orangtua.
Tak hanya penampilan, ku ubah diriku menjadi pribadi yang ceria, ceplas-ceplos, jenaka, dan lebih disukai banyak orang. Ku tonton ratusan film action dan kutinggalkan segala film romantic yang cengeng. Tak ada lagi lagu-lagu galau di handphone. Aku lebih mendekatkan diri pada Tuhan dengan mengoleksi lagu rohani dan segala macam lagu upbeat.
Aku lupa segala masa SMA ku yang sudah ku kubur dalam-dalam. Aku benar-benar menghindari segala hal yang berhubungan dengan kesedihan. Aku benci menjadi cengeng dan aku benci bila mulai menangis. Kini aku menjadi lebih berbaur dengan banyak orang baru.
Sebisa mungkin aku tidak akan menangis kecuali bila mama menyuruhku memotong bawang dan daun bawang. Letih rasanya terus larut dalam kesedihan.
Aku masih bermimpi tentangnya, namun aku tak lagi larut dalam buaiannya. Secepat mungkin aku bangun dari tidurku dan berusaha membayangkan hal-hal yang lain. Aku pikir bahwa aku sudah 100% move on dari masa lalu.
Aku bukan lagi aku yang dulu. Namun tetap saja, aku tidak bisa berdamai dengan masa lalu. Mnemophobia itu masih lekat denganku dan aku masih belum berkomunikasi lagi dengan orang dari masalalu.
Aku akui bahwa aku harus menjalani hidupku dengan seperti ini. 

(bersambung...)

Selasa, 15 Oktober 2013

Kebahagiaan yang tak terkira jumlahnya

Kadang manusia selalu membanding banding kan rejeki yang ia punya dengan rejeki yang didapat orang lain dan selalu men"cap" Tuhan sebagai orang yang tidak adil.

Tapi kita tidak sadar bahwa setiap kejadian kecil dan karunia kecil yang terjadi di dalam hidup kita adalah sebuah rejeki yang tidak ternilai jumlahnya.

Keluarga yang utuh, orangtua yang sayang, perhatian dan kasih sayang dari saudara dan teman, perlindungan yang diberikan Tuhan selama perjalanan menuju tempat kerja, dan hal hal kecil lainnya yang selalu Tuhan karuniakan didalam hidup kita semua adalah berkat yang tak terkira jumlahnya dan yang paling penting semuanya tak dapat diukur dengan uang.

Banyak orang yang bergaji besar, punya jabatan tinggi dikantor dan herannya kita selaluu iri dan merasa tidak seberuntung dia. kenyataan yg terjadi adalah, kita tidak tahu kehidupannya. apakah dengan kekayaan itu keluarganya bahagia dan hidup denga tenang, apakah dia merasa berkecukupan? apakah hidupnya damai? apakah ia dihindarkan dari segala penyakit.

Tuhan itu adil. lihatlah dirimu sekarang. Walau bergaji kecil, tapi Tuhan mengaruniakan kesehatan kepadamu, Tuhan memberikan keluarga yang amat peduli padamu, Tuhan mempercayakan orang orang yang baik dan mementukmu menjadi pribadi yang kuat dilingkungan kerjamu, Tuhan memberikanmu adik yang slalu menyambutmu selepas pulang bekerja, walau saat ini kau masih sendiri, bukan berarti tidak ada yang menyukaimu, tapi kamu memang menikmati kebahagiaan yang diberikan oleh keluaramu dan hingga pada akhirnya kamu tidak pernah merasa kesepian walau teman teman mu yang lain sudah memiliki pacar.

Tuhan tahu saat yang tepat. rejeki Tuhan itu tepat pada waktunya. Ia memberikan yang kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan.

Mulai dari sekarang pun aku berjanji selalu mensyukuri nikmat kecil Tuhan yang dampaknya luar biasa itu. Tidak lagi melihat segala sesuatunya dari besarnya gaji yang ku dapat. Tuhan pasti akan mencukupkan semuanya. Dia yang mengatur segala kehidupan manusia dimuka bumi. Jadi berhentilah menghakimi Tuhan. Tuhan lebih tahu segalanya.