. Tuhan menghadirkan cinta di setiap air mata duka Tuhan menghadirkan cinta di setiap air mata duka

jam

Selasa, 15 Oktober 2013

Kebahagiaan yang tak terkira jumlahnya

Kadang manusia selalu membanding banding kan rejeki yang ia punya dengan rejeki yang didapat orang lain dan selalu men"cap" Tuhan sebagai orang yang tidak adil.

Tapi kita tidak sadar bahwa setiap kejadian kecil dan karunia kecil yang terjadi di dalam hidup kita adalah sebuah rejeki yang tidak ternilai jumlahnya.

Keluarga yang utuh, orangtua yang sayang, perhatian dan kasih sayang dari saudara dan teman, perlindungan yang diberikan Tuhan selama perjalanan menuju tempat kerja, dan hal hal kecil lainnya yang selalu Tuhan karuniakan didalam hidup kita semua adalah berkat yang tak terkira jumlahnya dan yang paling penting semuanya tak dapat diukur dengan uang.

Banyak orang yang bergaji besar, punya jabatan tinggi dikantor dan herannya kita selaluu iri dan merasa tidak seberuntung dia. kenyataan yg terjadi adalah, kita tidak tahu kehidupannya. apakah dengan kekayaan itu keluarganya bahagia dan hidup denga tenang, apakah dia merasa berkecukupan? apakah hidupnya damai? apakah ia dihindarkan dari segala penyakit.

Tuhan itu adil. lihatlah dirimu sekarang. Walau bergaji kecil, tapi Tuhan mengaruniakan kesehatan kepadamu, Tuhan memberikan keluarga yang amat peduli padamu, Tuhan mempercayakan orang orang yang baik dan mementukmu menjadi pribadi yang kuat dilingkungan kerjamu, Tuhan memberikanmu adik yang slalu menyambutmu selepas pulang bekerja, walau saat ini kau masih sendiri, bukan berarti tidak ada yang menyukaimu, tapi kamu memang menikmati kebahagiaan yang diberikan oleh keluaramu dan hingga pada akhirnya kamu tidak pernah merasa kesepian walau teman teman mu yang lain sudah memiliki pacar.

Tuhan tahu saat yang tepat. rejeki Tuhan itu tepat pada waktunya. Ia memberikan yang kamu butuhkan bukan yang kamu inginkan.

Mulai dari sekarang pun aku berjanji selalu mensyukuri nikmat kecil Tuhan yang dampaknya luar biasa itu. Tidak lagi melihat segala sesuatunya dari besarnya gaji yang ku dapat. Tuhan pasti akan mencukupkan semuanya. Dia yang mengatur segala kehidupan manusia dimuka bumi. Jadi berhentilah menghakimi Tuhan. Tuhan lebih tahu segalanya.


Senin, 26 Agustus 2013

Mereka Bilang Saya Pribumi.. (novel online pertama saya)



PROLOG
03 Febuari 2013
Hari ini aku bertemu kembali dengannya. Dalam sebuah perjumpaan yang tak terduga. Dia mengajakku duduk makan bersama. Kali ini karena aku sebagai sahabat nya. Kami makan di restoran terkemuka dan lumayan elit di kawasan Mall di daerah Jakarta. Memang tidak heran melihat sekarang karir di kantornya mulai menanjak. Penampilannya pun sudah berbeda. Lebih keren daripada ia yang ku kenal dulu. Yang ku kenal selama setahun yang lalu.
Sebelum pertemuan ini, sebenarnya kami memang sudah sempat SMS-an sesekali. Hanya sekedar bercerita tentang pekerjaan dan masalah keluarga. Masalah yang sudah menjadi pokok pembicaraan sejak dulu. Dia bercerita, kini gajinya di perusahaan sudah oke dan lumayan. Dia juga sempat dipromosikan di posisi eksekutif walau usianya seusiaku, 18 tahun. Uang pengobatan papanya yang menderita struk sejak 2tahun yang lalu pun ditanggung perusahaannya. Dan kini dia sedang dikuliahkan di suatu universitas terkemuka nan elit yang uang semesterannya mencapai ratusan juta oleh perusahaannya. Sungguh beruntungkan. Oke, tak ada waktu untuk iri pada keberhasilan orang lain.
Aku jadi ingat dahulu bagimana kami berdua sama-sama pernah mencari kerjaan walau ijazah masih hangat ditangan kami. Lucu sekali apabila baru sekarang kami menyadari bahwa kami memang tidak ditakdirkan bekerja di perusahaan yang sama seperti yang kami rencanakan dulu.
Aku  memandang ke diriku sendiri. Dulu, sewaktu bersekolah, aku adalah anak terpandai di sekolah. Belum ada yang bisa menggeser posisiku dari sejak kelas 11 SMA. Sedangkan dia, tidak pandai namun serba memiliki keterampilan yang tidak aku punyai. Kalau boleh jujur, aku merasa tersaingi oleh keterampilan yang dia miliki walau nilainya untuk pelajaran teori dan matematika tak secermelang aku. Daridulu aku selalu ingin lebih baik dari dia. Sekarang, aku pun kalah lagi. Walau pun sejak suatu perisitiwa menyakitkan itu aku terus berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membuat dia menyesal telah menyakiti aku, dengan berusaha sukses dan akan jadi lebih sukses dari dia. Tetap saja, kalau dilihat dari cara dia mengundangku makan di retoran elit dan mahal ini, aku kalah. Dari segi penghasilan gaji yang ku dapatkan dari bekerja saja, aku kalah.
Kini aku bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan di proyek yang sedang dalam tahap pembangunan mall di sebuah kkawasan elit. Pekerjaan ini boleh dibilang lebih oke dibandingkan tempat kerjaku yang dahulu dibutik. Aku baru saja berhenti bekerja dibutik sebulan yang lalu. Aku tak sanggup begadang dan bekerja terlalu pagi. Belum lagi tanggung jawab yang kuterima terlalu berat mengingat dulu aku hanyalah seorang diri disana, tak ada karyawan lain. Kadang kalau orderan gaun meningkat, aku harus rela begadang dengan gaji yang tidak dihitung lembur. Sebulan hanya 1,5 juta. Belum ongkos kadang aku harus kesana kemari mengurus jahitan yang cenderung bongkar pasang dan mengharuskan ku kerja 2 kali bahkan lebih. Hal ini membuatku kembali menjadi guru les bahasa inggris dan harus pulang malam agar di akhir bulan uang yang masuk direkeningku tembus 2juta. Miris memang jika dibandingkan prestasi ku disekolah. Jadi, pintar disekolah itu bukan jaminan sukses kok.
Sekarang aku mulai bisa bernafas lega walau tetap tidak boleh berleha-leha. Untung sekarang aku bekerja diperusahaan yang kerjaannya bisa di lakukan setengah hari. Akupun masih bisa tetap mengajar. Kerjaan ini lebih ringan walau tak ringan-ringan banget sih. Tapi tetap saja hanya nambah 2juta lewat kalau sebulan.
Aku merasa kalah lagi sama dia. Setelah dia membuatku terpuruk dahulu karena perbuatannya, kini dia hadir lagi dihadapanku dengan sejuta keberhasilan yang digenggam ditangannya. Aku tidak dendam. Hanya saja dengan kehadirannya kini dihadapanku, aku teringat kembali akan sorot matanya itu. Itu adalah sesuatu yang sangat aku hindari. Aku takut membencinya. Tapi aku tidak bisa menolak bertemu dengannya. Aku ingin. Walau banyak resiko yang harus aku tanggung. Misal, jatuh cinta lagi padanya. Sorot mata itu, ah.  
Aku takut bertemu dengannya. Rasa benci itu pasti akan hadir lagi. Keinginan untuk mengalahkan dia pasti akan semmakin kuat.

The Background
Part 1
23 Februari 2013
Renata Kusnawan
Call me Ta. That’s my nick name. Ya aku Renata. Terserah kalian mau memanggilku apa. Aku hanya ingin menceritakan kisah cintaku yang bisa dibilang cinta monyet namun sudah seperti kisah cinta roman picisan yang tragis. Tapi aku berterimakasih sekali dengan kisah cintaku yang tragis ini karenanya aku bisa menjadi dewasa dalam urusan cinta. Aku juga menjadi hati-hati dalam memilih teman dekat pria. Ini bukan karena jual mahal, lho. Tapi karena belajar dari pengalaman. Aku tidak main-main dalam memilih pasangan. Kalau bisa sampai akhir nanti. Sampai ia menemuiku didepan altar dan mengikat janji denganku dihadapan pendeta, smua orang, dan terutama Tuhan.
Aku suka sekali menulis cerita dan menulis diary. Diary adalah teman setiaku yang menyimpan semua rahasia ku dengan baik. Hobiku membaca komik Miiko, dan aku suka berkhayal. Aku bukan pribadi yang suka aneh-aneh. Aku anti melanggar peraturan sebenarnya karena aku mau hidupku lurus-lurus saja. Aku phobia polisi lalu lintas, entah mengapa. Rutinitasku jarang dirumah. Bukan karena aku hobi keluyuran, tapi setiap hari sepulang sekolah, aku sudah magang menjadi guru bahasa inggris untuk mendapat tambahan uang saku.
Aku tipe orang yang minderan. Lebih dari itu, banyak hal yang aku syukuri karena aku memiliki fisik yang sempurna tak kekurangan satu apapun walau aku tidak cantik. Hanya manis sih, menurutku. Aku minder jelas bukan karena itu. Tapi keluarga.
Bisa dibilang aku memang bukan satu-satunya manusia yang berada dalam keluarga campur etnik dan budaya. Mungkin masih banyak yang lainnya juga. Namun perkenalanku dengan seseorang dahulu, membuatku menjadi semakin memperhatikan masalah perbedaan etnik, budaya, dan agama. Jelas sekali aku tidak suka rasisme. Bagiku, semua orang sama.
Mari berkenalan dengan keluargaku. Papaku adalah Chinnese-Jawa. Beliau 7 bersaudara. Papaku berperawakan Jawa, tinggi, dengan logat jawanya yang kental. Tampang chinnesenya hanya 30%, yang ku nilai dari cara dia menyebut mata uang dengan bahasa cina yang hanya ku tahu sedikit. Misal seratus itu cepek, seribu itu seceng, sepuluh ribu itu ceban. Aku hanya tahu itu. Haha. Selain itu papaku hanya jago dalam urusan chinesse food.
Dari 7 bersaudara, papaku memang paling jawa, sedangkan saudara yang lainnya memang lebih kelihatan chinnese karena kebanyakan darimereka berkulit putih. Tidak aneh sih, kakekku dari papa adalah Jawa, sedangkan nenekku dari papa adalah Hollandspragen. Wajah papaku itu turunan kakekku. Wajah Tante dan om-ku lebih mirip ke nenekku lagipula sudah berasimilasi dengan keturunan chinnese sehingga sepupu-sepupu ku pun chinnese.
Pilihan hidup Papaku lain dari pada yang lain. Papaku menikah dengan wanita asli Jawa yaitu, mamaku. Alhasil, aku dan adik-adikku memang tidak ada yang bertampang chinnese. Namun, kami tetap menghormati tradisi keluarga papa setiap tahun untuk merayakan imlek. Keluarga kami memang bukan chinnese totok yang masih memegang tradisi chinnese. Namun, kalau imlek adalah moment keluarga yang tidak pernah dilewatkan. Seluruh keluarga kami sudah modern dan tidak terpaku budaya yang sangat ketat. Seluruhnya pun sudah menganut kepercayaan Nasrani.
Kadang aku malu mengakui bahwa aku ini Chinnese dan masih menganut tradisi imlek. Tapi apa mau dikata, keluarga ku memang masih melakukannya. Tetangga-tetangga sekitar rumah kami juga memanggil papa ku dengan sebutan ‘engkoh’. Kalau ada acara kumpul keluarga besar, sudah pasti keluarga kami yang terlihat mencolok diantara gabungan keluarga-keluarga ku yang berkulit putih. Dulu aku tidak pernah memikirkannya karena aku terlalu kecil untuk mengerti. Sekarang aku sudah beranjak remaja, dan kini aku mulai menyadari perbedaannya. Satu hal yang tetap ku syukuri, keluarga kami menerima semua suku dan ras. Kakak sepupuku menikah dengan keturunan India. Adik sepupuku yang Chinnese berpacaran dengan orang pribumi. Jadi aku merasa keluarga kami lengkap rasanya. Mereka pun saling menghormati satu sama lain. Aku pun tidak  merasa dibeda-bedakan. Aku ini hitachi. Hitam tapi china.


Part 2
William Vincentius
23 Febuari 2013
Aku biasa memanggilnya Will. Aku mengenalnya dari sejak awal kami masuk SMK di sebuah sekolah kawasan Jakarta Timur. Dia meninggalkan kesan yang mendalam dalam hidupku. Dia yang membuatku mulai menyadari masih adanya pembedaan dan diskriminasi dalam hidup ini. Dia yang membuatku semakin bercermin pada diri sendiri. Ok, terlalu berlebihan memang kata-kataku tadi. Maksudku, Will adalah orang yang membuatku belajar banyak hal, baik hal manis maupun pahit.
Dia adalah keturunan keluarga Chinnese yang masih kental dengan sarat budaya dan tradisi turun temurun. Keluarganya berasal dari Pontianak dan masih menggunakan bahasa ‘kek’ atau mandarin dalam berbicara internal dalam keluarga. Pernah aku kerumahnya saat menjenguk dia yang sedang sakit, mamanya berbicara dalam bahasa yang tidak ku mengerti, namun dari nadanya aku tahu bahwa dia sedang membicarakanku. Keluarga Will juga masih rutin mengunjungi wihara untuk sembahyang. Di dalam rumahnya pun terdapat altar penyembahan dan patung dewa Budha walaupun Will sendiri menganut kepercayaan Nasrani dan masih ke gereja setiap hari minggu.
Sebenarnya Will adalah orang yang baik, menurutku. Selama aku mengenalnya, aku merasa dia adalah sosok yang sempurna diluar dari tradisi turun temurun keluarganya. Keluarga Will sangat menekankan pernikahan dengan suku yang sama, kalau bisa dari Pontianak atau minimal ada tampang Chinnese-nya. Pernikahan dengan orang pribumi hanya akan menimbulkan kesengsaraan bagi si ‘pribumi’ ini.
Will pernah cerita padaku dulu, om-nya menikah dengan perempuan pribumi Jawa. Dan pernikahan itu tidak di akui. Bahkan tidak dianggap keluarga. Tak ada saudara yang mau berbaur dengan si ‘pribumi’ ini. Aku miris mendengarnya. Betapa hal ‘itu’ menjadi sebuah prioritas dalam hidup. Yah, demi mendapatkan keturunan yang baik. Ada satu lagi pandangan di keluarga Will. Menurutnya, menikah dengan orang pribumi hanya akan merendahkan derajat orang Chinnese.
Aku tidak bermaksud menilai semua orang Chinnese seperti ini. Aku sendiri adalah Chinnese walau berkulit cokelat. Aku adalah hasil asimilasi dua suku yang  berbeda dari kakek nenekku dan menurun ke papaku. Aku tidak membenci Chinnese, banyak dari mereka memang adalah orang yang baik. Teman-temanku juga kebanyakan Chinnese. Bagiku, semua orang sama. Perbedaan untuk saling melengkapi bukan untuk saling membenci, kan? Semoga pengalamanku ini menyadarkan banyak orang akan berdamai dengan sesama dan tidak usah membeda-bedakan antar suku, agama, dan ras. Kita ini diciptakan oleh satu Pencipta. Biarkan cinta menemukan takdirnya J
The Unacceptable Facts
Chapter 1
16 Juli 2012
Pk 19.00 wib
Aku menunggunya. Katanya, malam ini sekitar jam 7 dia akan menemuiku di rumah. Sekarang sudah 7.30. Dia masih belum datang. Aku kesal. Ada yg benar2 ingin ku ungkapkan di malam ini. Suatu perasaan. Penting. Suatu perasaan menyakitkan yg harus segera ku akhiri. Entah bagaimana setelahnya aku tak tahu. Namun aku harus segera mengakhiri. Menyakitkan.
Suara motor di depan rumah. Aku mengenalinya. Aku sudah hafal persis. 3 tahun  bersama, tak mungkin aku tdk hafal suara motornya. Dia Wil. William Vincencius nama panjangnya.  Sahabat, teman dekat, tempatku berbagi keluh kesah suka dan duka, sekaligus pacarku. Aku mengenalnya lebih dari dirinya sendiri. Hubungan kami sangat dekat. Sangat dekat bagiku. Bagiku hubungan 3 tahun dgn nya itu berarti. Entah apapun baginya.
“hai.” Sapanya singkat.
“hai, duduk. Mau minum?”kataku
“tdk usah, saya sebentar saja. Takut diomelin mama kalau pulang malam.”
Walau menolak, aku tetap mengambilkan minum untuknya. “ah, sok jaim.” Kataku
“Ada yg ingin aku bicarakan padamu. Penting. “lanjutku
“Soal apa?”
Aku diam. Menghela nafas. Memandang mama yg sedang duduk didepan pintu sambil menahan air mata yg sudah diujung pelupuk mata. Berat untuk mengatakannya.
“Akhir-akhir ini sifat kamu berubah,” kataku tak brani memandang matanya namun menghadap keatas mencegah air mata turun.
Dia diam. “lanjutkan,”katanya.
“Jarang ada waktu, ga pernah sms kalo ga di sms duluan. Sering tidak ada kabar. Berubah sama sekali. Apa kamu tidak menyadarinya ? Apa aku pernah salah sama kamu ?”
Belum sempat dia menjelaskan, aku trus berbicara, “sifat kamu berubah, dan aku gak tau apa yg harus aku lakukan. Percuma kan mempertahankan smuanya seorang diri ? aku menyerah. “ lanjutku. Akhirnya air mataku tumpah juga.
“Bukan begitu Ta, aku Cuma sibuk. Di kantor itu kerjaan banyak bgt. Mau tau kenapa aku jarang sms kamu? Ya karna kerjaan aku dikantor buanyaaak , bahkan kadang aku tdk makan siang. Itulah sebabnya aku jarang sms kamu bahkan jam makan siang sekalipun. Malam pun aku tidak bisa. Aku harus mengurus papaku yang sakit. Satu rumah sibuk karna papaku sakit.”Jelasnya meyakinkanku.
“Oke, sampai kapan aku harus mengerti kamu? Akhir-akhir ini, belum sedikitpun kamu mengerti aku. Selalu AKU. Ingetga, Dulu kamu sempetin buat kirim sms ucapan selamat pagi atau malam, sesibuk apapun kamu. Inget ga, kamu dulu sibuk pas PKL, tapi kamu berusaha selalu ada buat aku. Kemana kamu yang dulu ?”
Aku masih terisak. Malam itu sungguh kelabu. Hari Sabtu. Di saat semua yang memiliki pacar sedang senang senang menyambut malam minggu, aku bahkan hanya dirumah dan menangis  walau ada pacarku disana. Walau aku tau, mulai malam ini aku harus memutuskan bahwa dia bukan pacarku lagi. Berat. Aku belum siap, ya Tuhan. Kenangan kita. Cerita kita. Tawa canda kita. Berputar didlm kepalaku. Seketika aku rapuh. Kekuatan yg aku kumpulkan untuk mengungkapkan ini tibatiba sirna. Aku sama sekali belum siap. Belum siap meninggalkan smuanya.
“Kamu yakin ?”tanyanya meyakinkan.
Aku hanya mengangguk sambil terus menangis
“Aku ngerasa masih ada hal yang kamu sembunyikan. Aku ga mau kamu merasa tidak yakin” katanya menghela nafas.
“Aku cape Wil, aku merasa semua sia-sia. Aku lelah.”
“Sebenarnya aku mau cerita sesuatu sama kamu”katanya lagi. Kali ini tatapannya serius. Hatiku berdebar-debar. Bukan bedebar-debar layaknya aku akan mendapatkan kejutan. Tapi kejutan apa lagi yang aku dapatkan dari akhir kisah ini, ya Tuhan.
“Sebenarnya aku mau bercerita ini sejak aku pulang dari Luar Kota minggu lalu. Tapi aku tidak berani.”
“Apa?” aku mengernyitkan kening. Kejutan apa lagi ya Tuhan, tanyaku dalam hati sekali lagi pada Tuhan.
“Janji jangan marah ya.” Pintanya padaku
Aku hanya mengangguk, bukan sebagai tanda “ya” namun, bermakna “aku tak janji”
“Sebenarnya … tapi janji nih ya jangan marah.”
“iyah .” singkatku.
“Waktu aku ke Makassar kemarin, aku tiba disana subuh Ta. Aku cape banget. Trus kita langsung check in di hotel. Teman kantorku nawarin aku untuk pijat. Semua biaya yang tanggung kantor. Ya aku mau.”
“Lalu ?” aku penasaran, tiba tiba jantungku berdegup kencang . ada apa ini ya Tuhan…
“Aku terima tawarannya. Aku tunggu tukang pijatnya dikamar sambil tiduran. Aku Cuma pakai handuk aja. Entah mengapa, tukang pijatnya sengaja menggodaku.”
“Apa yang kamu lakukan? Kamu ngapain aja? Tukang pijat ngapain kamu?  Jablaynya cantik? Seneng dong kamu ? hahaa” sindirku sinis dan berusaha tertawa renyah. Seketika rasa banggaku terhadapnya luntur.
“Ya.. kamu taulah, dia pegang itu…”
“Apa?” nada suaraku ingin meninggi namun lemah rasanya. Sehingga hanya seperti sayu angin.
“Kamu melakukan itu. Ga inget aku sama sekali? Ga inget bahwa disini ada orang yang sayang sama kamu? Wil, kamu buat aku merasa hina. Untuk yang kesekian kalinya.”kataku pelan.
“Maksudmu?” Wil mengernyit
“Ya, aku lebih hina dari para pelacur itu. Tau kenapa ???  Mereka tau perbuatan mereka salah, namun pelacur itu punya alasan mengapa mereka melakukannya.. karena kebutuhan hidup, Wil !! sedangkan aku ???? selama ini aku menyerahkan semuanya untuk kamu namun aku tiidak berkekurangan apapun. Smuanya hanya berlandaskan cinta. Dan ini yang kamu berikan padaku sebagai balasannya. Hina !!! Aku hina, Wil. Kenapa kamu ga nolak ! kamu kan bisa nolak Will. Dimana otak mu ?” aku terpancing emosi.
“Aku ga ingat kamu sama sekali. Tapi kan bukan mauku, Ta. Aku juga gak tau kalau tukang pijatnya kayak gitu.” Dia terus memebela dirinya, terus berargumen.
Dengan lemas aku menunduk. Ku seka air mataku. Ku tegarkan diriku. Kusatukan kepingan hatiku yang hancur. Aku diam. Kehabisan kata-kata. Tak ku tatap lagi matanya. Bukan tak berani. Tapi dia tak layak. Hening. Ingin rasanya aku menamparnya. Kalau tak ingat bahwa baru kurang lebih se-jam yang lalu aku mencintainya dan tak akan sanggup melepaskannya. Rasa itu berbeda. Walau kenangan itu terus berputar dikepalaku, namun semuanya bagiku fatamorgana. 3 tahun hanya berarti palsu. Aku kesal setengah mati. Bukan rasa kesal seperti se-jam yang lalu . rasa kesalku saat ini karena aku tak bisa melampiaskan kekesalanku ! Menamparnya, memukulnya, apapun yang kulakukan untuk membalas semua ini, tidak akan setimpal dengan apa yang telah dilakukannya.
“Hem, aku lapar Ta, kita makan diluar yuk.” Ajaknya memecah keheningan
“jam 9, aku tdk makan malam Wil, lagipula apa ga lucu nanti sambil mesen makanan, aku masih menangis didepan piring yang disajikan padaku.” Ucapku setengah bercanda, menegarkan diriku sendiri. Dia tertawa renyah. Aku ikut tersenyum.
“Kamu hebat,Ta. Masih bisa melucu di saat seperti  ini .”
“Sudah jam 10, pulang lah, nanti mamamu mencari kamu.”alihku
Dia mengangguk.
Aku ikut mengantarnya sampai depan rumah. Masih terus ingin mengikutinya dari belakang. Masih ingin terus bersamanya. Aku tak mengerti perasaanku saat ini. Antara membencinya namun aku tak mampu atau tetap mencintainya walau dia tak layak lagi untuk mendapatkannya. Bayangan nya berlalu dari hadapanku. Motornya melaju secepat hancurnya kepingan hati yang telah ku bentuk slm 3 tahun.
Aku lemas. Rasa ini telah benar-benar sampai dibatas akhir. Langkahku gontai. 3 tahun yang sia-sia. Ah sudahlah. Mama menatapku. “berakhir, ma.” Aku  beranjak ketempat tidur. Mama diam melihatku.
Saat memejamkan mata, aku berharap ini mimpi.  
Tiba-tiba Handphone ku berbunyi.
 1 message receive
From : will
Sayang, besok aku anterin kamu kerja ya.  Lupakan masalah tadi. Met malam aii :*
 My reply :
Ga usah, aku bisa sendiri kok.
From : will
Gak apa apa. Okeh, kamu bobo aja aii. Met malam
My reply :
Pokoknya ga usah. Met malam juga

Aku tertidur. Lelap setelah semalaman menangis. Sungguh Wil, aku tak mampu menghadapi smua ini. Apakah ini nyata ?? pleaseTuhan, putar balikan waktu.

Chapter 2
21 Juli 2012
Pk 10.00 wib
               Aku menyetujui janji makan siang dengan Wil kemarin. Sekarang aku menunggunya. Tak lama ia datang. Tanpa bicara banyak kata, aku naik ke motornya. Mataku masih sembab. Padahal 2 hari telah berlalu.
Sepanjang jalan, aku diam seribu bahasa. Tak lagi kulingkarkan tanganku di pinggangnya seperti yang biasa ku lakukan setiap kali aku boncengan dengannya. Dia pun tak banyak bicara.
“Mau makan dimana ?” Tanya nya.
“Terserah.”
Motornya terparkir di gerai Hoka-Hoka Bento. Aku megikuti langkahnya masuk ke dalam restoran itu.
“Mau pesan apa?” tanyanya lagi.
“terserah.”
Dia memesankan makanan untukku. Entahlah, rasanya aku tidak bernafsu lagi.
“Mau coba menu baru, kak?” Tanya  Waiter hokben pada Wil.
“Apa ya?”
‘Edamame. Enak loh ka, coba dulu.”
“Ok. 2 deh mas.” Kata Wil
Edamame siap, tersaji di nampan ku dan dia. Ingin rasanya tertawa. Ah tapi aku tak bisa lagi tertawa tulus. Ternyata edamame adalah kacang polong ! haha, konyol. Aku tidak suka kacang. Akhirnya pesanan kami diretur dengan Chicken Katsu.
Tak banyak yang aku dan dia bicarakan selama kami makan. Tapi aku lebih banyak bicara dari dia. Semua aku sindir . ya begitulah sifat burukku. Ketika aku mulai kehilangan respect terhadap seseorang, mulutku terlihat tajam dan apa yang kubicarakan semua menjadi sinis terdengarnya. Dan kurasa dia juga cape aku sindir seperti itu.
“Yuk kita pulang.” Ajaknya setelah dia selesai menghabiskan makannya.
Sesingkat itukah?? Hanya itu ?? namun aku tak berani menungkapkannya.
Aku pun kembali mengikuti langkahnya menuju parkiran. Kami meninggalkan edamame di atas meja. Sengaja. Namun apa daya, sang waiter jujur mengantarkannya pada kami yang sudah sampai parkiran.”Mas, edamame nya ketinggalan.”
OMG. Kataku. Dasar kacang polong.
Pk 12.00
Aku kembali tidak melingkarkan tanganku saat dia mengantarkan ku pulang. Dan aku tetap kembali diam. Dipertengahan jalan dia membuka pembicaraan.
“Jadi sekarang hubungan kita apa?”
“Kamu maunya apa ?”
“Nanti kalau sudah sampai rumah, aku kasih tau.”
“Kenapa?”
“Takut kamu melakukan hal-hal konyol “
“Contohnya ?”
“Minta diturunin dari motor”
Ya, dia sudah tau kebiasaanku kalau sedang ngambek di tengah perjalanan, pasti aku minta diturunkan di tengah jalan. Aku lebih memilih jalan kaki kalau ngambek. Kebiasaan yang lumayan buruk. Kalau sudah begitu, pasti nanti dia yg susah membujukku utk kembali naik ke motor.
Sampai dirumah, aku turun. Aku sebenarnya sudah tau apa yang akan dia katakan. Tapi aku belum siap.
“Renata, kamu bilang kemarin bahwa rasamu sudah dibatas akhir kan?!”
Aku mengangguk.
“Aku ingin kita berakhir,”
“Tapi, aku masi mau menunggu untuk kamu bisa perbaiki semuanya.” Sergahku
“Tidak bisa Ta, aku sudah banyak kecewain kamu.”
“Tapi aku mau jadi orang yang bisa membuat kamu menjadi orang yg lebih baiklagi.”
“Sulit. Kita sudah mencobanya selama 3tahun, kan?”
“Jadi?”
Dia menghela nafasnya. “ Kita…… cukup sampai disini.”
“ok lah Wil, terserah kamu. Aku juga cape.” Aku menyerah. Yang terjadi, terjadilah.
“Maaf, Ta. Kamu baik, pasti lebih pantas untuk mendapatkan laki-laki yang baik pula.”
“Gak apapa. Mulai sekarang jangan hubungi aku, anggap aja kamu ga kenal aku lagi, anggap aja smua yang kita lewati itu gak pernah ada.” Aku sadar aku telah menangis lagi dan tidak mampu terkendali lagi. Tetangga depan rumah memandangi kami berdua.
“Plis, jangan menangis. Aku gabisa lihatnya.”
“Ga bisa, Wil. Aku punya perasaan. Mama kamu jahat Wil. Dan kamu tidak mau memilih aku. Kamu kan pernah janji sama aku Will. Kamu jahat.“
“Please Ta, mamaku tidak ada maksud jahat. Kalau kamu di posisi aku, pasti juga kamu akan lebih memilih orang tua kamu dari pada pacar kamu kan ?”
“Aku gak akan lupakan ini semua kok. Aku akan jadikan smuanya kenangan indah,”katanya lagi.
“Terima kasih Will, kamu telah rampas semua yang aku punya.”
Aku pun menangis sambil masuk kedalam rumah. Seketika itu juga  motornya lenyap begitu cepat dan tak akan kembali lagi untuk menjemputku.

Pk 13.00
To : Will
Maaf kalau selama ini aku banyak salah sama kamu. Tapi asal kamu tau, perasaanku tidak akan berubah, Wil. Terserah kamu J
 15 menit kemudian
To : Will
Plis, bales sms aku. Terserah kamu mau anggep aku apa, tapi jangan cuekin aku begini. Kita bisa jadi sahabat kan ?
30 menit kemudian
To : Will
Ok, bagi kamu, aku emang Cuma sampah, Wil. Makasi banget ya selama ini. Aku cape. Kecewa.
Not delivered.
Hapenya dimatikan. Tak satupun SMS ku di balas. Aku tertidur. Sudah cukup aku merendahkan diriku sendiri demi cinta yang sebenarnya hanya berdasarkan rasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan padaku. Aku hanya masih belum bisa terima bahwa dulu aku pernah ‘melakukan’ dengannya.
Chapter 3
Rumah Priscilla
24 Juli 2012
Pk 19.00 wib

Aku masih tersedu sedu disana. Rumah Priscilla. Sahabat SMP ku. Cuma dia yang selalu punya kata-kata jitu untuk mematahkan semua argumenku dan nasihat-nasihat ampuh untuk menegarkanku. Diantara smua 4 sahabat lainnya, aku memang terakhir belakangan ini lebih suka curhat ke Priscil.  Ya kurasa, dia lebih memahami apa yang aku rasakan walau dia tidak mengalami.
Kadang aku kesana juga hanya sekedar melihat hamster lucu yang mengingatkan ku pada yang telah mencarikannya untuk ku sebagai hadiah ulang tahun Priscil. Ah, memandang kedua hamster itu, membuatku semakin ingat kenangan-kenangan lainnya jauh sebelum itu.
“ Sudahlah, Ren. Yang berlalu ya sudah berlalu. Ambil sisi positifnya. Kalau dipikir-pikir bukannya lebih baik kalau lo tau sekarang daripada terlalu jauh kan ?” katanya menyadarkan lamunanku.
Aku diam, aku mengerti kata-katanya namun sulit ku ku cerna dalam akal logika yang masih belum sempurna ‘sembuh’.
“ Yaudahlah, toh suatu saat karma itu ada, Ren. Dia akan dapetin hal setimpal dengan apa yang telah dia lakukan sama lo. Tuhan itu adil, Ren. “ katanya lagi namun aku masih mengelus-elus bulu Pyong-Pyong, hamster lucu bermata merah itu.
“Tapi, dia udah ambil semua yang gue punya, Cil. Ga adil aja bagi gue. Gue melakukannya atas dasar gue percaya dan cinta sama dia. Lo tau kan, kita pernah ngapain aja….dia tuh…” aku tak mmpu lagi meneruskan kata-kataku. Terlalu sakit rasanya ditinggalkan dalam keadaan ‘terenggut’.
“Dia bilang dia mau usaha perjuangin gue dihadapan mamanya. Dia bilang janji setia akan selalu sama gue apapun yang terjadi. Dia janji ini itu ini itu, dan gue percaya…”aku terisak lagi dengan Pyong-Pyong dalam dekapanku.
“Ya emang sulit Ren, tapi pasti bisa kok lupain dia. Asal lo jangan komunikasi lagi ama dia untuk sementara. Lo harus percaya, kehilangan malah menjadikan kita menjadi otang yang lebih kuat. Dan siapa tahu Tuhan telah menyiapkan orang yang lebih baik dari dia buat lo.”
Mendengar kata-katanya, tangisku pun pecah.
“Ren, stop menangisi otang seperti dia. Dia itu ga layak untuk ditangisi. Justru lo harus tunjukin ke dia dan keluarganya kalau pandangan mereka itu salah terhadap lo. Tunjukin kalau lo itu pantas mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari apa yang udah dia beri sama lo selama inni.”
Aku diam. Berusaha untuk tidak menangis lagi.
“Cil, makasi yaa…”kataku pelan.
“Iya, jangan terjerumus di hal yang sama lagi ya. Jangan melakukan ‘itu’ lagi sebelum lo menemukan orang tepat dan pasti menjadi pendamping hidup lo.”
Aku mengangguk pelan.

Pk. 23.00 wib
Dear diary, dunia itu aneh. Tuhan menciptakan manusia itu berbeda-beda untuk saling melengkapi kan? Bukankah seharusnya atas dasar nama ‘cinta’ semua hal bisa diperjuangkan ? Mengapa ada cinta yang harus terpisah hanya karena ada nya perbedaan?
Tuhan, kami saling cinta. Tapi kenapa harus kau beri takdir dan kenyataan bahwa cinta kami cukup sampai disini? Mengapa kau berikan aku kesempatan 3tahun untuk terus merasakannya? Apakah kau tahu Tuhan, 3 tahun bukan waktu yang singkat dan kini aku sulit melepaskannya. Mengapa tidak saat kami setahun ? mengapa harus menunggu sampai 3 tahun? Semua yang aku perjuangkan menjadi sia-sia.
Diary, aku sebenarnya tak  tahu apa yang aku rasa saat ini. Aku butuh dia disampingku. Apakah itu tandanya aku masih cinta ? atau hanya karena aku belum terbiasa kehilangan canda tawanya ?
Kenapa aku tidak dilahirkan sebagai  chinnesse ? Kenapa aku pribumi ?
Aku ngantuk dear, besok aku curhat lagi sama kamu ya.. aku masih belum bisa terima kenyataan ini.  Semoga semuanya segera berlalu. Semoga aku cepat lupa dengan masalah ini. Semoga aku …….masi bisa menjadi manusia yang lebih baik. Buat kamu yang disana, trimakasih, dan semoga kamu dapatkan yang terbaik. Yang lebih baik dari aku. L


Flashback
Chapter 4
12 febuari 2012
Pk. 09.00 wib
 Hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Hari pemotretan untuk buku tahunan kami  para siswa Akomodasi Perhotelan. It’s time to go to Cipanas ! sebelum hari ini, aku sempet deg-deg an Karena menjelang H-5, Will terserang tipus dan aku takut tak bisa melewati waktubersamanya. Untung hari ini dia masuk karena sudah agak baik keadaannya. Saat ini aku hanya merasa ingin selalu ada didekatnya karena waktu bersama kita hanya tinggal sebentar lagi. Setelah semua kegiatan di kelas XII berakhir, aku tak akan merasakan suasana masa SMA yang indah lagi nantinya.
Aku menantikan quality time penuh bersamanya. Rencananya pulang sekolah nanti, dia akan menjemputku lagi untuk kembali berkumpul disekolah bersama anak Perhotelan lainnya naik bus bersama-sama. Tur kali ini benar-benar kerja keras kami semua tanpa melibatkan guru sama sekali. Dari biaya, penginapan, konsumsi, hingga transportasi, semua adalah partisipasi dan kontribusi dari kami dan untuk kami. Untuk pertama kalinya aku merasa kekompakan dan suka cita dalam tur kali ini. Hubungan kami di kelas pun semakin erat menjelang detik-detik terakhir perpisahan kami. Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa aku pun sudah sampai dititik ini. Titik dimana aku takut kehilangan Will dan tidak bisa bertemu lagi.
Walau sekeras apapun Will berusaha meyakinkanku bahwa setelah masa SMA perasaannya padaku pun tidak akan berubah, namun aku tetap kuatir. Aku merasa sesuatunya akan terlihat nyata saat semuanya selesai nanti. Mungkin saat ini Will belum merasakan kekuatiran yang aku rasakan.

Pk 21.00 wib
Kami baru saja tiba dipenginapan dan bersiap untuk tidur setelah seharian badan kami pegal duduk berdesak-desakan. Maklum, bus yang kami tumpangi, bus kecil TNI karena demi mengirit biaya, kami memilih mini bus TNI sebagai transportasi murah meriah kami. Sepanjang perjalanan aku dan Will saling bergantian menyandarkan kepala. Saat giliranku bersandar di bahunya, segala sesuatunya menjadi tenang, seolah damai dan aku yakin aku bisa memilikinya suatu saat nanti walau susah perjalanan cinta itu.
Aku cukup lelah. Ketika berusaha memejamkan mata, Hp berdering ada SMS.
From : 0857623xxxx
Renata, saya harap kamu tidak macam2 yah disana. Jangan rusak kepercayaan saya untuk yang keduakalinya. Jaga diri kamu ya. Selamat malam.

Aku terbangun. Ku kucek mataku. Ku amati baik-baik nomer tak dikenal itu. Aku sebenarnya tahu siapa pengirimnya. Ku berlari menunjukan SMS itu pada Will. Will membacanya.
“Dari mama.” Katanya setelah melihat nomor pengirim itu.
Aku ingin bergegas kembali kekamar setelah memastikannya pada Will. Sebentar aku menoleh padanya.
“Gak usah ku balas ya?”tanyaku
“Balas saja, ya.”
Aku pun mengangguk sambil terkantuk-kantuk.
14 febuari
Pk 09.00 wib
Sesi pemotretan buku tahunan kami selesai sudah. Saatnya kembali ke Jakarta lagi. Kami pun berkemas kemas. Dan Will kembali duduk disampingku. Aku kembali menyandarkan kepalaku di bahunya. Ada kedamaian disana.
Aku masih memikirkan SMS mamanya tadi malam. Aku teringat kejadian hampir setengah tahun yang lalu, saat aku bermain dirumahnya saat rumahnya kosong dan sepi. Hanya kami berdua. Ya kami memang salah telah bercumbu disana. Dan om-nya Will yang tanpa diduga tiba-tiba datang melaporkan semuanya.  Bahkan melaporkan apa yang sama sekali aku dan Will tidak lakukan. Semua tuduhannya dilebih-lebihkan membuatku pasrah saja. Aku semakin takut menghadapi kenyataan bahwa keluarganya sampai kapanpun tidakmau menerima aku semenjak peristiwa itu. Jauh dari dalam lubuk hati Willl pun aku tahu, dia sangat menyesal mengajakku kerumahnya disaat rumah nya sepi dan memaksaku bercumbu disana. Hal itu malah semakin membbuat mama nya semakin membenciku dan men-cap ku sebagai perempuan nakal. Ah yasudahlah, saat bersama Will aku merasa semua masalah tenggelam untuk sementara. Aku teringat pagi tadi saat bangun, dia mendaratkan ciuman dikeningku. Seketika pun aku lupa akan masalah pertentangan hubungan ini oleh keluarganya.
Pk 20.30 wib
Macet sekali perjalanan hari ini serta guyuran hujan yang begitu lebatnya. Aku tertidur pulas walau rasanya sesak sekali tidur di dalam mini bus ini. Tapi adanya Will yang juga tertidur disampingku, aku merasa nyaman senyaman nyamannya. Sesekali aku melihatnya yang sedang tertidur. Begitu lucunya. Sesekali pula aku tersenyum dibuatnya.
Aku memandang ke jendela kaca, apa setelah semua ini usai, aku masih bisa melihat wajah polos itu ketika tidur, apakah aku masih bisa merasa nyaman walau kekuatiran menghantui tidurku, dan  apakah ada lagi kedamaian ditempat lain selain masih bisa terus bersama dirinya?
               “Ta, bangun. Sudah sampai nih.” Will mengguncang guncangkan tubuhku mengira aku masih tertidur.
               “hehe.. iyah. Turun duluan gih. “
               “Sini aku bawain tas kamu. Ayuk sudah malam.” Ajaknya sambil menggandeng tanganku. Aku pun tersenyum tanpa sadar.
Pk 21.00 wib
“kamu laper gak?” Tanya nya saat aku memeluk pinggangnya di motor.
“enggak, yang. Kamu laper? Tapi ini udah malam.”
“ahh, gak apa apa. Aku laper banget. Makan dulu yuk.” Ajaknya sambil memegang tanganku.
“Iyah, terserah kamu ajah , yang.” Ucapku sambil terus mendekapnya. Aku sangat menyukai wangi mantel coklatnya ini. Wangi khas tubuhnya menempel disana.
Kami mampir di tenda nasi goreng  kaki lima hampir dekat rumahku. Sambil menunggu nasi goreng pesanan kami selesai, kami lebih banyak diam. Aku sudah agak terkantuk kantuk dan dia juga agaknya sudah lelah sambil menahan lapar.
Porsinya nasi goreng yang kami makan lumayan banyak juga. Aku hanya mampu menghabiskan setengahnya, sisanya Will yang melahap semuanya.  Aku dan Will menghabiskan banyak acar. Aku sampai meledeknya bahwa tukang nasi goreng pasti sebal dgn kami karena kami telah membuatnya rugi. Tapi sungguh, acarnya enak sekali.
Setelah kenyang, kami pulang dan aku kembali memeluknya saat aku ada di boncengan motornya. Kalau bisa, tak akan  aku lepas dekapan ini. Tapi sayangnya, malam yang begitu larut mengharuskan kami untuk berpisah
“Hati-hati Will,” kataku saat ia ingin pamit pulang setelah mengantarkanku
“Sip.” Jawab Will singkat. Dan motornya pun kembali berlalu dari hadapanku. Aku sampai lupa mengucapkan ‘happy valentine’ padanya. Ah. Yasudahlah.
Chapter 5
20 Febuari 2012
 Segala sesuatunya sudah berubah. Aku tak sanggup melepas semuanya. Apa yang salah dengan hubungan beda suku ? Aku tahu, aku pribumi walau tidak sepenuhnya. Aku hanya kurang beruntung saja karena kulitku tidak putih seperti orang chinnese kebanyakan. Aku masih merayakan imlek kok. Aku ikut tradisi-tradisi tionghoa walau tidak semua karena sudah luntur oleh adat dan  bertentangan dengan agama yang aku anut saat ini. Tapi semua saudara-saudara ku memang chinnesse.
Sangat tidak adil rasanya hubungan dipertentangkan hanya karena perbedaan suku. Kalau boleh jujur, sebenarnya hatiku sakit. Baru kali ini aku merasakan ada orang yang mempermasalahkan status ku sedemikian rupa. Bahkan sampai kemasalah bahwa aku ini pribumi.
Aku masih ingat sekali kata-kata Will dengan jelas bahwa keluarga Will sangat menentang sekali pernikahan beda suku. Jadi, kalau bisa harus sama-sama chinnese. Tapi tak ku sangka 3tahun yang kami lalui tak membuat mama papanya jera dan jenuh untuk terus memaksa mengakhiri hubungan kami.
Bahkan Will cerita bahwa om nya menikahi perempuan Pribumi suku Jawa dan kini memiliki 2 anak. Anak perempuan yang sulung dan si bungsu anak laki-laki. Entah pemikiran apa yang sudah mendarah daging dalam tradisi keluarga mereka. Si sulung yang memiliki rupa seperti ibunya dan berkulit coklat, sama sekali tidak dianggap oleh nenek dan keluarga lain mereka. Dia kerap kali diperlakukan berbeda dengan yang lain bahkan tak dianggap cucu oleh sang nenek. Sementara si adik pun tak mengenali dia sebagai kakak karena perbedaan rupa yang sedemmikian rupa.
Tak ada yang menampung si sulung berhubung ibunya menjadi TKW di Arab dan tak kembali. Sementara sang om tidak sempat mengurusi anaknya. Akhirnya si sulung dirawat dan ditampung dirumah Will, sementara adik nya yang kecil dan berupa chinnesse ditampung oleh sang nenek denga penuh kasih sayang.
Bahkan perlakuann itu masih berlanjut disaat cinta telah berbenih anak. Tak terbayang bila aku benar menikah dengan Will, dan anakku sama sekali tidak dianggap oleh keluarganya dan kami dikucilkan. Kemanakah hati nurani kalian, hai manusia. Aku berbicara seperti ini bukan karena aku berada dipihak yang dilecehkan, namun jika aku dipihak kalian pun, hatiku tidak akan tega memisahkan kaka beradik agar tidak saling mengenal hanya karna perbedaan suku dan warna kulit !
 Chapter 6
14 Maret 2012
Nyali ku menciut. Semakin kesini, mengapa hubungan kami semakin hambar? Semakin jauh jarak antara aku dan dia. Aku merasa dia mulai menjauh dan semakin kesini, semakin terlihat bahwa pemikiran kami semakin berbeda. Aku baru tahu rasanya kejenuhan dalam pacaran adalah seperti ini rasanya.
Aku pesimis bisa bertahan di situasi ini. Aku tidak mampu lagi berharap penuh pada Will. Sekarang waktu Will terlalu singkat bagiku. Aku tidak lagi merasakan getaran cinta yang dahulu aku rasakan saat aku menyentuhnya. Rasanya berbeda. Dan tatapan matanya terlalu asing bagiku. Aku tidak tahu yang mana yang benar. Apakah perasaanku yang salah, atau memang Will sedang menjauhi aku ?
Aku takut kehilangan dia. Kupandangi diary ku. Ku baca kisah-kisahku yang sudah lalu. Betapa indahnya masa-masa itu. Belum ada kerumitan disana. Aku merindukannya. Masih merindukannya.
“Ta, mau istirahat ga?” Tanya Will membuyarkan pikiran kusutku.
“Mau. Tapi makan apa ya? Lagi hemat nih.”
‘Yaudah, makan mi shoor aja haha.” Ledek Will padaku.  Mi shoor adalah makanan ringan pokok kami. Hampir setiap istirahat, mi shoor jadi cemilan kami berdua.
“Makan mi ayam aja yuk. Aku bayarin deh.” Kataku
“Terserah kamu.” Lalu dia menarik tanganku dan berbaris dibelakangku. Kedua tangannya memegang bahuku seperti anak kecil bermain kereta-keretaan. Selalu begitu. Kadang aku geli sendiri mengingatnya.
Tapi aku masih meragukan perasaanku ini. Aku belum sepenuhnya kehilangan rasa untuknya. Aku masih belum sanggup. Tapi aku  teringat akan janji ku pada seseorang untuk menjauh dari Will. Ah sudahlah, perutku semakin  kriuk memusingkan masalah ini. Will, cepat atau lambat, semua pasti akan  berakhir. Mungkin kamu lebih tahu waktunya dibanding aku. Tapi apa kamu menyembunyikannya juga ?

18 Maret 2012
               Hari ini hari ulang tahunnya Will. I know, I should give him some suprises mengingat banyak masalah yang muncul akhir-akhir ini diantara kami. Tapi kesibukannya tidak sempat meluangkan waktu bagiku mengurungkan niatku untuk memberi kejutan padanya. Aku hanya menyempatkan waktu untuk memberinya ucapan lewat SMS saja tadi pagi sebelum berangkat sekolah.
               Aku rasa memang benar, hari-hari sudah tak seistimewa dulu walaupun bersama dia sekalipun. Hampa semua rasanya. Aku rasa bukan hanya aku saja yang merasakan rasa yang agak aneh akhir-akhir ini. Mungkin Will juga merasakan yang sama. Aku merasakan adanya perubahan dalam hal dia bersikap. Dia mulai jarang mengucapkan selamat pagi untukku, selamat tidur untukku, maupun hanya sekedar berpuitis ria seperti yang dulu dia sering lakukan padaku. Quality time yang kami lakukan juga hanya sambil lalu saja.
               Aku tahu Will berusaha bersikap sewajarnya padaku. Dia berusaha menjadi diri dia yang dahulu. Aku tahu dia pun menyadari bahwa aku merasa risih dengan perubahan itu. Terlihat dari raut mukanya yang mulai agak enggan jika ku ajak pergi kesuatu tempat walau hanya sekedar makan. Dia selalu menanyakan jam dan terlihat menutupi kegelisahannya. 2 tahun lebih bersama, aku tak mungkin tidak hafal dengan segala perubahan sikapnya.
               “Will, ada yang kamu sembunyikan dari aku?” Tanya ku padanya saat kami kehabisan bahan pembicaraan ketika kami berada dirumah Verena, teman akrab kami. Kami memang biasa  main dirumah Verena. Sekedar merayakan ulang tahunnya secara sederhana setelah pulang sekolah.
               “Tidak, memang kenapa sayang?” katanya. Jemarinya memainkan ujung rambutku saat aku duduk di pangkuannya.
               “Sungguh? Bohong dosa loh Will.” Kataku lagi tak y akin. Mataku menatap tajam sorot matanya. Ada kegelisahan disana.
“Hehee..”cengir Will
“Aku masih kamu anggap pacar kamu kan ?”
“Masih. Kamu kenapa tanya begitu?”Will mendekatkan wajahnya tepat di hadapan wajahku. Kira-kira 5cm jaraknya.
“Kamu sayang sama aku?” Tanyaku pada Will sekali lagi
“Sayang banget.”
“Banget?” Aku mencoba meyakinkan
“Iya.” Will mencubit pipiku.
“Kamu janji gak akan meninggalkan aku?” tanyaku lagi yang masih ragu. Aku merasa masih ada kabut yang bersembunyi di hatinya.
“Janji.” Will memelukku dari belakang. Dia mencium rambutku. Pelukannya semakin erat. Namun aku tahu, ada keraguan dari jawaban yang terlontar dari mulutnya.
“Ta, Will, tumis kangkung udah jadi nih. Ayo makan.” Verena tiba-tiba datang membuyarkan semua pembicaraan serius kami.
“Wah, enak banget nih pasti.” Kataku bersikap seolah-olah tidak terjadi apa apa.
“Haha tumis kangkung mah udah makanan wajib kita tiap kali kalian datang kesini ya!” canda Verena
Kami pun tertawa bersama-sama. Memang, tumis kangkung, sambel, bakwan, Lele, tumis pare, semua makanan itu hanya berputar menu setiap kami main dan numpang makan dirumah Verena. Kebiasaann kami memang selalu mampir kesini kalau tidak ada kesibukan setelah pulang sekolah. Tempat ini adalah tempat favorit kami. Kami biasa curhat disini. Seperti hari ini. Aku menanyakan kegundahan hatiku padanya. Walau sebenarnya belum cukup semua pertanyaan itu bagiku tuk meyakinkan diriku sendiri. Aku takut kehilangan kamu Will, kataku dalam hati.
16 April 2012
 Hari ini hari yang kutakutkan. Hari terakhir berkumpul di sekolah. Tidak ada acara pasti. Hanya mengikuti classmeeting sembari pengumuman kelulusan diumumkan. Aku takut akan hari setelah ini. Aku sungguh tidak dapat tersenyum tulus walau seceria dan seheboh apapun hari ini. Bukan karena aku takut tidak lulus. Rasa takut yang lebih dari itu. Hebat sekali aku ini, aku lebih takut berpisah dengan Will, di banding pengumuman kelulusanku. Entah mengapa, aku lebih yakin bahwa aku pasti lulus dengan nilai yang baik daripada yakin bahwa setelah lulus Will masih mencintaiku seperti dia mencintaiku pertama kali.
“Perasaan aku sama kamu akan tetap sama, walau nanti kita tidak duduk bareng lagi kayak waktu dikelas, walau tidak setiap hari bertemu seperti saat disekolah, walau tidak setiap kali aku merasa dekapan kamu dimotor setiap kita pulang sekolah bersama, perasaan aku tetap sama. Yang berbeda hanya jarak. Dan jarak tidak akan mengalahkan semua itu.” Kata Will meyakinkanku saat aku menangis di pinggir lapangan walau saat itu semua orang bersorak kegirangan akan perlombaan tarik tambang yang begitu serunya.
Aku hanya diam saja, tidak berani menatap matanya. Aku menunduk dan masih tetap tersedu. Sementara dia menggenggam jemariku.

After Graduation Day
Chapter 7
 26 April 2012
Hari ini aku berencana bermain di rumah Verena lagi. Sejak Ujian Nasional selesai, aku selalu kesini karena bosan dirumah sekaligus bisa lebih dekat dengan Will. Pasti Will akan ikut kesana. Kemanapun aku pergi, dia pasti sempatkan dirinya untuk ikut bersamaku. Aku beruntung karena merasa dia selalu menjagaku. Verena juga pasti senang karena punya teman di rumah
Sesampainya disana, ternyata Verena sedang sibuk masak. Aku yang tidak punya keterampilan masak hanya menunggu diruang tamu sambil menonton TV, sementara Will yang memang jago masak ikut sesekali membantu dan kadang ke ruang tamu hanya sekedar bercumbu denganku.
Kadang kalau Verena sedang sibuk atau pergi kepasar, kami membiarkannya pergi dan kami pun hanya berdua dirumah berhubung memang Verena selalu tinggal sendirian dirumah karena mama dan kakaknya bekerja dan jarang pulang. Will selalu menggunakan kesempatan itu untuk menggoda dan mencumbuku. Pikiran kotornya selalu dia lampiaskan padaku. Baru kali ini aku melihatnya senafsu itu mencium bibirku. Rasanya hangat ketika dia mendekapku. Tangannya meraba dadaku sembari lidahnya bermain di dalam mulutku.
“Sayang, boleh gak aku meminta itu…” pintanya sambil melirik ke bawah rok ku.
“Gak boleh.” Kali ini imanku sedang sungguh-sungguh diuji.
“Kalau kita sudah nikah, pasti akan ku beri.” Lanjutku.
“Please..” dia terus memohon sambil mencium bibirku.
Imanku goyah juga. Karena begitu besar cintaku padanya, aku merelakan semuanya. Perlahan-lahan dia melucuti semua pakaianku. Diapun terlihat sangat menikmatinya. Kami pun melakukannya. Hingga tiba-tiba darah sudah membasahi seluruh celanaku. Rasanya sakit sekali.
Aku pun membersihkannya di kamar mandi sekaligus berpakaian. Tak lama kemudian, terdengar suara motor memasuki pekarangan rumah. Ya, pasti Verena sudah pulang dari pasar. Dan semuanya kembali seperti tidak terjadi apapun. Namun kali ini, aku menahan sakitku. Will menatapku cemas, “maaf ya,” bisiknya ditelingaku. Aku hanya menunduk melihat bekas darah di jarinya.
29 April 2012
Hari ini mungkin menjadi hari terakhirku bermain di rumah Verena. Hari Senin besok Will sudah bekerja, ku pun juga sama. Aku pun ingin sekali menghabiskan kesempatan berdua dengannya kali ini. Aku takut setelah ini kami sama-sama sibuk sehingga jarang bertemu lagi.
“Ta, aku sayang kamu.” Will mencumbuku lagi.
“Aku juga.”
“Boleh tanya sesuatu?’ lanjutku
“Jawab dengan jujur yah.” Mohonku lagi.
Kali ini Will duduk menatap mataku, sambil melingkarkan lengannya dileherku. “Iya, sayang,”
“Kalau kamu disuruh memilih aku atau keluarga kamu, kamu pilih mana? Kamu mau putusin aku demi keluarga kamu gak?” aku menunduk ketika aku melontarka pertanyaan itu pada Will.
Dengan menghela nafas berat, Will menjawa pertanyaan yang aku tahu sangat sulit baginya.
“Aku tidak bisa memilih. Bagi aku, kamu dan keluarga ku sama-sama berarti dihidup aku.”
“Tapi mama kamu ga suka sama aku.” Aku meng-interupsi jawaban Will.
“Aku akan berusaha tidak melepaskan salah satu dari kalian. Aku akan lebih keras meyakinkan mamaku bahwa kamu adalah pillihan terbaik di dalam hidup aku. Aku pasti perjuangin kamu, Ta.” Ujar Will dengan raut wajah serius.
“Kalau tetap tidak berhasil, bagaimana?” aku pesimis.
“Aku akan bekerja lebih keras, cari uang yang banyak.” Jelasnya tegas namun sorot matanya melayang entah kemana. Tidak menatapku. Tidak seyakin saat dia menjawab pertanyaan bahwa dia sangat menyayangiku.
“Buat apa?” aku mengernyitkan kening lalu bersandar dipangkuannya.
“Aku akan membayar semua yang mamaku beri. Apa yang dia mau, aku akan penuhi, aku akan menyenangkan hatinya, setelah aku menyenangkan dia dan sudah cukup uang yang aku miliki, aku akan membawa kamu pergi. Mewujudkan keinginan kita.” Jawab Will. Kali ini suaranya surau. Melemah.
“Apa kamu tidak takut durhaka? Aku tidak mau menjadi penyebab seseorang durhaka sama orang tuanya yah.”
“Aku tidak memaksa kamu untuk tetap disini. Tapi kamu sadar apa yang telah kamu lakukan sama aku kan? Aku mau kamu tepati janji sebagai pertanggung jawaban. Tapi aku gak mau kamu juga melawan keinginan mama kamu untuk memutuskan aku sehingga kamu jadi anak durhaka, Will.”
“Gak lah, makanya aku harus menyenangkan dia terlebih dahulu. Jadi kamu sabar aja ya.” Pintanya.
“Janji?”
“Iyah, Ta.” Dia menutup pembicaraan itu dengan mencium bibirku. Lama sekali. Dan aku baru merasakan ciuman layaknya melakukan perpisahan ini.
01 Mei 2012
Sekarang Will dan aku sudah sama-sama bekerja. Dia bekerja di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Sementara aku di daerah Rawamangun. Dia bekerja di perusahaan yang bisa kubilang rasis. Bagaimana tidak kalau seluruh karyawan yang diterima disana harus Chinnese dan beragama Kristen. Will memang memenuhi semua criteria itu. Padahal ini termasuk perusahaan besar dan terkemuka di Indonesia dengan berbagai macam produk yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Beruntung sekali Will bekerja disana. Karena merupakan salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia.
Seminggu dua minngu disana, awalnya baik-baik saja. hubungan kami masih erat seperti dulu walau jarang bertemu. Dia sering meneleponku untuk mengatakan kangen. Walau harus pakai telepon kantor. Dia juga masih suka SMS aku walau ditengah padatnya kesibukan yang dia jalani dan walau sesingkat apapun SMS nya, aku menghargai sekali perhatian yang dia berikan padaku. Membuatku juga semakin semangat bekerja dan menjalani hari. Namun semua tidak berlangsung lama. Semua berubah.
Sebagai perusahaan terkemuka di Indonesia, mengharuskannya lembur dan keluar kota setahun sekali. Belum lagi jam makan siangnya yang terampas karena sibuknya berbagai kerjaan yang harus ia selesaikan. Kalau sudah begini, aku pasti ngambek. Bayangkan saja, semua SMSku selalu dibalas singkat sekali.  Malah, kadang tidak sempat dibaca.
To : Will
Met makan siang
From : Will
Iya, kamu juga
To : Will
Kamu sibuk?
From : Will
Banget.
To : Will
Yaudah met kerja
No reply.
Sebal sekali. Di cuekin begini. Kadang aku berpikir, apa ini sudah menjadi tanda-tanda dari hancurnya hubungan kami? Apa rasa sayang nya tidak sama seperti dulu lagi?
Ah sudahlah.
23 Mei 2012
Pk 12.00 wib         
Aku menunggu SMS nya dari semenjak pagi. Tapi tak kunjung berdering handphone ku. Aku melawan keinginan hati untuk SMS duluan. Sudah terlalu sering aku selalu SMS duluan, hanya sekedar mengingatkannya untuk sarapan dan makan siang. Semenjak bekerja disana, aku merasa dia tak pernah memperhatikanku lagi. Apa yang aku takuti terjadi, kan? Bahkan hanya untuk sekedar mengunjungiku seminggu sekali saja hampir tak pernah.
“Aku salah apa sama kamu?” tanya ku diwaktu senggang makan siangnya, dia mengangkat telepon dariku.
“Tidak ada, Ta.”
“Apa aku pernah mengecewakan kamu tanp aku sadari? Jujur saja aku tidak akan marah.” Desakku.
“Tidak, Ta.”
“Aku mau kamu yang dulu. “
“Semuanya udah berbeda Ta, aku gak bisa menjadi yang dulu.”
“Kenapa?” air mata ku hampir menetes ketika aku melahap roti bekal makan siangku dikantor.
“Aku ga bisa memilih, Ta. Jangan terus desak aku. Lama-lama aku tertekan kalau kamu begini terus.”
“Kamu sayang aku?”
“iyah.”
“Seberapa besar?”
“Aku gak tau kenapa. Tapi rasa sayangku ke kamu gak banget banget seperti dulu. Aku hanya sekedar sayang. Aku juga gak tahu kenapa.”
“Apa karena kita jarang ketemu?”
“mungkin”
Aku diam.
“Ta, maaf ya. Aku harus kerja lagi. Maaf banget. Jangan sedih ya.”
Aku menutup teleponku. Hancur semuanya. Hancur kepercayaan yang selama ini ku bangun. HANCUR TAK BERSISA.
Kenapa? Kenapa semuanya berubah?
30 Mei 2012
Semenjak pernyataan Will yang begitu kejam padaku, aku mulai kehilangan rasa padanya. Aku agaknya sudah setengah peduli padanya. Aku juga merasa Will mulai merasa  bersalah padaku karena ucapannya. Dia mulai mengunjungiku sehabis pulang kantor walau tidak sering. Setidaknya memang sudah sebulan lebih dia tak pernah kerumah. Sejak dia bekerja dan sibuk. Namun kali ini dia mulai sempatkan walau hanya sebentar.
Seperti hari ini, dia berjanji kerumahku. Aku pun hanya meng iyakan. Tidak ada perasaan yang sebagaimana dahulu aku senang ketika dia mau kerumah. Aku mulai mengurangi kadar candu cintaku terhadapnya. Karena aku sudah pesimis akan akhir dari cerita cinta ini. Aku tidak mau bergantung lagi padanya. Aku membiarkan semuanya berjalan normal seperti biasa.
“Ta, Bulan Juni ini aku ditugaskan kantor keluar kota.” Will membuka pembicaraan kami.
“Kemana?”
“Ke banyak kota.”
“Berapa lama?”
“kira-kira seminggu.”
“Yaudah,” kataku menghela nafas.
“Kok Cuma yaudah ?” tanya nya memanja.
“Teruus mau apa lagi? Mau aku cegah tapi ga mungkin kan? mau aku ikut juga ga mungkin kan?” jawabku sinis.
“iyah sih, ah yaudahlah makan yuk Ta.”
“Mau kemana?”
“Yang deket aja, yang bisa ku makan. Aku kan vegetarian.” Katanya seperti anak ayam kehilangan induk dan kelaparan.
“okeh.”
Dia kembali berbaris dibelakangku mengulurkan tangannya di bahuku, dan berjalan seperti kereta-keretaan. Kebiasaannya dari dulu. Aku pun tak mampu untuk tidak tersenyum karena ini. Padahal aku gundah melepas dia tugas keluar kota walau hanya seminggu.
Chapter 8
20 Juni 2012
Setelah pulang dari luar kota, sikapnya menjadi lebih dingin padaku. Berbagai cara ku coba untuk mendesaknya agar jujur. Aku mau menjadi berarti baginya. Barangkali dia ada masalah dan aku bisa membantunya. Namun segalanya bisa berbalik. Apa mungkin justru aku yang menjadi penyebab dia menjadi diam dan begitu dingin padaku. Apakah aku sumber beban berat dippikirannya?
“Kalau aku memang menjadi beban buat kamu, aku rela kok akhirin semuanya. Aku gak mau buat kamu berpikir lebih keras dari ini. Walau aku sayang sama kamu, tapi aku tau kamu diposisi yang sulit.” Aku membuka pembicaraan ini di suatu Minggu sore saat kami ada waktu untuk bicara dari hati ke hati.
“Kamu bahas apalagi sih Ta, heehe. Aku gak kenapa kenapa kok. Aku Cuma kecapean karena kerjaan kantor yang tiada hentinya.” Jelasnya mencubit pipiku.
“Aku serius Will. Aku kenal kamu. Jangan bohong sama aku. Kalau kamu merasa berat meninggalkan aku karena kamu merasa bersalah dan harus bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan sama aku. Aku rela. Anggap saja tidak ada yang terjadi diantara kita.”
“aku tidak butuh rasa tanggung jwab dan bersalah jika memang kamu tidak cinta aku lagi. Kalau aku jadi kamu pun, aku pasti memilih orangtua ku. Mungkin emang belum takdirnya, Will. Anggap saja apa yang sudah terjadi diantara kita adalah sebatas kenakalan dimasa remaja.” Aku terus bicara tanpa henti semua yang selama ini bersarang diotakku, kini keluuar dari mulutku.
“Ta, sedikitpun aku tidak pernah berfikiran seperti itu sama kamu. Aku pasti tanggung jawab. Aku juga merasa tidak enak sama kamu. Bukan kamu yang harus nanggung semuanya. Aku cuman cape.” Tangannya berhenti mencubit pipiku dan mulai melipatkan tangannya di depan dada.
“Aku cape. Dirumah aku didesak mama ‘kapan kamu putusin dia?’ Mama ku terus mengingatkan aku setiap hari. Selalu begitu. Disisi yang lain, tiap aku mencari ketenangan yang ada padamu, sorot mata yang kini ada padamu hanya kesenduan. Aku tidak tega melakukannya.” Will berhenti berbicara.
“Sekarang aku sudah rela melepaskan semuanya. Biar semua aku tanggung sendiri ajah. Kamu pikul apa yang menjadi bebanmu. Dan aku pikul apa yang menjadi bebanku. Untuk apa menyesali yang sudah terjadi, Will. Toh aku tidak hamil. Kamu tak perlu merasa bersalah. Kamu bebas memilih hidup kamu.” Jelasku dengan nada tegas namun dalam hatiku sebenarnya sudah hancur, rubuh semua harapan yang aku punya.
“Ta, jangan bahas ini yah. Aku gak mau kamu sedih. Aku gak mau kamu nangis. Please yah.. belum saatnya kita mengakhiri ini. Aku juga yakin kamu pasti masih belum rela dan masih sayang sama kau kan?’ tanya Will padaku sambil menatap langit sore.
“Lebih menyakitkan ketika aku mencintaimu lebih dari hari ini ketika suatu saat kamu mmeninggalkan aku. Dan rasanya pasti lebih sakit. Apa aku perlu amnesia, Will?” gurauku ketika menyadari air mata sudah di ujung pelupuk.
“ Jangan Renata, kenangan kita terlalu indah untuk kita lupakan.”
“Terimakasih Renata, kamu mengajarkan aku artinya mencintai dan  dicintai. Kamu mengenalkan aku akan arti kesetiaan. Kamu mengukir banyak kenangan indah di hidup aku. Dari awal kita masuk SMA sampai kita lulus sekarang.” Jemari Will menggenggam jemariku. Erat. Dan sore itu tidak akan aku lupakan seumur hidupku.
“Semua akan indah. Kamu jangan kuatir. Kalaupun suatu saat kita berakhir, aku janji akan selalu ada saat kamu butuh pertolongan. Percaya ya.” Bisik Will surau ditelingaku. Aku pun menangis dalam dekapannya.
01 Juli 2012
Aku dan Will sekarang sudah tahu kemana akhir dari cerita kisah ini. Seakan sudah tahu kapan datangnya perpisahan, kami malah semakin erat. Cepat atau lambat, semua akan berjalan sesuai dengan keinginan mamanya. Kupandangi buku tahunanku. Di halaman bagian belakang ada foto kami duduk berdua sambil tersenyum. Fotografer sengaja mengambil gambar itu untuk kami berdua. Namun kini mmungkin hanya sebuah foto kenangan. Tak ada arti lagi senyum kami difoto itu.
Aku tak tahu masih harus bersyukur atau mengeluh dengan keadaan ini. Disatu sisi, aku bahagia melepaskan cinta yang seharusnya bukan menjadi milikku. Mungkin hampir 3tahun bersamanya adalah anugerah yang luar biasa dalam hidupku. Aku jadi semangat sekolah, dia pun juga sama. Dia memang hanya dititipkan Tuhan untukku. Bukan untuk ku miliki.
               Di satu sisi, jujur sejujur-jujurnya, aku tidak mau berpisah dengannya. Bibirku memang berucap merelakannya. Namun hatiku hancur menghadapinya. Tapi aku dipaksa kuat dan tegar. Belum saatnya aku menangis. Yah, belum saatnya. Will masih menjadi milikku entah sampai berapa hari lagi dia masih menjadi milikku.
               Buyar semua perkataan teman-teman yang masih kalang kabut dalam pikiranku. Aku masih ingat sekali betapa irinya mereka dengan hubungan kami yang nampaknya jarang ada masalah, jarang ada pertengkaran, dan kelihatan awet dari kelas 1 SMA sampai lulus. Mereka tidak tahu betapa sulitnya kami menutup-nutupi segala kekurangan dari hubungan ini. Mereka tidaktahu bagaimana aku sakit hati mendengar mamanya memaki-maki aku yang seorang pribumi. Banyak hal yang tidak oranglain tahu tentang kami. Betapa pandainya kami bersandiwara tentang ini semua.
Justru sebenarnya aku yang iri pada mereka. Hubungan mereka dengan pacar dan orang tua akur-akur saja. Bisa akrab dengan orang tua pacar itu rasanya anugerah yang luar biasa buat hubunganku dan Will. Yeah, at least, walau hubungan Will dengan keluargaku baik, tapi tidak denganku. Aku terkadang mengharapkan itu terjadi sebelum aku menyerah. Namun ternyata aku memang harus menyerah dan apa yang aku harapkan tidak terjadi.
Yah memang rencana Tuhan terkadang tidak terjangkau oleh akal dan naluri manusia. Walau aku belum sanggup melupakannya, tapi bukan berarti itu tidak bisa kan. Tidak ada yang tidak bisa selama kita mau mencoba. Dan walau aku begitu mencintaimu, aku harus merelakanmu untuk mendapatkan yang terbaik. Membahagiakan seseorang yang aku sayang, rasanya sudah cukup walau tidak memilikinya. Renata, segala sesuatunya akan baik-baik saja. aku pun menghela nafas ku dan menghembuskannya menahan air mata yang mau meluncur deras nantinya.
3 Tahun yang lalu, Saat Cinta Datang Pertama Kalinya..
Chapter 9
03 Desember 2009
Hari ini hari ulang tahunku yang ke 15. Aku merasa special di usiaku yang ke 15 ini. Yup. Aku punya pacar. Baru 3 minggu yang lalu. Will namanya. Dia memberiku kejutan di hari ulang tahunku kali ini padahal tak ada sebulan kami jadian. Semua juga berkat kerja sama teman sekelas. Ini adalah ulangtahun yang tak akan aku lupakan sepanjang hidupku.
Dia mencium pipi kanan kiriku dikelas. Dia memberiku chiffon cake keju dan hadiah boneka kelinci pink sambil memegang hati yangbertuliskan ‘I love u’.  Dia juga mengantarkanku pulang kerumah. Pertama kalinya dalam hidupku, beginilah rasanya diberi kejutan oleh pacar di hari ulang tahun. Semua teman memberikanku ucapan selamat
Aku pamerkan boneka itu dikamar. Sejarah yang hebat.
To : Will
Makasi yah buat hari ini.
From : Will
Iyah my sweetie J
Ahh.. gak bosen dapet SMS dari dia setiap hari. Pasti malam ini mimpi indah.
Chapter 10
01 Januari 2010
Tahun baru kali ini aku berharap pada Tuhan. Aku berterima kasih atas setahun yang lalu diberikan kesempatan merasakan cinta. Kali ini pun aku memohon pada Tuhan agar terus menjaga cinta dia agar selalu untukku.
 Aku senang bisa melihatnya setiap hari. Aku senang mengajari dia mata pelajaran yang sulit. Aku suka tersenyum kalau wajah dia lucu saat kebingungan. Aku suka dia yang selalu romantis. Aku suka dia yang selalu mengirimi ku kata-kata puitis. Aku suka dia yang selalu memantau perasaan dan masalahku lewat facebook. Aku suka melihat dia terburu-terburu masuk ke kelas kalau hampir terlambat. Aku suka dia yang ikut menungguku ketika aku juga sedang menunggu angkutan umum. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Walau cara kami jadian itu terlewat unik. Aku menyukainya.
11 Mei 2010
Aku terharu sungguh. Saat aku hendak tidur siang, aku mendengar bunyi motor yang aku kenal. Will datang kerumah. Yah, memang sih hari ini hari setengah tahun jadian kami. Semua berjalan normal dan lancar. Tidak ada masalah yang serius di dalam hubungan kami. Dan aku bahagia semua berjalan normal. Will baik padaku. Dia tidak pemarah dan kasar.  Dia selalu berkata lembut padaku dan menegurku dengan caranya yang aku suka. Dia tahu apa yang aku suka. Dan selalu mengusahakan apa yang aku inginkan. Dia selalu mau berusaha untuk dan selalu mau berusaha hadir untukku. Aku merasa perhatiannya padaku begitu tulus.
Dengan gaya khasnya yang sopan santun dan begitu hangat dimataku, dia menyapa mama yang kebetulan sedang ada di halaman rumah. Lalu menurunkan box besar yang nampaknya bergerak-gerak. Aku bangkit dari tempat tidurku. Merapikan rambutku. Berhaburan ke luar dengan lusuhnya. Kebiasaanku  setiap pulang sekolah adalah  tidur siang.
“Ta, lihat deh. Aku bawa apa tebak? Lihat sini. “ kata Will tersenyum melihatku.
“Lucu banget Will, kamu beli dimana?” seruku membuka box berisi sepasang kelinci yang amat teramat gemuk sedang berebutan menggigit wortel.
“Ga penting beli dimana. Ini hadiah buat kamu di hari jadian kita yang 6 bulan. Kamu suka ?” tanya nya sambil mengeluarkan bungkusan plastic hitam lainnya dari dalam jok motornya.
“Ini tempat minumnya, ini vitaminnya, ini makanan kapsul vitaminnya. Aku udah lengkapin semuanya. Udah aku mandiin kelincinya dan dipotongin kukunya.” Lanjutnya tanpa henti.
“Kamu yang beli ini semua?” aku memandang semua yang dia berikan buat aku. Aku menggendong kedua kelinci itu.
“Iyah, aku mau kamu rawat baik-baik. Itu udah cukup buat aku dan udah cukup buat buktiin bahwa kamu sayang sama aku.” Katanya ikut menggendong si kelinci cokelat.
“Aku namain chubby and chappi yah?” tanya ku pada Will.
“Kenapa chubby dan chappi?”
“Karena yang coklat ini gemuk banget tau gak sih Will, jadi aku kasi nama Chubby. Lalu yang putih ini ada corak hitam-hitamnya. Jadi mirip banget sama sapi. Jadi aku kasih nama chappi.” Jelasku panjang lebar.
“Bagus juga. Hebat kamu. “pujinya sambil mencubit pipiku.
“Ih cubit-cubit. Ada mama loh..” godaku sambil memeluk kedua kelinci berhargaku.Will tersenyum puas.
Chapter 11
04 Juli 2010
Ini adalah hari pertama Will melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) setelah tadi malam Will mengajak ku makan malam bersama sebelum dia berangkat PKL hari ini. Biar ku jelaskan, PKL di sekolah kami adalah wajib mengingat kami adalah sekolah kejurusan perhotelan. Tentulah bagi anak perhotelan akan di tempatkan di hotel hotel yang berbintang 3 ke atas sebagai praktik lapangan kerja mereka selama 3 bulan sebelum masuk kedalam dunia kerja sesungguhnya.
Will ditempatkan di salah satu hotel bintang 5 di kawasan Mangga Dua Jakarta sebagai chef training. Tentulah ia berurusan dengan dapur. Tidak heran memang mengingat dia memang berbakat diurusan dapur. Sedangkan aku di tempatkan di Hotel bintang 3 kawasan Kebayoran Lama. Jarak yang begitu jauh antara Mangga Dua dan Kebayoran Lama membuatku pesimis untuk menyempatkan diriku bertemu dengan Will. Belum lagi waktu kerja Will yang sudah pasti over time.
Aku kuatir tidak bisa bertemu dengannya. Apalagi kini aku nge-kos di kawasan Kebayoran Lama untuk mempersingkat waktu menuju tempat praktik kerjaku yang amat jauh dari tempat tinggalku. Aku pun memutuskan nge-kos dengan 5 orang temanku juga yang sama-sama ditempatkan disana. Semakin sempitlah waktuku bertemu dengannya. Aku juga tak tega menyuruh Will untuk menengokku disini.
Aku benar-benar pasti akan rindu setengah mati dengannya nanti.
“Will, pasti kita bakal jarang ketemu deh. Jauh banget kamu PKL-nya.” Keluhku pada Will yang menyeruput bakmi karetnya. Aku terus menatap  mata Will. Tidak nafsu makan karena tahu esok tak akan ada hari seperti ini lagi.
“Tenang saja, Ta. Aku pasti akan sesering mungkin mengunjungi kamu nanti disana kok.” Janjinya sambil terus menyeruput bakminya.
Aku tersenyum.
“Kenapa tersenyum gitu?” tanya Will padaku.
“Kamu selalu tahu apa yang bisa bikin aku senang dan tidak kuatir lagi.” Kataku
“Iya, aku pasti sering nemuin kamu kok. Aku janji. Nah, sekarang makan ya.”
Aku mengangguk dan menyeruput bakmiku untuk yang pertama, sementara Will sudah mangkuk kedua. Aku pun tertawa geli. Aku semakin menyayanginnya.
11 Juli 2010
Pk 06.55 wib
Aku tergopoh gopoh berlarian menuju lobby hotel. Aku hampir telat karena kesiangan. Waktu di jam tanganku menunjukan pukul 06.55 wib. Itu tandanya 5 menit lagi aku pasti telat. Namun tiba-tiba telepon berdering di handphone ku.
“halo.. selamat pagi sayang.” Suara dari sebrang yang begitu ku kenal menyapaku dan aku tersenyum mendengarnya.
Aku pun bersandar di tiang masuk sebelum lobby.
“Will, kenapa ?” tanyaku sambil tersenyum senang.
“Selamat hari jadi kita yang 8bulan yah. Semoga kita makin awet.” Katanya singkat.
“Iya Will, semoga kita awet-awet aja ya.” Kataku lagi
“Sayang, udah dulu ya. Donatku gosong nih. Aku lagi buat makanan breakfast untuk tamu hotel. Maaf ya aku buru-buru. Muah.”
Teleponnya dimatikan, namun aku masih saja tersenyum. Itu yang aku suka dari Will. Ia penuh perhatian dan penuh kejutan kecil. Aku semangat sekali untuk bekerja hari ini karena telepon darinya. Tidak sadar aku sudah telat 5menit.
Pk 11.00 wib
Pekerjaanku membereskan kamar tamu sudah selesai. Padahal waktu masih menunjukan pukul 11.00. karena terlalu begitu semangat, kerjaanku jadi lebih cepat selesai dari pada biasanya. Kakak seniorku begitu heran melihatku bersemangat hari ini dan senyum menghiasi wajahku seharian. Teman sekelas ku yang PKL dan sekamar di kos-an denganku juga heran.
“ehemm.. cie yang udah 8bulan, makan-makan nih.” Senggol Debora si gendut yang menghabiskan jatah kasur ku di kosan. Senggolannya juga cukup membuatku jatuh.
“Iya dooong..” kataku masih belum berhenti tersenyum.
“Traktir doong.” Kata Debora lagi.
“Minta sama Will dong.” Kataku mencubit pinggang Debora.
“Maunya sama Renata ajah ah.”
“Dasar makan mulu nih..tar naik tuh timbangannya.” Ledekku pada Debora.
Debora pun mengejarku yang berusaha lari menghindari cubitannya. Kami pun berlarian. Senangnya hari ini. Hidupku begitu lengkap. Sahabat yang mencintaiku, rekan kerja yang memanjakanku dan baik padaku, dan pacar yang perhatian padaku. Aku merasa aku adalah orang yang paling beruntung di dunia.
Pk 20.00 wib
From : Will
Aku di depan kos-an kamu.
Aku terkaget membaca sms yang baru kubaca. Will di depan kos-an ? apa dia menepati janjinya untuk selalu mengunjungi aku disini? aku berlarian menuju lantai 1 karena kamar kos ku ada di lantai 2.
Ku buka pintu dan akupun tidak bisa menahan kebahagiaan yang membuncah dalam dadaku melihat seseorang berdiri disana. Aku pun memeluknya. Sudah lama sekali tidak bertemu dengannya setelah kesibukannya yang begitu padat. Will pun masuk ke dalam ruang tamu mengingat lelaki tidak boleh berkunjung kedalam kamar di kos-an ini.
Debora, teman sekamarku pun ikut turun. Kami bertiga mengobrol bersama. Namun tak lama kemudian Debora masuk ke kamar karena mengantuk. Memang jam sudah menunjukan pk 10.00 malam, namun Will belum memutuskan untuk pulang padahal besok ia masuk shift pagi. Aku ingin menyuruhnya pulang, namun aku masih belum puas melihatnya. Sejam dua jam bagiku tak kan cukup untuk bersama Will.  Kalau bisa, aku ingin ia bermalam disini. Tapi tak bisa, karena kos-an ku melarangnya. Jam sudah menunjukan hampir pukul jam setengah sebelas malam. Aku yang tertidur dipangkuannya memutuskan untuk bangun.
“Will, kamu harus pulang. Besok kamu kerja. Jam segini sudah gak ada bus way, sayang.” Kataku memeluknya.
“Tadi kamu tertidur,jadi aku gak mau bangunin kamu. Aku mau nunggu kamu bangun dulu.” Jelasnya sambil mengelus rambutku.
“Maaf ya, kamu gak apa apa pulang sendirian? Aku mau anterin kamu. Takut kamu kenapa-kenapa.” Aku merajuk ingin mengantar Will pulang. Ini salahku yang membuat Will pulang larut malam karena keegoisan ku yang masih ingin lama dengannya.
“Gak apa apa, Ta. Kamu udah ngantuk. Aku masih bisa naik angkot kok. Tenang aja yank. Aku pulang dulu yah. Semoga kamu mimpi indah.” Will mencium keningku.
Aku hanya bisa menatapnya pergi dari depan pintu. Aku kuatir karena malam semakin larut. Tuhan, lindungi Will. Aku sayang padanya.
Chapter 12
18 Agustus 2010
Tak terasa sudah sebulan lebih menjalani PKL disini. Sebulan long distance sementara dengan Will. Dan ternyata aku mampu bertahan dengan Will. Will masih setia padaku dan mudah-mudahan aku masih tetap ada untuknya.
Will selalu menyempatkan waktunya untuk bertemu denganku. Dalam seminggu, Will selalu mengunjungiku 4 kali bahkan lebih. Kadang saat akhir pekan dan di hari off, dia menyempatkan menjemputku dan mengantarkanku kerumah untuk berkumpul bersama keluargaku  maupun kembali ke kosan lagi. Will sangat sangat perhatian padaku. Ini yang membuatku tak sedikitpun melirik cowok-cowok ditempatku PKL. Aku merasa memiliki Will dihidupku sudah lebih dari cukup. Will tidak mebiarkan hatiku kosong dan diisi oleh laki-laki lain.
Namun, suatu hari aku dilanda gundah. Seorang kakak senior menyatakan perasaannya padaku. Aku jadi tidak nyaman bekerja. Aku memang menolaknya. Dan agaknya dia tidak menyukai keputusanku. Dia adalah kakak akrabku dan Debora. Namun akhir-akhir ini dia lebih akrab pada Debora ketimbang denganku. Aku tahu apa yang menjadi penyebabnya. Tapi aku tidak bisa menduakan Will yang begitu sempurna untukku. Yang selalu menepati janjinya untukku. Yang setidaknya aku sudah akui kesetiaannya padaku.
Hanya Will yang peduli jadwal makanku. Dia yang selalu mengingatkanku untuk makan pagi, siang, dan malam. Hanya Will yang benar-benar kuatir apabila aku jatuh sakit dan kelelahan. Dan Will juga yang selalu memberikan solusi atas segala masalah yang terjadi didalam hidupku. Boleh di bilang aku memang terlalu bergantung padanya. Aku memang manja namun Will memang selalu mampu memenuhi nya dan mampu memanjakanku sebagaimana yang aku mau. Itu yang membuatku merasa bahwa aku tak perlu yang lain lagi, selama aku memiliki Will dalam hidupku.
21 Agustus 2010
Pk 16.00 wib
Aku baru saja pulang dari tempat kerjaku. Hari ini melelahkan sekali rasanya. Kak Kelik yang biasa menjadi partner kerjaku tidak masuk kerja karena pulang kampung, jadinya aku membersihkan 16kamar hari ini sendirian.
Belum lagi, tadi malam aku seperti kelelahan hingga masuk angin dan mual rasanya. Aku pun mengeluhkan hal ini pada Will tadi malam. Semenjak nge-kos jadwal makanku memang berantakan. Semuanya demi penghematan karena aku tidak mau menambah beban mama lagi. Belum uang kos-an yang 300ribu perbulan, aku tidak mau meminta uang jajan terlalu banyak lagi pada mama. Alhasil, aku kadang tidak makan malam, dan harus sarapan biscuit setiap hari. Aku tidak menceritakan ini pada Will, tentu saja. Pasti dia akan marah besar padaku kalau tahu aku terlihat agak kurus sekali semenjak PKL. Lagipula aku  tak mau menambah beban Will lagi.
Will memang tidak suka kalau aku kurus. Alasannya, itu akan mengurangi ketembem-an pipiku. Maklum saja, dia memang suka mencubit pipiku. Dia lebih suka aku apa adanya. Sempurna kan sifat pacarku ini? Apa pacarmu memiliki sifat sesempurna Will, pangeranku? Apalagi aku tidak cantik. Beruntungkan aku?
Tok..tok..
Pintu kos-an diketuk. Kakak kos-an yang menginap di bawah memanggilku yang sedang tidur dikamar.
“Ta, ada temanmu.” Kata kak Uci, penghuni kamar lantai  bawah yang kebetulan membukakan pintu.
Aku pun turun kebawah. Ada Will bberdiri disana. Dengan lemas aku tersenyum padanya.
“Kok lemes gitu? Gak suka yah aku datang kesini ?” tanya nya bercanda.
“Gak lah, sayang. Aku lagi gak enak badan aja. Kamu tumben jam 4 sore begini udah pulang PKL?”tanyaku sambil merangkul pinggangnya.
“Aku kemarin ambil dua shift, biar hari ini bisa off dan ketemu kamu. Maaf ya kemarin aku gak SMS kamu soalnya kemarin aku sibuk banget.”
“Gak apa-apa kok. Hehe “ aku hanya menyengir. Bagaimana mungkin aku bisa marah pada Will hanya karena ia tidak SMS aku hanya sehari sedangkan pengorbanan nyata dia untukku lebih dari pada itu semua. Aku tidak mau egois.
“Kamu bawa apa?” aku menanyakan bungkusan plastic hitam yang ia bawa.
“Ini, ikan salmon, aku mau masak sup ikan salmon saus lemon untuk kamu. Salmon bagus buat kesehatan, supaya kamu jangan sakit lagi .”
“Terima kasih Wil, kamu perhatian banget,”
“Aku cuman gak mau orang yang aku sayang kenapa-kenapa. Aku masak, kamu bantuin ya.” Pintanya mencium keningku.
“Iyah, sayang.”
Aku pun membantunya di dappur kecil kos-an walau dengan peralatan seadanya. Sesekali ia mencium pipiku tiba-tiba selama memasak. Aku jadi tersenyum malu diberi perhatian seperti itu. Sempurna rasanya.
Chapter 13
01 September 2010
“Aku mau berhenti sekolah, Ta.” Kata Will waktu ku telepon dia karena tiba-tiba dia tak SMS ku selama seminggu ini.
“Kenapa? Aku gak mau kamu berhenti, nanti aku sendirian di kelas. Kenapa, Will? Mungkin aku bisa bantu? Cerita doong.” Paksaku kepada Will dengan sedihnya. Itu adalah hal terburuk dari mulutnya yang pernah ku dengar.
“Papaku sakit. Pengobatannya mahal. Keluarga aku sudah hutang sana sini untuk melunasi. Kalau sampai semua tidak cukup, mau gak mau aku harus berhenti sekolah, Ta. Aku juga mulai agak jarang nantinya SMS kamu karena aku lagi sibuk urus papaku dan adikku yang kecil gak ada yang urus. Mamaku  juga bantuin ngurus papa. Maaf ya Ta”
“Tapi, caranya tidak harus dengan berhenti sekolah kan? Please Will.” Aku hampir saja menangis mendengar ini semua.
“Aku pusing banget, Ta. Maaf banget ya, aku sedang tidak mood SMS dan telpon kamu dulu. Gak apa apa kan?”
“Gak apa apa Will kalau itu bisa sedikit meringankan beban kamu. Aku akan bantu kamu apapun caranya.”
Telponnya dimatikan. Betapa bodohnya aku ini. Pacar yang tiidak berguna. Selama ini aku menutup mata akan kesusahan-kesusahan yang Will miliki. Aku merasa Will baik-baik saja karena Will mampu memanjakanku, memennuhi semua kebutuhanku. Aku tidak pernah membuka mata untuk memperdulikan Will seperti dia memperdulikanku.
Selama ini dia selalu rutin mengunjungiku, memasakan makanan untukku, dan pulang larut malam demi menemani aku. Dia selalu kuatir akan segala sakit, lapar, dan masalahku. Walau aku tidak pernah cerita padanya, namun dia selalu menanyakan keadaanku. Dia selalu ingin tahu tentang kabarku dan apa yang terjadi padaku.
Sekarang mataku  terbuka. Semua yang dia lakukan padaku, tak sedikitpun aku membalaskannya. Bahkan saat Will memiliki masalah yang berat, apa gunanya aku baginya? Selama ini aku bermanja padanya, tanpa sedikitpun menyadari ada beban yang bergelantung dipundaknya. Aku tidak pernah menanyakan kabarnya. Aku terlalu senang bermanja padanya karena ku pikir ia juga tak ada masalah. Selama ini aku selalu menuntut ia agar peka terhadapku, namun justru aku yang sama sekali tidak pernah peka terhadapnya.
Aku menangis. Aku baru sadar ternyata banyak masalah yang Will gantungkan di  pundaknya dan ia tak mau aku tahu. Yang ia pentingkan hanya kesenanganku dan senyumku. Sementara aku, dengan egoisnya selalu menuntut perhatian darinya tanpa mau tahu masalah yang ia miliki. Bodohnya aku, tak pernah mau peka terhadap dia.
Aku tak bisa tak menangis kalau mengingat dia yang masih sempatkan waktu untuk berkunjung ke kos-an padahal dirumahnya sendiripun ada banyak masalah yang masih harus ia selesaikan. Will masih sempatkan waktu untukku walau ia sendiripun tak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri yang tersita untuk mengurus keluarganya.
31 September 2010
Aku kini terbiasa bila Will tak bisa sempat berkunjung ke kos-an. Aku maklum. Aku harus mengerti keadaan Will. Bagiku, dia masih tetap sekolah adalah cukup untukku. Aku tidak sanggup kalau tidak melihat wajahnya di pagi hari. Ini serius loh. Wajah ngantuknya adalah hal yang paling ku tunggu setiap hari. Ini juga benar serius loh, wajah Will itu lucu sekali saat masuk kelas dengan terkantuk-kantuk. Aku jadi ingin cepat-cepat masuk sekolah lagi.
Saat ini saja Will belum sempat SMS aku. Aku baru benar merasa kesepian. Tapi aku yakin Will pasti merasakan kesepian yang aku rasakan ditengah kesibukannya.
Tidak terasa waktu PKL ku tinggal 2 minggu lagi. Aku dan Debora sedih sekali karena kami sudah terlanjur sayang sama kakak-kakak senior disini. Karena aku bingung harus melakukan apa dikala  Will tak SMS, aku dan Debora bernarsis-narsis ria dengan kakak-kakak disini sebagai kenang-kenangan. Cukup banyak juga foto yang kami ambil. Lucu-lucu sekali ekspresinya. Jadi gak kebayang kalau sudah tidak PKL lagi disini. Disisi lain, aku senang sekali karena terbebas dari pekerjaan pelayan alian jongos itu. Tapi tak sanggup melewati kenangannya.
15 Oktober 2010
Ini hari terakhirku bekerja. Aku bangun pagi sekali dan bekerja satu jam sebelum waktu nya. Aku ingin menunjukan keseriusanku di hari terakhirku. Kalau Will seharusnya sudah selesai dari tanggal 7 kemarin, namun hotel memaksanya untuk stay karena keahliannya masih dibutuhkan. Mungkin kira-kira PKL kami akan selesai bersamaan.
Seluruh kamar ku bersihkan dengan sepenuh hati. Seteliti mungkin. Aku pun menikmati waktu terakhirku dengan kakak-kakak disini. Kebetulan kami diundang untuk buka puasa  bersama malam ini sekalian merayakan selesainya masa PKL kami disini. Rasanya bangga di hargai kerja keras kami disini. Seluruh kehangatan dan ilmu yang kami dapatkan disini tak akan kami lupakan.
Aku merasa sedih mengakhiri kegiatan yang sudah seperti rutinitasku selama ini. Satpam komplek yang biasa kami sapa saat kami berangkat kerja, sarapan pagi dari kak Kelik, makanan ringan yang kami dapatkan seusai bekerja yang lumayan untuk makan malamku, dan suasana kerja yang nyaman.
Dari sudut mataku sebenarnya aku menangkap sosok mata itu sedang memperhatikanku dari kejauhan. Ya, kak Wahyu. Dia kakak senior yang pernah menyatakan cinta padaku. Aku tahu tapi aku mengacuhkan pandangan itu. Namun tiba-tiba dia menghampiriku.
“Ta, ini kenangan buat lo. Tolong jangan dibuang ya. Terimakasih telah mengisi hari hari gue selama 3 bulan ini. Udah jadi penyemangat gue dalam bekerja walau lo Cuma anggep gue sebagai kakak.” Kata kak Wahyu dengan penuh kesungguhan menyerahkan file berisikan lukisan kertas bergambar diriku. Aku baru sadar dia begitu memperhatikanku sampai apapun yang aku lakukan dilukiskannya dalam sebuah gambar.
“Terimakasih ya kak.” Kataku singkat. Aku pun kembali bercanda dengan Debora. Ada rasa tidak enak hati pada kak Wahyu sebenarnya. Namun aku menepis semua itu. Aku mau tetap setia pada Will.
 Chapter 14
16 Oktober 2010
               Pk 09.00 wib
Hari ini aku bangun agak siang. Sengaja, karena siang ini aku akan pulang kerumahku yang di Bekasi. Rencananya, Will akan menjemputku hari ini, namun ia tidak janji karena ada urusan dengan mamanya. Akhirnya aku memutuskan untuk numpang mobil Debora saja. nanti aku akan lanjutkan dengan naik angkot sendiri kerumah.
Aku memandangi kamar kos-an ku untuk beberapa menit. Walau kecil kayak pos satpam, tapi trimakasih ya sudah menjadi tempatku berlindung dari hujan dan terik selama 3 bulan ini. Perlahan aku menuju kamar mandi kos-an. Aku pandangi juga. Walau harus gantian dan rebutan kamar mandi, trimakasih ya sudah bisa menjadi tempatku membasuh air mata dan membasuh tubuh selama 3 bulan ini. Untuk dapur dan ruang tamu, makasih ya. Sudah banyak kenagan terukir disana sewaktu Will datang berkunjung.
Matahari menerobos jendela ventilasi kamarku. Jam menunjukan pk 09.00wib. namun aku belum beranjak untuk mandi. Aku melihat Debora terdiam disampingku. Aku tahu dia juga merasakan kesedihan yang sama seperti yang kurasakan. Perpisahan. Tapi memang kan, bila ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Aku pun menguatkan diriku. SMS di handphoneku membuyarkan semuanya.
From : Will
Pulang jam berapa?
To :Will
Jam 2 siang sama mobilnya Debora.
From : Will
Mau ku jemput kalau sudah sampai rumah Debora?
To : Will
Terserah kamu, sesempatnya kamu. Kalau tidak bisa jangan dipaksa Will.
From: Will
Kalau sudah hampir sampai rumah Debora, kasi tau aku ya. Aku  mau jemput. Miss u :*
To : Will
Iyah . :*
“Deb, gue ntar bareng mobil lo ya. Gak apa apa kan?” tanyaku membuyarkan lamunan Debora.
“Gak apa apa Ta, gue seneng kok. Mandi yuk.” Ajak Debora padaku sambil tersenyum.
“Deb, jangan sedih ya, nanti kapan-kapan kita main aja lagi kesini. Okeh? Udah dong sedih-sedihnya !”
“Tau aja lu ah gue lagi sedih.”ledeknya sambil melemparkan bantal ke arahku.

Pk 17.00 wib
to : Will
aku udah sampai rumahnya Debora nih. Kamu dimana?
Aku menunggu Will didalam rumah Debora sambil berbincang-bincang dengan mamanya. Namun tak lama kemudian Will datang.
“Ta, tuh Willl udah datang.” Kata Debora memotong pembicaraanku dengan mamanya.
“ok, tante, om, Debora, semuanya. Saya pamit dulu yah. Makasi tumpangannya.” Kataku sebelum pulang sambil menggotong bantal gguling dan tas-tasku dengan susah payahnya.
“Iya, nak.. hati-hati ya.” kata mamam Debora menasihatiku.
“Sip, tante.”
Dari luar Nampak Will kaget dengan barang bawaanku. Aku tersenyum melihat dia memandang heran jemuran yang ku selipkan diantara sarung bantalku.
“Ga  usah heran gitu Will. Aku hanya sedikit kreatif.” Candaku
“Bukan, bukan jemuranmu maksudnya. Tapi sarung bantal kamu itu loh jorok banget, dekil ih.” Serunya
“Ya abisnya aku gak ada waktu buat nyuci. Wangi kok, wangi iler. Mau ?” ledekku
“Ihhh.. gak mau, haha” Will menghindari bantal bersarung winni the pooh yang ku dekatkan di pipinya.
“Mesra banget sih, cepet pulang woiiii.” Teriak Debora dari pintu pagar mengagetkan kami berdua.
“Cie yang sirikkkk.” Ledekku pada Debora lalu melaju kencang. Sekilas aku mendengar Debora mengomel, “Kampret nih ! awas ya !!”
Motor Will pun melaju dengan cepatnya. Hebatkan pacarku ini? Selalu ada untukku bahkan menyambut kepulanganku. Aku pun kembali memeluknya. Hal yang jarang aku lakukan lagi selama 3bulan ini. Kali ini aku memeluknya erat. 3bulan dia sudah membuatku percaya bahwa cintanya memang hanya untukku. Dan rintik hujan yang turun pun mengakuinya.
Yang pasti, selamat datang suasana kelasku yang ku rindu. Selamat datang semuanya !
Chapter 15
26 November 2010
Hubungan kami baik-baik saja. Kadang aku bingung, tidak ada hal yang ingin kuperdebatkan. Will selalu menyetujui apa yang menjadi pikiranku dan keinginanku. Sehingga, aku pun segan untuk meminta hal yang akan menyulitkan Will nantinya. Will jarang mempermasalahkan perilaku ku, pakaianku, sifatku, cara makanku, dan semuanya. Aku senang karena Will bukan tipe cowok yang banyak protes, tapi sifatnya inilah yang kadang membuatku bingung.
Dia tak pernah membalas marahku, dia selalu tersenyum saat aku melampiaskan kekesalanku padanya. Dia juga tak pernah membalas kata-kata kasarku saat aku sedang emosi. Dia tahu bagaimana caranya memadamkan amarahku, dia tahu bagaimana menyejukkan hatiku yang panas. Dia tahu bagaimana cara membuat aku tersenyum lagi. Aku bersyukur bisa dimanja Will bak putri raja.
Disisi lain, sebenarnya aku berpikir. Sampai kapan Will masih akan bertahan denganku. Aku mau merubah semua sifat burukku, namun sulit rasanya. Aku jugatak mau terus-terusan melampiaskan semua pada Will. Aku juga berpikir, sampai kapan cinta Will masih untukku.
Aku mencintainya. Semenjak semua ia buktikan dengan selalu ada untukku diwaktu aku harus menge-kos. Diwaktu saat dia buktikan padaku dengan tetap menjemputku meski hujan lebat. Disaat dia masih meluangkan waktuku walau dia juga memiliki banyak masalah. Banyak hal yang telah dia buktikan padaku.
Aku semakin takut bila hari itu datang. Hari dimana perpisahan harus terjadi entah karena apa. Apa Will menakutkan hal yang sama? Apa dia tahu bahwa semua akan berakhir juga? Apa ini yang menyebabkan dia tidak pernah mau mencari masalah denganku dan selalu mengalah untukku?
Kita tak akan tahu apayang terjadi dimasa yang akan datang kan? Meski kami jarang bermasalah selama pacaran, tapi entah mengapa aku takut. Takut tak bisa melihat wajah ngantuknya lagi setiap pagi. Takut tak bisa mendekapnya lagi. Takut tak bisa melihat tatapan matanya yang meluluhkan itu. Will, harus berapa kali aku mengutarakan bahwa aku sungguh mencintai mu?

Senior High School- Masalah yang Selama Ini Tersembunyi
Chapter 15
02 Januari 2011
Tahun baru ini, hubungan kami berakhir. Aku hancur. Tahun baru baru berjalan 2 hari, namun aku harus memulainya dengan hancur. Sebenarnya dia sudah memutuskan hubungan ini sejak Desember. Aku tidak tahu mengapa alasannya. Tapi aku memang sudah merasakan dari sejak awal November dia mulai menjauhiku.
Aku merasakannya. Ya, jelas. Setiap jam istirahat dia selalu menghilang entah kemana. Namun setiap kutanya alasannya, dia selalu bilang bahwa dia ke kelas koko nya atau sedang ada di lab computer. Setiap pulang sekolah dia selalu pulang duluan. Alasannya terburu-buru harus menjemput adiknya. Ada yang membuatku ganjil disana. Ada yang disembunyikan dan aku tak tahu mengapa.
Terakhir kali kami SMS adalah di malam tahun baru kemarin. Aku bahkan tahu ada hal yang sedang menjadi pertanyaan dalam hatiku. Namun aku tak mau asal menuduh tanpa alasan yang jelas. Tapi aku tahu. Tapi aku seolah tak ada kekuatan lagi.
Ku pandang celengan ungu berbentuk rumah dengan selembar surat dalam amplop yang masih dibungkus rapi dengan kadonya. Itu adalah kado ulang tahun terakhir dari Will untukku sebelum kami memutuskan untuk menyudahi segalanya. Oh ya,  Bukan kami. Tapi dia.
Aku tahu apa yang Will lakukan di belakangku. Aku tahu apa yang Will sembunyikan dariku. Ceritanya, aku tak sengaja membaca SMS dari Vita, anak perhotelan yang beda kelas denganku. Aku tahu semua isi SMS itu karena ku baca satu persatu dengan sadar. Ya, memang kebiasaan Will adalah, tidak pernah menghapus isi SMS dalam hp nya walau sudah seminggu bahkan sebulan yang lalu. Vita memang manis. Lebih cantik dariku. Badannya mungil dan tutur katanya sopan. Dia pendiam dan aku juga tidak terlalu akrab dengannya karena kami beda kelas.
Aku tahu Vita menyukai Will sejak lama. Lebih tepatnya saat mereka PKL di hotel yang sama. 3bulan adalah waktu yang cukup untuk menabur benih cinta, kan? Maka tak heran apabila saat kami putus, dia mengungkapkan semua yang dia rasakan pada Will. Ya Vita ’menembak’ Will. Will tdk menolak ataupun mengiyakan. Ya, aku tahu semuanya. Aku tahu. Dan itu menyakitkan.
Aku memang tidak tahu dari mulut Will sendiri. Aku jelas tahu dari orang lain. Aku pun tahu saat menjelang malam tahun baru, Will memberikan sepasang hamster beserta kandang dan peralatannya lengkap untuk Vita. Hal yang sama saat dia memberikan aku sepasang kelinci. Dan aku pun tahu mereka sempat nonton bersama.  Aku jujur tidak ada hak untuk marah saat ini. Hubungan kami telah berakhir. Tapi aku kecewa, semua berakhir tanpa ku tahu apa penyebab aku di putuskan seperti ini. Dan fakta yang aku tahu adalah tentang Vita yang menyukai Will. Aku sangat yakin, Will bukan cowok playboy. Dia tak mungkin memutuskanku karena dia menyukai Vita juga. Aku yakin, bukan karena itu.
17 Januari 2011
Aku sekarang tahu apa yang menjadi rahasia Will memutuskan aku. Dari sahabat SMP ku. Shenni namanya. Okey, biar kujelaskan mengapa Will sampai akrab dengan Shenni.
Sewaktu sedang membelikan kado untuk ulang tahunkuyang ke 15 tahun lalu, dia memang sempat SMS-an dengan Shenni. Sebagai sahabatku dari SMP, dia pasti tahu apa yang aku suka. Karena Shenni lah, akhirnya Will tahu bahwa aku sangat menyukai kelinci. Sehingga dia membelikanku kado boneka kelinci waktu itu. Aku tidak menyadari keakraban mereka akan berlanjut sampai sekarang. Bahkan Shenni tahu alasan mengapa Will memutuskanku yang aku sendiri tidak tahu mengapa.
Aku sempat cemburu mengingat Will pernah kerumah Shenni tapi tidak sekalian kerumah ku yang jaraknya tidak jauh. Dia juga sempat bilang dulu bahwa Shenni itu cantik dan dia suka walau cintanya hanya untukku. Dulu aku percaya, tapi tidak untuk sekarang. Melihat keakraban yang terjadi diantara mereka, aku menjadi berpikiran negative terhadap sahabat SMP ku ini.
Sebelum aku dan Shenni akhirnya bertengkar karena aku tak suka dengan keakrabannya lewat sms kepada Will, aku tahu bahwa Will curhat kepada Shenni kalau mamanya tidak menyukai hubungan kami karena perbedaan suku antara aku dan Will.
Mama Will melarang Will untuk terlalu akrab denganku dan harus mulai menjauhiku. Aku memang sudah tak kaget dengan penolakan mama Will terhadapku walau sebenarnya aku tak tahu alasannya.  Tapi mama Will memang pernah mengirim pesan kepadaku untuk menjauhi Will dan berteman saja.
Ya, perbedaan suku. Aku pribumi dan dia Chinnese. Tak dapat menyatu. Itu yang baru aku tahu.

31 Januari 2011
Sekarang aku tahu mengapa Will tidak mau cerita kepadaku tentang alasan dia menjauhiku. Dia tidak mau aku tersinggung. Dia takut aku sedih kalau tahu mamanya menentang hubungan ini.
Dia juga menjelaskan awal pertama hubungannya dengan Vita yang begitu akrab. Dia memang menyukai Vita. Dia mengakui bahwa ia sempat menonton bersama Vita. Ia juga mengakui semuanya bahwa Vita sempat menembaknya. Semua hal yang telat untuk dijelaskan karena aku tahu dengan sendirinya. Ia menyadari rasanya pada Vita karena seringnya pertemuan antara mereka sejak PKL. Namun, kalau bukan karena mamanya yang  terus memaksa dia untuk menjauhiku, rasa sukanya pada Vita tak akan muncul. Tapi sulit bagiku untuk mempercayai dia sepenuh hati.
Dia mengajakku untuk kembali. Aku tidak bisa karena aku tahu beban yang akan dia alami nantinya. Aku tak mau dia tertekan karena mencintaiku. Tapi dia meyakinkanku bahwa mamanya pasti berubah seiring berjalannya waktu. Dia pun mengajakku balikan. Jujur, aku masih menginginkannya. Tak peduli apa yang terjadi esok. Hari ini aku berharap semuanya kembali seperti sedia kala. Dan mamanya mau merubah pendiriannya.
Dan semuanya kembali. Aku menyusun kembali kepingan hatiku yang sudah berserakan hancur. Walau tak seutuh dulu, aku ingin harapan itu menjadi nyata. Aku sudah mengorbankan segalanya, termasuk persahabatanku dengan Shenni yang kini hancur. Kami tak seakrab dulu. Bahkan sudah mulai lost contact dan tak pernah saling sapa. Tapi aku tak peduli. Aku masih memiliki Will. Aku rela korbankan itu semua. Yah , kadang cemburu buta memang bisa menghancurkan persahabatan.
Chapter 16
14 Febuari 2011
Aku menantikan hari ini. Tour Jawa-Bali angkatan 2009. Yup. Kami akan berkeliling Jawa Bali selama 8 hari. Aku pun mencari cari bus ku. Aku duduk bertiga dengan Aryana dan Funa, teman dekatku selama disekolah. Sebenarnya aku mau duduk dengan Debora, teman dekatku selama kita nge-kos bareng. Tapi, kedua teman dekatku ini tak menyukai sifat Debora. Alhasil, aku harus membuat Debora kecewa karena dia berharap untuk tetap bisa duduk denganku. Sementara teman dekatku yang lainnya, Rezi, dan Will, pacarku ada di bus lain.
Selama di bus, aku lebih banyak diam dan SMS-an dengan Will. Aku paling tidak bisa pecicilan didalam bus karena hal itu akan membuatku mual. Hal yang paling bisa membuatku antusias adalah melihat bus Will berdampingan dengan bus ku lalu aku melihat wajahnya dibalik jendela. Atau, saat bus kami rehat sebentar di pom bensin dan Will menemuiku sambil menanyakan keadaanku.
Perjalanan untuk sampai ke Bali dengan bus yang kami tempuh adalah 2 hari. Selama itulah aku harus duduk di dalam bus. Bosan rasanya. Aku hanya sempat menghirup udara saat bus kami sampai di dek kapal untuk menyebrang. Alhasil aku cukup puas melihat lautan membentang dari atas kapal.
Saat aku berusaha menikmati hembusan angin laut yang begitu kencang dari sisi kapal, Will berdiri disampingku secara tiba-tiba.
“Enak yah Ta, adem udaranya,” Kata Will
“Iya. Hehe.” Kataku sambil tersenyum sambil terus memandang pemandangan sekitar laut.
“Kamu pucat.” Katanya lagi memperhatikan wajahku lekat-lekat.
“Ah masa sih.” Sergahku  cepat.
“Kamu udah makan? Mau aku beliin pop mie?”  tanya Will menawarkan.
“Gak usah Will, makanan nya mahal disini. Aku gak apa apa. Ini pucat karena di bus seharian. Mual aku jadinya. Hehe”
“Aku ambilin  obat masuk angin aja yah, nanti kamu tambah sakit.” Desak Will kuatir.
“Gak apa kok Wil, udah ah. Bagus yah Will pemandangannya. Udaranya juga enak, Will.” Kataku menatap bentangan laut yang tidak begitu biru namun menyejukkan.
“Kamu sih baru pertama kali naik kapal ya ? hahah” katanya meledekku.
“Iyah sih, aku gak pernah naik kapal. Pulang kampung naik bus. Emang dulu kamu sering?”
“Waktu kecil sih, sering. Kan kampung mama papaku di Pontianak. Jadi kalau mau pulang kampung naik kapal dulu.” Jelasnya membelai pipiku.
“Kalau sekarang?”
“Gak pernah. Udah gak ada saudara lagi disana. Tapi setidaknya aku pernah naik kapal, weee..”lidahnya menjulur padaku, ku sambut dengan cubitan dipinggangnya. Dia meng-aduh manja padaku.
“Sakit..sakit..sakit Ta ! udah doooong.” Rengek Will padaku.
Aku pun hanya  menyengir kuda melihatnya meminta ampun padaku.
16 Febuari 2011
Pk 21.00 wib
Akhirnya rombongan tur kami sampai juga di Bali. Lelah menghantui malam kami. Will menungguku turun dari bus. Aku mengacuhkannya. Aku memang masih mencintainya, namun perasaanku tidak total 100% lagi seperti dulu. Aku tahu masalah dari hubungan kami cukup berat karena sudah menyangkut penolakan dari pihak keluarga. Oleh karenanya, aku menghindari dirinya. Ku bawa koper besarku dengan penuh susah payah tanpa bantuan Will lagi. Kalau saja hubungan kami masih ‘semudah’ dulu, aku yakin pasti Will memaksaku untuk membawakan koper besarku.
Aku mengikuti Funa dan Aryana ke kamar penginapan kami. Kami memang ditempatkan sekamar. Tak sabar aku merebahkan diri ku yang lelah ini. Will berusaha berjalan seiringan denganku. Mengantarkanku ke kamar dahulu setelahnya ia menuju kamarnya sendiri.
Aku menutup pintu kamarku. Ingin kubasuh diriku ke air. Jernih. Ya, agar pikiranku jernih. Ku jatuhkan tubuhku ke atas spring bed empuk yang cukup menampung dua orang. Aku merasa ada yang janggal setelah kami kembali balikan. Aku merasa kini Will lebih hati-hati dan tidak se-protektif dahulu. Dia mulai membiarkanku bebas, walau masih sedikit membiarkanku. Perhatian yang dia berikan padaku pun terasa kaku dimataku. Tak seromantis dulu. Aku tahu dia terlalu memaksakan hubungan ini karena dia tahu bahwa aku teralalu berharap padanya.
Aku pusing dengan semuanya. Kantukku tak dapat ditahan lagi. Ku abaikan handphoneku yang biasanya selalu ku dekap untuk tetap terjaga saat Will menghubungiku. Tidak untuk malam ini. aku membiarkan handphoneku didalam tas. Tak lagi menantikan ucapan selamat tidur itu.
17 Februari 2011
Pk  07.00 wib
Tak sadar sudah pagi. Aku merasa baru sekejap menutup mata. Belum puas rasanya, aku pun kembali memeluk guling. Funa dan Aryana pun masih terlelap karena setahuku, mereka tidur lebih malam daripada aku. Aku melihat handphoneku sejenak. Tidak ada sms masuk. Oh, begitu rupanya, kuletakkan kembali handphone ku di tas.
Tok..tok..tok..
Sekilas ku dengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Terlalu malas untuk membuka pintu,ku biarkan saja pintu itu terus diketuk. Samar-samar kulihat Funa membuka pintu. Seseorang berdebat disana.
“Hei, kalian belum mandi? Mau sarapan loh bentar lagi.” Kata suara yang ku kenali itu. Will. Ya pasti Will
“Ah bodo ah, masih ngantuk gue. Ngapain sih lo kesini?” ku dengar Funa sewot sekali dibangunkan dari tidur nyenyaknya.
“Bangunin kalian. Yaudah see u.” Lalu tak kudengar lagi Funa menggerutu.
Aku bangun. Berusaha membuka mata. Aku kecewa. Will tak sedikitpun beralasan untuk bertemu denganku. Ku pikir dia kekamarku untuk membangunkanku atau sekedar menengokku. Ku bangunkan Aryana dan Funa yang sama-sama enggan untuk bangun. Akhirnya mereka  pun ku tinggal mandi.
Pk 09.00 wib
Aku terduduk di bangku bus ku. Aku melanjutkan tidurku yang kurasa belum cukup. Sebal rasanya mengingat tadi saat makan pagi, semua orang termasuk Will mempermasalahkan eyeliner ku. Aku memang jarang berdandan, tapi memangnya kenapa sih kalau sesekali aku ingin terlihat berbeda? Apa image baik, pintar, dan apa adanya sudah begitu melekat padaku sehingga saat aku ingin nakal sedikit saja, semuanya terasa aneh ya?! Memakai eyeliner kan bukan berarti aku nakal.
Funa dan Aryana ikut membelaku. Mereka bilang, semua hanya sirik saja padaku karena tidak biasanya aku berdandan begini. Hebatnya, Will ikut memprotes ku. Dia yang paling kecewa melihatku berdandan diluar kebiasaanku ini. Katanya aku tidak pantas berdandan nakal seperti itu.
Setelah itu, Will juga memprotes porsi makan pagiku yang dinilainya terlalu sedikit. Dia tak setuju bila aku diet begitu ketatnya. Aku sudah mengelak bahwa aku tidak diet. Tapi aku mual jika makan terlalu banyak. Aku sedang sakit perut, namun dia tetap memaksaku untuk makan banyak.
Aku pun hanya duduk terdiam di bangku bus ku. Sesekali aku mendendangkan lagu yang anak-anak lainnya sedang nyanyikan atau mendengarkan ‘bli’, orang Bali yang kali ini menjadi tour guide bus kami. Kalau lagunya ku ketahui, ya aku ikut bernyanyi. Apabila tidak, aku hanya menyandarkan kepala ku disisi kaca jendela sambil memejamkan mataku.
Ah. Hari ini aku sungguh kesal.
Chapter 17
Hari terakhir di Bali, menuju Jogja
Pk 09.00 wib
Aku sudah mengepak-ngepak barangku. Tidak terlalu banyak yang harus kubereskan mengingat aku ini adalah orang yang rapi dan cukup simple. Aku masih sedih, hape nokia 6600 yang dibelikan mama papaku harus wafat di laut kuta Bali. Kemarin, kami berkesempatan bermain di pantai kuta Bali. Saat sedang berjalan di bibir laut sambil beradu lari dengan ombak yang akan membuat bajuku basah, teman sekelasku dengan menyebalkannya menyeretku dan melemparkanku ke laut. Aku teringat hape nokia 6600 masih ada disaku celanaku. Dengan sebalnya langsung ku maki –maki si Andrian, temanku yang menyeretku itu.
Kini hape itu kusimpan benar-benar. Hanya tinggal tulang saja. layarnya kini tak lagi hidup. Hapeku sudah seperti ikan asin rasanya. Bukan hanya itu, bahkan simcard nya pun harus ikut wafat. Ahh.. sebal sekali. Dan bukan hanya itu, karena sudah terlanjur basah kuyup, mau tak mau, ku lanjutkan saja bermain di lautan yang katanya paling indah didunia ini . Aku, Rezi, Aryana, Funa, serta Will berlarian menyongsong air, tak peduli baju kami yang basah. Kami sampai lupa bahwa kami lupa membawa baju ganti. Akhirnya, kami semua pun membeli baju yang dijual oleh banyak pedagang dipinggiran Pantai Kuta. Will membelikan baju untukku karena aku benar-benar sudah kehabisan uang. Dia yang memilihkan baju itu untukku. Satu hal yang benar-benar kulupakan. Pakaian dalamku basah semua. Dan akhirnya mau tak mau, untuk pertama kalinya aku berpakaian tanpa menggunakan pakaian dalam, begitupun yang ku tahu bahwa yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Sungguh lucu.
Aku ingin segera meninggalkan Bali. Pulau yang indah, namun hatiku sedang tidak disini untuk menikmatinya. Semua terasahambar karena seseorang terkadang yang terlihat asyik sendiri selama tur ini. Beberapa waktu,mataku memang tak pernah beralih untuk mengawasinya selama kami berwisata. Apalagi Vita juga ada dirombongan tur ini. Aku tak mau mereka bernostalgia dan menganggapku sebagai salah satu dari ukiran patung Bali yang tak bergerak. Aku tahu bahwa Vita pun masih mengharapkan Will
Sebenarnya aku malas sekali membahas ini. Will benar-benar membuatku mati rasa. Hampir, maksudku.
Chapter 18
19 Feb 2011
Pk 12.00 wib
Di Poh Sarang, Blitar.
Hari keempat di tur kami. Wisata menuju Goa Maria di Poh Sarang. Disanalah aku menyempatkan diri untuk berdoa. Hanya 3 permintaan yang kupanjatkan. Kesehatan orang tua, kesuksesan untuk diriku, dan kelancaran dari hubunganku. Aku dan Will sudah berpacaran 1tahun lebih, maka dari itu, aku tak mau semua berakhir sia-sia. 3 permintaan itu sudah cukup bagiku. Aku tak mau yang lain.
Aku menyempatkan diri untuk membasuh wajahku dengan air suci yang mengalir di Gua itu. Rasanya sejuk dan kuharap penuh mujizat. Memang tak bisa mengandalkan mujizat yang datangnya dari air, karena sesungguhnya mujizat itu datangnya dari Tuhan. Aku tahu sekali akan hal itu, tapi keinginanku untuk mendapatkan mujizat membuatku meremehkan hal yang sudah kutahu sejak lama itu. Aku ingin benar-benar berpacaran layaknya temanku yang lain. Dimana saat pacarku sakit, aku bisa berkunjung kesana tanpa takut dengan makian mamanya dan pandangan sinis mamanya terhadapku.
Aku mengharapkan mujizat itu ya Tuhan. Sepintas, mataku mulai mencari sosok Will. Will tidak berdoa. Tapi dia ikut menemaniku mengambil air yang terus mengalir dari gua. Apakah tak ada doa yang dia panjatkan untuk hubungan kita?
Pk 19.00 wib
Rombongan akhirnya tiba disebuah Cottage di kawasan Jogja. Hari sudah gelap, namun aku harus menguatkan diriku untuk mencari cottage kelompok kami yang jaraknya sanagt berjauhan. Sambil menenteng koper yang sangat berat, akhirnya kami mau tak mau harus mencari sendiri kamar kami. Aku, Funa, dan Aryana kembali sekamar ditambah Debora yang memang menambah jumlah muatan kamar kami.
Aku menemukan kamarku. Kamar kami ada di pojok dari  3 deret cottage yang semuanya adalah kosong. Belum lagi ditambah dengan pepohonan rimbun yang mengelilinginya. Sebenarnya kelompok kami merasa tidak adil, mengingat kelompok yang lain mendapat kamar yang lebih baik dari pihak hotel.
Ya, AC kamar kami bocor, ditambah WC yang tidak layak untuk dipakai karena terlihat jorok dimataku. Sebagai ketua kelompok kami, Funa pun yang bertugas mengadukan masalah ini, dan kami menuntut ganti kamar. Mataku sudah 10 watt, namun aku belum bisa merebahkan diriku di kasur yang empuk.
Setengah jam kemudian saat aku termenung diatas koperku, guru ku datang menggiring kami ke kamar yang lain. Kami pun menuju cottage kami yang baru, yang kuharap lebih layak dan lebih bersih. Dan ternyata memang benar. Aku sangat menyukai lokasi cottage kami yang baru ini. Betapa tidak ? Cottage ku bersebelahan dengan cottage Will. Dan setelah ku mengamati, meja televisi yang ku geser ternyata tersebunyi connecting door yang tidak dikunci.  Funa menemukannya secara tidak sengaja saat kunciran rambutnya jatuh disela-sela belakang televisi.
Aku menjadi tidak mengantuk. Tanpa sepengetahuan guru, kami membuka connecting door itu. Malam indahku dimulai. Kami menonton sinetron bersama-sama sampai tengah malam. Funa dan Aryana menemaniku hingga akhirnya mereka tidur. Rezi pun tertidur dikamarnya. Hanya ada aku, Will, dan televisi yang menyala. Kesunyian melanda. Namun aku belum mau tertidur. Rasanya sulit berpisah dengan Will. Akal sehat ku pun dikalahkan nafsu yang memuncaki pikiran Will. Gelap. Aku tak dapat menolak hasrat yang tak bisa lagi kutahan. Dan semuanya terjadi.

20 Feb 11
Kunjungan rombongan tur kali ini adalah menuju Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Yah, aku belum pernah melihat seperti apa bedanya kedua candi itu. Bus pun melaju dengan santainya. Seperti biasa, aku lebih memilih tidak banyak bicara di bus dan lebih asik mendendangkan lagu yang aku suka. Aku tidak SMS-an dengan Will karena handphonenya kehabisan baterai.
Saat bus terpakir dipintu halaman candi Prambanan, aku dengan malasnya keluar karena cuaca nya yang sanngat panas. Terik sekali. Mengingat aku sedang masa pemutihan kulit, aku enggan keluar dari bus. Namun rasa penasaranku akan candi Prambanan menyeret kakiku juga untuk kesana. Kupakai jaketku dan kututup wajahku dengan tas ketika matahari menyengat dengan ganasnya.
Aku mencari sosok Will diantara rombongan bis yang baru saja sampai. Teringat aku akan peristiwa tadi malam. Aku meragu, janji yang ia ucapkan akan ia tepati. Tapi memang dasar setan jenis apa yang membuatku mau melakukan hal itu tadi malam. Ada sedikit penyesalan dalam diriku. Padahal aku tahu, hubungan kami memiliki rintangan yang berat dan belum tentu setelah peristiwa ‘itu’, Will akan mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Ah sudahlah, panasnya terik ini yang hampir pk 11 siang sangat menggangguku yang sedang memikirkan ini. Aku berjalan menuju Candi Prambanan yang ternyata masih jauh sekali dari halamannya. Will terlihat diam saja hari ini ketika ku rangkul dan ku sapa. Tapi entah mengapa aku acuh dan anggap itu hal sepele yang tak akan merusak hariku yang ingin menikmati hari ini. Aku bisa saja ‘ngambek’ sebenarnya namun aku sungguh malas sekali memulai pertengkaran setelah malam kemarin kami baru saja mengalami peristiwa yang bagi akal sehatku menjijikan itu. Ternyata memang benar apa yang dikatakan orang, masa SMA terutama saat kelas pertengahan adalah masa yang rawan sekali bagi yang berpacaran. Aku mengalaminya. Dan akal sehatku selalu kalah untuk menolaknya.
Pk 13.00 wib
Next destination, Candi Prambanan. Kali ini tour guide yang memandu kami adalah sesama anggota rombongan yang berjurusan Travel. Aku kembali diam di bus sementara Aryana dan Funa sibuk mondar mandir sana sini tidak jelas juntrungannya. Sesekali aku melihat mereka yang sedang pedekate dan jadian selama Tur ini. Ternyata banyak juga yang cinta lokasi dan akhirnya jadian. Aku menggelengkan kepalaku saat timbul hasrat melakukan hal yang sama. Tidak. Tidak. Will sudah cukup.
Aku memejamkan mataku. Kututup gorden jendelaku karena panas terik yang sangat silau. Semakin siang semakin panas rasanya. Aku sudah membandingkan kulit ditangan kanan dan kiri yang makin menghitam saja rasanya. Ah, sial. Pasti sulit untuk mengembalikan kulit ke warna semula bila sudah keling begini. Makin santer saja hinaan mama Will tentang diriku yang makin terlihat pribumi ini jika melihat warna kulitku sekarang.
Begitu tiba, aku takjub akan kemegahan Candi Borobudur. Halamannya lebih luas dan cukup lelah untuk mengelilingi apalagi sampai pada puncaknya. Aku sudah mulai enggan terlalu berlama-lama bermandikan terik. Tapi Will penasaran sekali. Ia meninggalkanku dengan Funa dan Aryana. Entah dengan siapa saat ini, yang aku tahu dia ingin mencapai puncak borobudur. Ah sudahlah, aku memilih berteduh di dalam Candi. Mencoba bergabung dan muncul di kamera teman-teman untuk ikut berfoto. Yang penting tidak terkenan sinar matahari terlalu banyak.
Saat aku sedang duduk diam ditepian bongkahan kecil batu candi  membelakangi matahari sambil memandangi para pengunjung lainnya yang ada, Debora menepuk pundakku.
“Renata, sendirian aja, gak bareng Will? Apa lagi berantem?” tanya nya.
“Gak tahu deh, hehe.. gue kan bukan baby sitternya. Masa kemana-mana ama dia. Gak kok, gak berantem.” Jawabku ketus.
“Tadi gue liat dia lagi foto-foto ama Vita. Makanya pas gue liat gada lo, gue pikir lo lagi berantem.” Jelasnya lagi.
“Heheh.. gak kok, emang gue lagi pengen sendiri ajah. Bosen kali lama-lama nempel terus haha.
“ ujarku setengah bercanda padahal dalam hatiku rasanya panas sekali. Entah mengapa aku malas mempersoalkannya.
“ Yaudah, gue mau foto-foto sama yang lainnya dulu yah. Dah Renata..” Debora pun lalu dari hadapanku dan melambaikan tangannya. Aku membalas lambaiannya dengan senyum yang kubuat-buat.
Entah karena kebetulan atau karena apa, Will tiba-tiba muncul dihadapanku dan menyapa.
“Hei, Ta. Kok duduk disini? Tumben kamu gak narsis-narsis. Pemandangannya bagus banget loh dari atas.”
“Cape. Hehe. Pengen duduk aja, panas .” kataku namun tak menatap mukanya sama sekali.
“Iya sih panas banget. Yang lain kemana? Kok kamu sendirian?” tanyanya lagi yang tambah membuatku emosi.
“Gak tau.” Kataku singkat sambil memainkan tali karet jaketku.
“Yaudah, balik yuk ke Bus. Panas.” Ajak Will.
“Kamu aja sendiri. Ajak pacar barunya yang dari tadi foto-foto sama kamu.” Kataku yang  sudah tak tahan lagi memendam alasan ke-bete-an ku.
“Siapa?”  Will bertanya balik.
“Siapa lagi sih, ya Vita lah !!!!” bentakku pada Will.
“Kamu tahu aku gak suka sama dia. Dia mau ngambil kamu dari aku. Apa salah aku marah sama kamu karena aku cemburu. Aku aja yang JELAS-JELAS PACAR KAMU, belum minta foto-foto tuh sama kamu. Masa dia yang BUKAN PACAR KAMU, udah foto-foto. Sementara aku sendirian! Lo tuh kemana aja Will !” Jelasku sambil memberi penekana pada kata ‘pacar’ dan ‘bukan pacar’
“Tadi dia yang ngajak Ta. Aku Cuma temenan doang kok sama dia. Maaf ya, maaf banget.” Mohonnya padaku.
“Ga ngertiin perasaan aku banget sih Will.” Kusadari air mataku sudah bergelinang.
“Maaf banget Ta, plis jangan nangis. Iyah aku salah. Maaf ya. Janji gak foto-foto sama dia lagi deh.” Will memegang tanganku sambil memohon. Aku semakin tidak tega menghukumnya lebih dari ini, namun aku mengeraskan hatiku karena ini bukan yang pertama untuknya. Saat di Bali, ia pun melakukan hal yang sama.
“Yaudah kita jalan yuk, foto-foto  bareng.” Ajak Will mulai menggodaku yang sedang marah.
“Ga ah, udah gak pengen. Panas.” Jawabku ketus
“Yaudah jangan ngambek lagi ya, udahan dong ngambeknya.”
“iya, iya. Udah yuk ahh. Aku mau ke bus.”
“Tunggu sebentar yah, 5 menit aja jangan kemana-mana. Pinjem handphone kamu yah.” Aku meminjamkannya, dan ia pun berlalu dari hadapanku.
Tiba –tiba terdengar suara pimpinan rombongan kami yang berbicara dengan TOA-nya.
“Di mohon dengan sangat, para rombongan SMK Dharma Pelajar harap  kumpul kembali di Bus untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan. Dalam waktu 5menit akan kami tinggal bila belum sampai bus.”
Aku pun panik. Namun aku tetap menunggu Will. Saat ku lihat rombongan yang lain sudah menuju bus semua, tambah paniklah aku. Aku tak mungkin meninggalkan Will. Namun,tiba-tiba belum 5menit, Will sudah muncul di hadapanku dan menyerahkan handphone.
“Kamu ngapain sih? Kita udah mau ditinggal tau.”
“Ambil video pemandangan candi borobudur dari atas buat kamu. Yaudah ayuk cepetan, nanti kita ketinggalan bus. Lari, Ta.” Will menarik tanganku dan berlari. Aku tidak bisa mengimbangi langkahnya yang terlalu besar.
“Will, langkahku tidak selebar kamu.” Protesku.
“Kamu sih pendek. Jadi, kakinya juga pendek. Haha.” Kata Will mengejekku.
Aku yang kesal pun mengejarnya untuk mencubit pinggangnya. Dasar. Kenapa bawa-bawa tinggi badan sih.
21 Februari 2011
Pk 08.00 wib
Tujuan hari ini, berkeliling Jogja serta Malioboronya. Rasanya tak lengkap bila ke Jogja namun tak ke Malioboro. Aku tidak ada niat untuk berbelanja sih, namun aku hanya ingin cuci mata dengan bule-bule yang hilir mudik di kota Pelajar ini.
Kali ini aku berencana membeli sepatu vantovel yang murah untuk acara table manner nanti malam. Will mau menemaniku berkeliling di department store atau di deretan pedagang kaki lima yang banyak berjajar disekitar Malioboro. Dia dengan sabar memberi saran dan membiarkanku memilih sepatu yang sesuai dengan seleraku. Sudah ku jelajahi sepanjang Malioboro sampai keujungnya namun aku belum menemukan sepatu yang pas dengan harga yang pas dikantongku juga. Akhirnya aku menuju department store terdekat dan memilih sepatu vantovel plastik yang termurah. Harganya hanya 29.900 rupiah. Lagi-lagi Will yang mengeluarkan biaya untuk membelikan sepatuku. Aku berjanji padanya, sampai di Jakarta akan kuganti semua uangnya walau ia tak ada menyuruhku untuk menggantinya.
Sepatu yang ku cari sudah ku temukan dan kini tak ada benda yang ingin kubeli. Tapi tiba-tiba mataku tak pernah lepas dari benda mungil nan populer saat itu, jam monol. Aku ingin sekali jam monol versi kotak namun berwarna coklat. Will seolah tahu saja apa yang ku mau. Dia menawarkan jam tangan yang dijajakan oleh para pedagang disana. Namun sulit sekali menemukan yang berwarna coklat dan harganya mahal sekali,  tidak jauh beda dengan harga jam monol di Jakarta. Namun setelah sekian lama mencari, Will menemukannya untukku dan membelikannya. Demi mendapatkan harga yang lebih murah, Will membeli dua jam monol berwarna biru dan coklat. Yang biru untuknya, dan yang coklat untukku. Kali ini aku punya sesuatu yang sama dengan Will. Jam tangan kembar walau beda warna. Lagi-lagi aku berjanji padda Will untuk mengembalikan uangnya sesampainya tiba di Jakarta nanti. Namun ia berkata padaku bahwa itu kenang-kenangan darinya, cukup aku bisa menjaga dan merawatnya, ia sudah senang.  Aku pun merangkulnya sepanjang jalan. Betapa bangganya aku mempunyai pacar  seperti dia. Mau mengerti aku, dan tau apa yang ada dipikirankku.
Pk 19.00 wib
Seluruh rombongan sudah siap dengan perlengkapan mereka masing-masing. Semuanya terlihat rapi dan sangat seragam dengan blazer kebanggaan kami, khas warna marunnya SMK Dharma Pelajar. Malam ini akan ada table manner di salah satu hotel bintang lima di daerah Jogjakarta. Ini adalah acara wajib yang harus diikuti karena akan mendapatkan sertifikat resmi.
Awalnya aku panik karena aku lupa membawa kaos kaki seragam sekolah kami. Namun untung saja Funa membawa kaos kaki lebih jadi aku bisa meminjamnya. Masalah sepatu sudah selesai karena seharian di Malioboro aku sudah menyempatkan diri untuk mencarinya.
“Ta, dandannya yang wajar saja. Kamu ga cocok dandan yang aneh-aneh.” Kata Will mengingatkanku.
“Iya, aku Cuma pakai bedak, lipgloss, dan blush on kok.” Kataku.
“Iyah, jangan mau kalau Funa dan Aryana maksa kamu memakai mata-mata dukun itu yang hitam-hitam.”
“Eyeliner, Will.” Koreksiku sambil tersenyum karena Will tidak tahu bagaimana menyebut nama-nama alat kosmetik untuk cewek.
“Iyah, pokoknya jangan yah. Udah yuk, mau berangkat nih. “
“ok.”
Pk 21.00 wib
Akhirnya seluruh rombongan sudah sampai di halaman hotel bintang lima nan megah. Kami semua menuju ballrommdi  lantai 3 secara bergantian menggunakan lift. Will terus disampingku. Sialnya, karena kebagian lift terakhir, kami pun hanya mendapatkan sisa tempat duduk yang kosong saja. Untungnya masih ada dua tempat duduk tersisa di depan, tepat depan panggung untuk kami berdua. Tambah dag dig dug diriku.
Hidangan pertama di awali oleh hidangan appetizer / pembuka berupa toast bread yang enak sekali. Namun tak bisa main sembarang makan saja. Namanya saja table manner, sudah pasti semua ada tata krama dan cara makannya. Kalau bukan table manner,  roti kecil seuprit ini sudah pasti habis dalam hitungan sekali lahap. Namun cara makannya yang ribet dan njlimet beserta peralatan makannya yang harus sesuai dengan fungsinya, membuatku kenyang sekali walau belum menghabiskan roti kecil seuprit yang sudah ku yakini harganya muahal pasti.
Hidangan kedua, ketiga dan selanjutnya hingga hidangan dessert tak mampu kutampung lagi. Padahal kalau dipikir-pikir, total porsi yang disajikan jauh berbeda dengan porsi makanku pada umumnya. Mungkin karena tata krama dan cara makannya yang mengenyangkan dengan sejumlah peralatan makan yang banyak.
Saat acara table manner selesai, ternyata jam sudah menunjukan pk 11.00 malam. Pantas saja sudah jamnya aku menguap terus dari tadi. Acara pun ditutup dengan foto bersama. Dan kami pun pulang kembali ke cottage kami masing-masing. Ini adalah malam terkahir kami di Jogja. Besok kami akan kembali ke Jakarta. Dan aku ingin malam ini berkesan bagiku.
Chapter 19
24feb 2011
Aku menyambutnya pagi ini dikelas. Seperti biasa, aku selalu menjadi yang pertama datang. Aku menyukai udara pagi dan membenci kemacetan sehingga aku lebih suka berangkat pagi-pagi dari rumah. Aku sudah memepersiapkan bekal makan sarapan untuk Will. Terkadang bila sempat, aku suka membawakannya bekal sarapan yang kadang malah kami makan berdua.
Terasa sempurna. Aku merasa sempurna. Teman sekelas terkadang iri padaku. Aku pintar dan semua guru suka padaku, hubunganku pun terlihat baik-baik saja. Malah kadang, apabila kami sedang bertengkar, maka seisi kelaslah yang sibuk mendamaikan kami. Apa yang aku kerjakan, Will juga harus ikut kerjakan. Apabila ada ulangan, aku mau Will mendapat nilai bagus. Aku mau kami setara dan selalu terlihat seimbang dan serasi. Maka tak jarang, setiap ada pelajaran yang Will tak mengerti, aku selalu bersedia mengajarkan. Will juga sama denganku. Dia mau aku selalu serasi dan mengikuti kemanapun dia pergi. Setiap dia ada partime, sebisa mungkin aku akan ikut dgn nya. Dalam seminggu kami kadang bisa bertemu setiap hari dan tak ada waktu berpisah sekalipun hari libur, kami sempatkan jalan bersama atau sekedar kerumah Verena.
Sempurna.
Kenyataan untuk Tidak Terus Terpuruk..
 Chapter 20
1 Juni 2013
Setelah hampir 3 bulan tidak bertemu dan berkomunikasi, aku enggan memikirkannya lagi. Makin diingat, aku semakin sakit. Semua telah direnggut olehnya. Semua kenangan indah tiba-tiba berbaur dengan rasa sakit yang entah bagaimana aku mendefinisikannya. Aku merasakan sakit itu, namun aku masih ingin lagi, lagi, dan lagi terus bersamanya. Will, aku terlalu cinta padamu sehingga aku pun sulit mengakui bahwa 3 tahun yang kita lalui itu hanya masa lalu.
Aku kini belajar untuk bangkit lagi. Aku menyadari, dengan dan tanpanya aku memang harus tetap bangkit. Kesalahan dimasa lalu membuatku menutup diri untuk membuka cinta yang baru. Terlebih aku trauma utk mencintai orang tionghoa lagi. Aku takut bergaul dengan etnis itu walaupun aku masih bisa bergaul dengan sepupu-sepupu ku yang masih chinnese itu. Tapi, rasanya beda. Kau tahu, setiap aku merasa mengagumi seseorang dari etnis Tionghoa, tiba-tiba aku teringat Will dan orangtuanya. Kata-kata bahwa Pribumi tak cocok dengan Tionghoa berkali kali merasuk kedalam pikiranku hingga aku pernah berjanji pada diriu sendiri bahwa suatu saat nanti aku mau punya pacar yang pribumi saja. Aku takut kecewa tuk yang kedua kali. Untuk apa meyakinkan orang lain bahwa aku ini Tionghoa yang berkulit hitam? Itu hanya menjadi bahan tertawaan mereka saja. Lagipula wajahku memang wajah Indonesia. Yang mengakui aku Tionghoa hanya teman dekatku, dan sepupuku. Sebagian tetangga juga masih memanggilku dengan sebutan “cici”. Bahkan adik-adikku memanggilku demikian.
Omong-omong dengan panggilan “cici”, aku jadi ingat dulu si Will pernah meledekku karena tetanggaku ada yang memanggilku dengan sebutan cici. Dia heran, kenapa bisa begitu pdahal tampangku tidak ada cina cina nya. Aku hanya tersenyum tawar padanya sambil mengangkat bahu. Malas aku menjelaskannya, demikianlah kataku dahulu. Namun Will masih meledekku.

9 Juni 2013
Setahun sudah aku masih sendiri. Semenjak putus dari Will, aku tidak tertarik untuk pacaran dulu. Kudengar Will masih berusaha mencari penggantiku dan ingin merasakan pacaran lagi karena dia merasa kesepian namun tak kunjung juga mendapatkannya 1 pun semenjak putus dariku. Kadang senang sekali rasanya mengetahui bahwa sulit baginya untuk mecari penggantiku. Yah, tapi toh tak ada gunanya. Aku dan dia tetap tak akan bisa menyatu.
Aku pernah bertemu dengannya, itupun hanya ketika aku menghadiri acara temanku dimana temanku adalah temannya juga. Tambah makmur dia. Beda dengan Will yang ku kenal dulu. Yang tinggi, proporsional, menjaga pola makan, dan tidak sombong.
Terakhir bertemu sebulan yang lalu, ia sudah sukses. Gajinya mencapai 6juta. Itu tergolong tinggi bagi dia yang hanya lulusan SMK. Ia juga hebat karena perusahaan membiayai kuliahnya di salah satu universitas terkemuka di Jakarta. Entah aku harus senang atau tidak, yang pasti ketika aku memandang diriku yang masih seperti ini, masih belum bisa bangkit, masih belum bisa menunjukan kedia bahwa tanpanya aku dapat sesukses itu, aku merasa payah.
Aku disini masih harus memutar otakku setiap bulan agar aku masih bisa member kesenangan dan meringankan biaya orangtuaku. Disisi lain, aku masih harus menyisihkan sebagian uang itu untuk biaya kuliah perbulannya. Maklum, aku kuliah dengan uang hasil jerih payahku sendiri. Kalau aku tidak pintar mengelola uang, aku bisa putus kuliah ditengah jalan.
Aku masih menjadi aku yang dulu. Setidaknya yang berubah dari diriku hanyalah sekarang aku bisa kuliah dengan uangku sendiri. Tapi, aku masih belum sesukses dia. Dia yang sekarang bertubuh subur, semakin putih, semakin sombong, dan semakin jago dalam menghamburkann uang. Maklum saja, seratus dua ratus ribu baginya tak ada arti lagi. Dengan gampangnya ia mampu membeli apa yang ingin dia beli. Dan aku, harus menabung utk mendapatkan apa yang aku mau. Belum lagi posisi dia diperusahaan yang cukup mapan. Sedangkan aku, statusku di perusahaan tidak jelas dan cepat atau lambat aku memang harus mencari pekerjaan lain karena aku tidak selamanya dapat bertahan dari kantor ini
Terakhir bertemu dengannya, aku tidak  ingin menampakan kelemahanku didepannya. Jadi aku berbicara seolah-olah aku pun sesukses dirinya. Aku tidak mau kalah. Maklum, aku tidak mau membuat pandangan bahwa “ murid terpandai dan selalu ranking satu dikelas belum tentu masa depannya bagus” di matannya adalah BENAR. Dia pun tak mau kalah didepanku. Dia meremehkan matakuliah dan kampus tempat aku belajar dan membandingkannya dengan universitas dimana ia menutut ilmu sekarang. Aku semakin panas. Padahal kali itu aku hanya berniat merayakan ulangtahun temanku namun aku dibuat panas olehnya. Aku tak terima dengan berbagai kesombongan kesombongan yang telah dikatakannya terlepas dari itu benar atau tidak.
Aku iri. Aku memang iri. Bahkan sampai detik ini pun aku belum berhasil menginjak kepalanya dengan kakiku. Bahkan kini ia menginjak kepalaku (lagi). Setelah sekian lama tidak bertemu, inilah hasil pertemuanku dengannya. Kami berdebat dan berdebat tiada henti. Setelah memantapkan hati utk melupakannya, aku berusaha utk membencinya. Aku tahu ada cara bagaimana agar kita tidak membenci mantan namun hanya melupakan segala kenangan dimasa lalu saja. Namun bagiku, melupakan dan membencinya itu satu paket yang tidak bisa kuhindari. Aku tidak membuat keputusan untuk membencinya namun aku yang begitu mencintainya terlalu dalam sehingga aku harus berlaku demikian. Melupakan dan membenci dirinya adalah satu paket dan aku tidak bisa memisahkan perasaan itu. Sulit. Kata siapa sulit bukan berarti tidak mampu? Bagiku, sulit itu menandakan aku membutuhkan oranglain untuk membantu. Dan itu yang belum ku lakukan sampai saat ini. Aku belum mau membuka hati untuk siapapun. Aku terlalu sibuk setiap harinya memikirkan keluarga, pekerjaan, dan bagaimana caranya agar setiap bulan aku dapat bertahan dengan gajiku sehingga kupikir, saat ini belum perlu mencari pacar. Namun ditengah kesibukan itu, aku masi sempat memikirkan nya. Ini alasan mengapa rasa benci dan keinginan utk melupakannya adalah satu paket yang tidak dapat kupisahkan. Untuk melupakannya, aku harus membencinya. Mengingat keburukan yang ia telah lakukan padaku. Begitulah caraku melupakannya. Begitulah caraku move on darinya. Aku tidak tahu cara lain..
Agustus 2014
Sudah 2 tahun lebih aku tidak mau mengungkit kembali masa lalu ku. Sekarang aku mampu berdiri dan aku sendiripun tak tahu bahwa ternyata aku mampu melewati itu semua. Sulit dipercaya.
Sekarang aku sudah kuliah. Aku berada di semester 6 Fakultas Ekonomi. Aku membiayai kuliahku sendiri dan aku bangga akan hal itu. Setiap bulan, aku bisa mengajak adikku yang masih kecil-kecil itu untuk berekreasi. Bahkan kadang aku mampu mengajak keluargaku utk sekedar berwisata dari gajiku. Ekonomi membaik walau tidak bisa dikatakan mapan juga. Dan sampai sekarang pun aku masih sendiri. Belum bisa membuka hati.
Berbicara tentang hati, aku jadi ingat teman kuliah. Namanya Jose. Dia menyukai ku dan menyatakan cinta padaku. Namun aku belum bisa menutup rasa sakit. Terlebih Jose itu juga orang Tionghoa dan menganut peradaban Tionghoa dan totok. Aku takut masalalu kembali lagi terjadi dimasa kini. Aku memang salah men-judge seseorang seperti itu, namun namanya trauma ya tetap saja trauma. Aku juga tahu kok, banyak juga pasangan etnis Tionghoa dgn non-etnis. Tapi aku memang belum berani.
Lain lagi dengan Abi Rifan. Dia teman kerja. Wataknya asik dan pekerja keras. Dia juga membiayai kuliahnya dengan uangnya sendiri, Rajin sholat lima waktu, dan selalu mengantarku pulang kerumah. Aku menyukainya. Abi pun demikian. Namun aku menyadari perbedaan kepercayaan antara kami dan tidak baik apabila kami  menyangkal kepercayaan kami masing-masing mengingat keluargaku adalah Kristen yang taat dan Abi pun berasal dari keluarga muslim yang taat. Perbedaan kepercayaan adalah hal yang sensitif di negeri ini, bukan? Jadi akupun memaksakan hati utk tidak jatuh terlalu dalam dalam euphoria kasmaran ini. Abi pun sependapat denganku. Dan hubungan kami masih baik sampai sekarang. Dia menjadi teman terbaikku, bahkan sebulan lagi dia akan menikah dengan wanita yang selama ini ternyata mengagumi Abi sejak lama dikantor. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi dia melihat dulu aku dan Abi begitu dekat. Namun aku bersyukur, Abi akhirnya menemukan orang tepat untuk hidupnya.
Kudengar pula dari teman sekelas bahwa sekarang Will sudah mempunyai pacar dan dalam bulan ini dia akan bertunangan. Sebagian teman sekelas pun ada yang diundang. Aku sih tidak. Dan kabar yang kudengar, pacarnya lebih tua 2tahun dan merupakan anak bos Managernya. Aku bahagia akhirnya dia mendapatkan yang lebih baik dariku dan kehidupannya pun lebih baik dari pada hidupku. Aku tidak iri. Aku pun bahagia dengan kehidupan yang kujalani saat ini. Semua berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu.
November 2019
Aku menggandeng anakku yang baru saja mulai belajar berjalan disebuah pusat perbelanjaan kawasan Kelapa Gading. Aku bersama suamiku. Dia menyempatkan waktu untuk kami berdua. Sudah lama sekali kami tidak berkumpul seperti ini.
“mah, aku ketoilet sebentar ya.” Kata Aldo
“okey…”
Sambil menunggu Aldo, aku pun bermain main dengan anakku, mencoba mengguraunya dan menggodanya. Dia amat lucu saat memonyongkan bibirnya dan tertawa dengan giginya yang baru tumbuh 3 didepan. Tiba-tiba seorang anak kecil laki laki menghampiriku dan tersenyum. Umurnya mungkin lebih tua setahun dari anakku.
“hey, Clement . jangan lari-larian dong. Nanti kamu ilang.” Teriak seorang bapak yang ternyata ayah dari anak itu.
“tunggu mama yah sini. Jangan nakal. Nanti papa tinggal!” ancam ayah itu lagi.
Sekilas aku tidak asing dengan suaranya. Seperti aku sudah terbiasa dengan suara itu.  Ku lihat wajahnya sekilas. Aku kenal.
“Will..”panggilku.
Dia menengok padaku mengernyitkan keningnya. Lalu bola matanya bersinar ketika memandangku.
“ Ta.. Renata, apakabar ??”sapanya menyenggol bahuku. Seketika pipiku bersemu merah dan aku menyadari panas menjalar kesluruh tubuhku. Aku gugup. Setelah sekian lama mencoba melupakan suaranya, aku masih gugup ketika kini mendengarnya lagi.
“ba..baik.” jawabku
“anak kamu ?”
“iyah.”
Percakapan begitu dingin diantara kami. Aku juga tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.
“mana suamimu?”katanya setelah beberapa detik kami diam.
“toilet. Mana istrimu ?” aku balik bertanya.
“lagi kesalon.” Katanya menunjuk salah satu salon di seberang lantai.
Mendengarnya aku tersenyum.
“kenapa senyum?”
“gak kok, hehe”
“aku kira siapa..tambah melar bgt sih kamu.” Katanya menyindir.
“kayak elu gak aja Will.” Balas ku meledek.
“mah, ayuk kita nonton yuk.” Tiba Aldo muncul dari belakang menggendong Bella, anakku yang sedang bermain dengan anaknya Will.
“oh, ok. Ini teman sekolahku. Namanya Will, pah..” aku memperkenalkan Will dan mereka pun saling berjabat tangan.
“ok, Will. Sampai jumpa lagi yah. Lain kali kita ketemu lagi. Bye.” Aku melambaikan tangan padanya dan juga mencubit anak Will yang amat gendut sekali pipinya mirip sekali dengan Will.
Sambil berjalan, Aldo menyindirku. Dia banyak tahu tentang Will dari foto-fotoku sewaktu SMA yang memang kebanyakan foto berdua.
“oh, ketemu mantan yah..” matanya mengerling padaku.
“kebetulan ketemu kok, pah.”
“tapi cakepan aku apa dia?”
“apaan sih pertanyaannya, pah..kayak ABG ajah deh. Mau dia cakep atau gak, aku ini udah jadi istri kamu loh..” kataku lagi
“iyah, aku tahu. Siapa juga yang cemburu? Hehehe”
“dasar.”
Aldo menggandeng tanganku. Seketika aku tenang. Bahagia memilikinya.
Desember 2019
Suasana natal sudah terasa dimanamana. Ulang tahunku dan ulangtahun pernikahanku dengan Aldo yang ketiga pun dirayakan dibulan ini. Bulan ini menjadi lebih berharga dengan adanya Bella ditengah kehidupan kami. Hidupku lengkap sudah.
Seperti biasa, aku selalu kerumah mama dan papah untuk merayakan bersama dan kegereja bersama. Damai sukacita natal hidup dan tumbuh dihatiku. Aku tidak merasa bahwa kini aku sendiri lagi.
Aku tidak menyangka pula bahwa rencana Tuhan bagi hidupku begituindah. Tuhan memberikanku kesempatan bertemu dengan banyak orang-orang yang memberiku banyak pelajaran. Tuhan juga yang membuatku terus berulang kali merasakan jatuh cinta, sakithati, meng-ikhlaskan seseorang yang kita sayangi sebelum akhirnya Tuhan mempertemukanku dengan seseorang yang benar-benar tepat untukku lewat cara yang takpernah kuduga sebelumnya.
Aldo. Dia pria yang akhirnya beruntung mendapatkanku. Kami bertemu saat aku sedang berekreasi bersama sahabat SMP ku ke kota Semarang untuk mengunjungi Christin yang tinggal disana karena harus kuliah disana. Kami bertemu dijalan dan ternyata dia satu fakultas dengan Christin, sahabatku itu. Karena aku hanya seminggu mengunjungi Christin, pertemuan kami pun hanya berlalu singkat. Kami mengobrol banyak dan ternyata cocok satu sama lain. Dia anak pengusaha kain batik dikota Semarang. Seminggu rasanya amat berkesan bagiku hingga setahun kemudian aku bekerja disalah satu perusahaan besar di Jakarta dan kembali bertemu dengannya dengan cara yang tidak disengaja pula. Singkat cerita, kami menjalin cinta dan melanjutkan untuk menikah.
Kalau dipikir-pikir, aku sebenaranya tidak pernah menyangka harus menemukan pasangan hidupku dengan jalan yang demikian. Tidak ada dalam benakku untuk kembali mencari penganti Will saat itu. Bahkan bagiku pun, tidak akan ada yang mampu menggantikan Will sampai kapanpun. Dulu ku pikir, dia adalah yang terbaik dan tetap akan jadi yang terbaik. Dulu kupikir, aku telah kehilangan sosok yang paling mengerti hidupku. Aku stuck di satu orang dan akupun telah  memarkirkan hatiku di salah satu ruang besar dalam Jiwa Will. Begitu besar dunia ku untuk Will.
Namun ternyata semua kini berubah. Duniaku tak lagi utk Will. Setitik pun tidak. Sekaranghatiku terbagi menjadi dua. Utk Aldo dan buah hatiku, Bella. Mereka membuatku sadar bahwa hidupku terlalu berarti utk menangisi seseorang yang tak pantas berada disampingku. Aldo mengubah pandangan ku tentang etnis Tionghoa yang selama ini menjadi traumaku. Dengan cintanya, ia meyakinkanku bahwa tidak semua orang sama dan bahwa didunia ini pasti ada seseorang yang benar-benar sayang pada kita entah dimanapun dia. Seperti jiwa yang mencari belahan lainnya. Seperti kepingan hati yang mencari kepingan lainnya. Seperti pria yang mencari rusuknya.
Cinta itu sempurna. Tak terduga.