. Ketika Cinta Tidak Memandang Perbedaan Kau dan Aku Ketika Cinta Tidak Memandang Perbedaan Kau dan Aku

jam

Senin, 11 Februari 2013

saat masih sekolah dulu..-senior high school


Senior High School- Before The Troubles Came
Chapter 9
03 Desember 2009
Hari ini hari ulang tahunku yang ke 15. Aku merasa special di usiaku yang ke 15 ini. Yup. Aku punya pacar. Baru 3 minggu yang lalu. Will namanya. Dia memberiku kejutan di hari ulang tahunku kali ini padahal tak ada sebulan kami jadian. Semua juga berkat kerja sama teman sekelas. Ini adalah ulangtahun yang tak akan aku lupakan sepanjang hidupku.
Dia mencium pipi kanan kiriku dikelas. Dia memberiku chiffon cake keju dan hadiah boneka kelinci pink sambil memegang hati yangbertuliskan ‘I love u’.  Dia juga mengantarkanku pulang kerumah. Pertama kalinya dalam hidupku, beginilah rasanya diberi kejutan oleh pacar di hari ulang tahun. Semua teman memberikanku ucapan selamat
Aku pamerkan boneka itu dikamar. Sejarah yang hebat.
To : Will
Makasi yah buat hari ini.
From : Will
Iyah my sweetie J
Ahh.. gak bosen dapet SMS dari dia setiap hari. Pasti malam ini mimpi indah.
Chapter 10
01 Januari 2010
Tahun baru kali ini aku berharap pada Tuhan. Aku berterima kasih atas setahun yang lalu diberikan kesempatan merasakan cinta. Kali ini pun aku memohon pada Tuhan agar terus menjaga cinta dia agar selalu untukku.
 Aku senang bisa melihatnya setiap hari. Aku senang mengajari dia mata pelajaran yang sulit. Aku suka tersenyum kalau wajah dia lucu saat kebingungan. Aku suka dia yang selalu romantis. Aku suka dia yang selalu mengirimi ku kata-kata puitis. Aku suka dia yang selalu memantau perasaan dan masalahku lewat facebook. Aku suka melihat dia terburu-terburu masuk ke kelas kalau hampir terlambat. Aku suka dia yang ikut menungguku ketika aku juga sedang menunggu angkutan umum. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Walau cara kami jadian itu terlewat unik. Aku menyukainya.
11 Mei 2010
Aku terharu sungguh. Saat aku hendak tidur siang, aku mendengar bunyi motor yang aku kenal. Will datang kerumah. Yah, memang sih hari ini hari setengah tahun jadian kami. Semua berjalan normal dan lancar. Tidak ada masalah yang serius di dalam hubungan kami. Dan aku bahagia semua berjalan normal. Will baik padaku. Dia tidak pemarah dan kasar.  Dia selalu berkata lembut padaku dan menegurku dengan caranya yang aku suka. Dia tahu apa yang aku suka. Dan selalu mengusahakan apa yang aku inginkan. Dia selalu mau berusaha untuk dan selalu mau berusaha hadir untukku. Aku merasa perhatiannya padaku begitu tulus.
Dengan gaya khasnya yang sopan santun dan begitu hangat dimataku, dia menyapa mama yang kebetulan sedang ada di halaman rumah. Lalu menurunkan box besar yang nampaknya bergerak-gerak. Aku bangkit dari tempat tidurku. Merapikan rambutku. Berhaburan ke luar dengan lusuhnya. Kebiasaanku  setiap pulang sekolah adalah  tidur siang.
“Ta, lihat deh. Aku bawa apa tebak? Lihat sini. “ kata Will tersenyum melihatku.
“Lucu banget Will, kamu beli dimana?” seruku membuka box berisi sepasang kelinci yang amat teramat gemuk sedang berebutan menggigit wortel.
“Ga penting beli dimana. Ini hadiah buat kamu di hari jadian kita yang 6 bulan. Kamu suka ?” tanya nya sambil mengeluarkan bungkusan plastic hitam lainnya dari dalam jok motornya.
“Ini tempat minumnya, ini vitaminnya, ini makanan kapsul vitaminnya. Aku udah lengkapin semuanya. Udah aku mandiin kelincinya dan dipotongin kukunya.” Lanjutnya tanpa henti.
“Kamu yang beli ini semua?” aku memandang semua yang dia berikan buat aku. Aku menggendong kedua kelinci itu.
“Iyah, aku mau kamu rawat baik-baik. Itu udah cukup buat aku dan udah cukup buat buktiin bahwa kamu sayang sama aku.” Katanya ikut menggendong si kelinci cokelat.
“Aku namain chubby and chappi yah?” tanya ku pada Will.
“Kenapa chubby dan chappi?”
“Karena yang coklat ini gemuk banget tau gak sih Will, jadi aku kasi nama Chubby. Lalu yang putih ini ada corak hitam-hitamnya. Jadi mirip banget sama sapi. Jadi aku kasih nama chappi.” Jelasku panjang lebar.
“Bagus juga. Hebat kamu. “pujinya sambil mencubit pipiku.
“Ih cubit-cubit. Ada mama loh..” godaku sambil memeluk kedua kelinci berhargaku.Will tersenyum puas.
Chapter 11
04 Juli 2010
Ini adalah hari pertama Will melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) setelah tadi malam Will mengajak ku makan malam bersama sebelum dia berangkat PKL hari ini. Biar ku jelaskan, PKL di sekolah kami adalah wajib mengingat kami adalah sekolah kejurusan perhotelan. Tentulah bagi anak perhotelan akan di tempatkan di hotel hotel yang berbintang 3 ke atas sebagai praktik lapangan kerja mereka selama 3 bulan sebelum masuk kedalam dunia kerja sesungguhnya.
Will ditempatkan di salah satu hotel bintang 5 di kawasan Mangga Dua Jakarta sebagai chef training. Tentulah ia berurusan dengan dapur. Tidak heran memang mengingat dia memang berbakat diurusan dapur. Sedangkan aku di tempatkan di Hotel bintang 3 kawasan Kebayoran Lama. Jarak yang begitu jauh antara Mangga Dua dan Kebayoran Lama membuatku pesimis untuk menyempatkan diriku bertemu dengan Will. Belum lagi waktu kerja Will yang sudah pasti over time.
Aku kuatir tidak bisa bertemu dengannya. Apalagi kini aku nge-kos di kawasan Kebayoran Lama untuk mempersingkat waktu menuju tempat praktik kerjaku yang amat jauh dari tempat tinggalku. Aku pun memutuskan nge-kos dengan 5 orang temanku juga yang sama-sama ditempatkan disana. Semakin sempitlah waktuku bertemu dengannya. Aku juga tak tega menyuruh Will untuk menengokku disini.
Aku benar-benar pasti akan rindu setengah mati dengannya nanti.
“Will, pasti kita bakal jarang ketemu deh. Jauh banget kamu PKL-nya.” Keluhku pada Will yang menyeruput bakmi karetnya. Aku terus menatap  mata Will. Tidak nafsu makan karena tahu esok tak akan ada hari seperti ini lagi.
“Tenang saja, Ta. Aku pasti akan sesering mungkin mengunjungi kamu nanti disana kok.” Janjinya sambil terus menyeruput bakminya.
Aku tersenyum.
“Kenapa tersenyum gitu?” tanya Will padaku.
“Kamu selalu tahu apa yang bisa bikin aku senang dan tidak kuatir lagi.” Kataku
“Iya, aku pasti sering nemuin kamu kok. Aku janji. Nah, sekarang makan ya.”
Aku mengangguk dan menyeruput bakmiku untuk yang pertama, sementara Will sudah mangkuk kedua. Aku pun tertawa geli. Aku semakin menyayanginnya.
11 Juli 2010
Pk 06.55 wib
Aku tergopoh gopoh berlarian menuju lobby hotel. Aku hampir telat karena kesiangan. Waktu di jam tanganku menunjukan pukul 06.55 wib. Itu tandanya 5 menit lagi aku pasti telat. Namun tiba-tiba telepon berdering di handphone ku.
“halo.. selamat pagi sayang.” Suara dari sebrang yang begitu ku kenal menyapaku dan aku tersenyum mendengarnya.
Aku pun bersandar di tiang masuk sebelum lobby.
“Will, kenapa ?” tanyaku sambil tersenyum senang.
“Selamat hari jadi kita yang 8bulan yah. Semoga kita makin awet.” Katanya singkat.
“Iya Will, semoga kita awet-awet aja ya.” Kataku lagi
“Sayang, udah dulu ya. Donatku gosong nih. Aku lagi buat makanan breakfast untuk tamu hotel. Maaf ya aku buru-buru. Muah.”
Teleponnya dimatikan, namun aku masih saja tersenyum. Itu yang aku suka dari Will. Ia penuh perhatian dan penuh kejutan kecil. Aku semangat sekali untuk bekerja hari ini karena telepon darinya. Tidak sadar aku sudah telat 5menit.
Pk 11.00 wib
Pekerjaanku membereskan kamar tamu sudah selesai. Padahal waktu masih menunjukan pukul 11.00. karena terlalu begitu semangat, kerjaanku jadi lebih cepat selesai dari pada biasanya. Kakak seniorku begitu heran melihatku bersemangat hari ini dan senyum menghiasi wajahku seharian. Teman sekelas ku yang PKL dan sekamar di kos-an denganku juga heran.
“ehemm.. cie yang udah 8bulan, makan-makan nih.” Senggol Debora si gendut yang menghabiskan jatah kasur ku di kosan. Senggolannya juga cukup membuatku jatuh.
“Iya dooong..” kataku masih belum berhenti tersenyum.
“Traktir doong.” Kata Debora lagi.
“Minta sama Will dong.” Kataku mencubit pinggang Debora.
“Maunya sama Renata ajah ah.”
“Dasar makan mulu nih..tar naik tuh timbangannya.” Ledekku pada Debora.
Debora pun mengejarku yang berusaha lari menghindari cubitannya. Kami pun berlarian. Senangnya hari ini. Hidupku begitu lengkap. Sahabat yang mencintaiku, rekan kerja yang memanjakanku dan baik padaku, dan pacar yang perhatian padaku. Aku merasa aku adalah orang yang paling beruntung di dunia.
Pk 20.00 wib
From : Will
Aku di depan kos-an kamu.
Aku terkaget membaca sms yang baru kubaca. Will di depan kos-an ? apa dia menepati janjinya untuk selalu mengunjungi aku disini? aku berlarian menuju lantai 1 karena kamar kos ku ada di lantai 2.
Ku buka pintu dan akupun tidak bisa menahan kebahagiaan yang membuncah dalam dadaku melihat seseorang berdiri disana. Aku pun memeluknya. Sudah lama sekali tidak bertemu dengannya setelah kesibukannya yang begitu padat. Will pun masuk ke dalam ruang tamu mengingat lelaki tidak boleh berkunjung kedalam kamar di kos-an ini.
Debora, teman sekamarku pun ikut turun. Kami bertiga mengobrol bersama. Namun tak lama kemudian Debora masuk ke kamar karena mengantuk. Memang jam sudah menunjukan pk 10.00 malam, namun Will belum memutuskan untuk pulang padahal besok ia masuk shift pagi. Aku ingin menyuruhnya pulang, namun aku masih belum puas melihatnya. Sejam dua jam bagiku tak kan cukup untuk bersama Will.  Kalau bisa, aku ingin ia bermalam disini. Tapi tak bisa, karena kos-an ku melarangnya. Jam sudah menunjukan hampir pukul jam setengah sebelas malam. Aku yang tertidur dipangkuannya memutuskan untuk bangun.
“Will, kamu harus pulang. Besok kamu kerja. Jam segini sudah gak ada bus way, sayang.” Kataku memeluknya.
“Tadi kamu tertidur,jadi aku gak mau bangunin kamu. Aku mau nunggu kamu bangun dulu.” Jelasnya sambil mengelus rambutku.
“Maaf ya, kamu gak apa apa pulang sendirian? Aku mau anterin kamu. Takut kamu kenapa-kenapa.” Aku merajuk ingin mengantar Will pulang. Ini salahku yang membuat Will pulang larut malam karena keegoisan ku yang masih ingin lama dengannya.
“Gak apa apa, Ta. Kamu udah ngantuk. Aku masih bisa naik angkot kok. Tenang aja yank. Aku pulang dulu yah. Semoga kamu mimpi indah.” Will mencium keningku.
Aku hanya bisa menatapnya pergi dari depan pintu. Aku kuatir karena malam semakin larut. Tuhan, lindungi Will. Aku sayang padanya.
Chapter 12
18 Agustus 2010
Tak terasa sudah sebulan lebih menjalani PKL disini. Sebulan long distance sementara dengan Will. Dan ternyata aku mampu bertahan dengan Will. Will masih setia padaku dan mudah-mudahan aku masih tetap ada untuknya.
Will selalu menyempatkan waktunya untuk bertemu denganku. Dalam seminggu, Will selalu mengunjungiku 4 kali bahkan lebih. Kadang saat akhir pekan dan di hari off, dia menyempatkan menjemputku dan mengantarkanku kerumah untuk berkumpul bersama keluargaku  maupun kembali ke kosan lagi. Will sangat sangat perhatian padaku. Ini yang membuatku tak sedikitpun melirik cowok-cowok ditempatku PKL. Aku merasa memiliki Will dihidupku sudah lebih dari cukup. Will tidak mebiarkan hatiku kosong dan diisi oleh laki-laki lain.
Namun, suatu hari aku dilanda gundah. Seorang kakak senior menyatakan perasaannya padaku. Aku jadi tidak nyaman bekerja. Aku memang menolaknya. Dan agaknya dia tidak menyukai keputusanku. Dia adalah kakak akrabku dan Debora. Namun akhir-akhir ini dia lebih akrab pada Debora ketimbang denganku. Aku tahu apa yang menjadi penyebabnya. Tapi aku tidak bisa menduakan Will yang begitu sempurna untukku. Yang selalu menepati janjinya untukku. Yang setidaknya aku sudah akui kesetiaannya padaku.
Hanya Will yang peduli jadwal makanku. Dia yang selalu mengingatkanku untuk makan pagi, siang, dan malam. Hanya Will yang benar-benar kuatir apabila aku jatuh sakit dan kelelahan. Dan Will juga yang selalu memberikan solusi atas segala masalah yang terjadi didalam hidupku. Boleh di bilang aku memang terlalu bergantung padanya. Aku memang manja namun Will memang selalu mampu memenuhi nya dan mampu memanjakanku sebagaimana yang aku mau. Itu yang membuatku merasa bahwa aku tak perlu yang lain lagi, selama aku memiliki Will dalam hidupku.
21 Agustus 2010
Pk 16.00 wib
Aku baru saja pulang dari tempat kerjaku. Hari ini melelahkan sekali rasanya. Kak Kelik yang biasa menjadi partner kerjaku tidak masuk kerja karena pulang kampung, jadinya aku membersihkan 16kamar hari ini sendirian.
Belum lagi, tadi malam aku seperti kelelahan hingga masuk angin dan mual rasanya. Aku pun mengeluhkan hal ini pada Will tadi malam. Semenjak nge-kos jadwal makanku memang berantakan. Semuanya demi penghematan karena aku tidak mau menambah beban mama lagi. Belum uang kos-an yang 300ribu perbulan, aku tidak mau meminta uang jajan terlalu banyak lagi pada mama. Alhasil, aku kadang tidak makan malam, dan harus sarapan biscuit setiap hari. Aku tidak menceritakan ini pada Will, tentu saja. Pasti dia akan marah besar padaku kalau tahu aku terlihat agak kurus sekali semenjak PKL. Lagipula aku  tak mau menambah beban Will lagi.
Will memang tidak suka kalau aku kurus. Alasannya, itu akan mengurangi ketembem-an pipiku. Maklum saja, dia memang suka mencubit pipiku. Dia lebih suka aku apa adanya. Sempurna kan sifat pacarku ini? Apa pacarmu memiliki sifat sesempurna Will, pangeranku? Apalagi aku tidak cantik. Beruntungkan aku?
Tok..tok..
Pintu kos-an diketuk. Kakak kos-an yang menginap di bawah memanggilku yang sedang tidur dikamar.
“Ta, ada temanmu.” Kata kak Uci, penghuni kamar lantai  bawah yang kebetulan membukakan pintu.
Aku pun turun kebawah. Ada Will bberdiri disana. Dengan lemas aku tersenyum padanya.
“Kok lemes gitu? Gak suka yah aku datang kesini ?” tanya nya bercanda.
“Gak lah, sayang. Aku lagi gak enak badan aja. Kamu tumben jam 4 sore begini udah pulang PKL?”tanyaku sambil merangkul pinggangnya.
“Aku kemarin ambil dua shift, biar hari ini bisa off dan ketemu kamu. Maaf ya kemarin aku gak SMS kamu soalnya kemarin aku sibuk banget.”
“Gak apa-apa kok. Hehe “ aku hanya menyengir. Bagaimana mungkin aku bisa marah pada Will hanya karena ia tidak SMS aku hanya sehari sedangkan pengorbanan nyata dia untukku lebih dari pada itu semua. Aku tidak mau egois.
“Kamu bawa apa?” aku menanyakan bungkusan plastic hitam yang ia bawa.
“Ini, ikan salmon, aku mau masak sup ikan salmon saus lemon untuk kamu. Salmon bagus buat kesehatan, supaya kamu jangan sakit lagi .”
“Terima kasih Wil, kamu perhatian banget,”
“Aku cuman gak mau orang yang aku sayang kenapa-kenapa. Aku masak, kamu bantuin ya.” Pintanya mencium keningku.
“Iyah, sayang.”
Aku pun membantunya di dappur kecil kos-an walau dengan peralatan seadanya. Sesekali ia mencium pipiku tiba-tiba selama memasak. Aku jadi tersenyum malu diberi perhatian seperti itu. Sempurna rasanya.
Chapter 13
01 September 2010
“Aku mau berhenti sekolah, Ta.” Kata Will waktu ku telepon dia karena tiba-tiba dia tak SMS ku selama seminggu ini.
“Kenapa? Aku gak mau kamu berhenti, nanti aku sendirian di kelas. Kenapa, Will? Mungkin aku bisa bantu? Cerita doong.” Paksaku kepada Will dengan sedihnya. Itu adalah hal terburuk dari mulutnya yang pernah ku dengar.
“Papaku sakit. Pengobatannya mahal. Keluarga aku sudah hutang sana sini untuk melunasi. Kalau sampai semua tidak cukup, mau gak mau aku harus berhenti sekolah, Ta. Aku juga mulai agak jarang nantinya SMS kamu karena aku lagi sibuk urus papaku dan adikku yang kecil gak ada yang urus. Mamaku  juga bantuin ngurus papa. Maaf ya Ta”
“Tapi, caranya tidak harus dengan berhenti sekolah kan? Please Will.” Aku hampir saja menangis mendengar ini semua.
“Aku pusing banget, Ta. Maaf banget ya, aku sedang tidak mood SMS dan telpon kamu dulu. Gak apa apa kan?”
“Gak apa apa Will kalau itu bisa sedikit meringankan beban kamu. Aku akan bantu kamu apapun caranya.”
Telponnya dimatikan. Betapa bodohnya aku ini. Pacar yang tiidak berguna. Selama ini aku menutup mata akan kesusahan-kesusahan yang Will miliki. Aku merasa Will baik-baik saja karena Will mampu memanjakanku, memennuhi semua kebutuhanku. Aku tidak pernah membuka mata untuk memperdulikan Will seperti dia memperdulikanku.
Selama ini dia selalu rutin mengunjungiku, memasakan makanan untukku, dan pulang larut malam demi menemani aku. Dia selalu kuatir akan segala sakit, lapar, dan masalahku. Walau aku tidak pernah cerita padanya, namun dia selalu menanyakan keadaanku. Dia selalu ingin tahu tentang kabarku dan apa yang terjadi padaku.
Sekarang mataku  terbuka. Semua yang dia lakukan padaku, tak sedikitpun aku membalaskannya. Bahkan saat Will memiliki masalah yang berat, apa gunanya aku baginya? Selama ini aku bermanja padanya, tanpa sedikitpun menyadari ada beban yang bergelantung dipundaknya. Aku tidak pernah menanyakan kabarnya. Aku terlalu senang bermanja padanya karena ku pikir ia juga tak ada masalah. Selama ini aku selalu menuntut ia agar peka terhadapku, namun justru aku yang sama sekali tidak pernah peka terhadapnya.
Aku menangis. Aku baru sadar ternyata banyak masalah yang Will gantungkan di  pundaknya dan ia tak mau aku tahu. Yang ia pentingkan hanya kesenanganku dan senyumku. Sementara aku, dengan egoisnya selalu menuntut perhatian darinya tanpa mau tahu masalah yang ia miliki. Bodohnya aku, tak pernah mau peka terhadap dia.
Aku tak bisa tak menangis kalau mengingat dia yang masih sempatkan waktu untuk berkunjung ke kos-an padahal dirumahnya sendiripun ada banyak masalah yang masih harus ia selesaikan. Will masih sempatkan waktu untukku walau ia sendiripun tak punya waktu untuk mengurus dirinya sendiri yang tersita untuk mengurus keluarganya.
31 September 2010
Aku kini terbiasa bila Will tak bisa sempat berkunjung ke kos-an. Aku maklum. Aku harus mengerti keadaan Will. Bagiku, dia masih tetap sekolah adalah cukup untukku. Aku tidak sanggup kalau tidak melihat wajahnya di pagi hari. Ini serius loh. Wajah ngantuknya adalah hal yang paling ku tunggu setiap hari. Ini juga benar serius loh, wajah Will itu lucu sekali saat masuk kelas dengan terkantuk-kantuk. Aku jadi ingin cepat-cepat masuk sekolah lagi.
Saat ini saja Will belum sempat SMS aku. Aku baru benar merasa kesepian. Tapi aku yakin Will pasti merasakan kesepian yang aku rasakan ditengah kesibukannya.
Tidak terasa waktu PKL ku tinggal 2 minggu lagi. Aku dan Debora sedih sekali karena kami sudah terlanjur sayang sama kakak-kakak senior disini. Karena aku bingung harus melakukan apa dikala  Will tak SMS, aku dan Debora bernarsis-narsis ria dengan kakak-kakak disini sebagai kenang-kenangan. Cukup banyak juga foto yang kami ambil. Lucu-lucu sekali ekspresinya. Jadi gak kebayang kalau sudah tidak PKL lagi disini. Disisi lain, aku senang sekali karena terbebas dari pekerjaan pelayan alian jongos itu. Tapi tak sanggup melewati kenangannya.
15 Oktober 2010
Ini hari terakhirku bekerja. Aku bangun pagi sekali dan bekerja satu jam sebelum waktu nya. Aku ingin menunjukan keseriusanku di hari terakhirku. Kalau Will seharusnya sudah selesai dari tanggal 7 kemarin, namun hotel memaksanya untuk stay karena keahliannya masih dibutuhkan. Mungkin kira-kira PKL kami akan selesai bersamaan.
Seluruh kamar ku bersihkan dengan sepenuh hati. Seteliti mungkin. Aku pun menikmati waktu terakhirku dengan kakak-kakak disini. Kebetulan kami diundang untuk buka puasa  bersama malam ini sekalian merayakan selesainya masa PKL kami disini. Rasanya bangga di hargai kerja keras kami disini. Seluruh kehangatan dan ilmu yang kami dapatkan disini tak akan kami lupakan.
Aku merasa sedih mengakhiri kegiatan yang sudah seperti rutinitasku selama ini. Satpam komplek yang biasa kami sapa saat kami berangkat kerja, sarapan pagi dari kak Kelik, makanan ringan yang kami dapatkan seusai bekerja yang lumayan untuk makan malamku, dan suasana kkerja yang nyaman.
Dari sudut mataku sebenarnya aku menangkap sosok mata itu sedang memperhatikanku dari kejauhan. Ya, kak Wahyu. Dia kakak senior yang pernah menyatakan cinta padaku. Aku tahu tapi aku mengacuhkan pandangan itu. Namun tiba-tiba dia menghampiriku.
“Ta, ini kenangan buat lo. Tolong jangan dibuang ya. Terimakasih telah mengisi hari hari gue selama 3 bulan ini. Udah jadi penyemangat gue dalam bekerja walau lo Cuma anggep gue sebagai kakak.” Kata kak Wahyu dengan penuh kesungguhan menyerahkan file berisikan lukisan kertas bergambar diriku. Aku baru sadar dia begitu memperhatikanku sampai apapun yang aku lakukan dilukiskannya dalam sebuah gambar.
“Terimakasih ya kak.” Kataku singkat. Aku pun kembali bercanda dengan Debora. Ada rasa tidak enak hati pada kak Wahyu sebenarnya. Namun aku menepis semua itu. Aku mau tetap setia pada Will.
 Chapter 14
16 Oktober 2010
               Pk 09.00 wib
Hari ini aku bangun agak siang. Sengaja, karena siang ini aku akan pulang kerumahku yang di Bekasi. Rencananya, Will akan menjemputku hari ini, namun ia tidak janji karena ada urusan dengan mamanya. Akhirnya aku memutuskan untuk numpang mobil Debora saja. nanti aku akan lanjutkan dengan naik angkot sendiri kerumah.
Aku memandangi kamar kos-an ku untuk beberapa menit. Walau kecil kayak pos satpam, tapi trimakasih ya sudah menjadi tempatku berlindung dari hujan dan terik selama 3 bulan ini. Perlahan aku menuju kamar mandi kos-an. Aku pandangi juga. Walau harus gantian dan rebutan kamar mandi, trimakasih ya sudah bisa menjadi tempatku membasuh air mata dan membasuh tubuh selama 3 bulan ini. Untuk dapur dan ruang tamu, makasih ya. Sudah banyak kenagan terukir disana sewaktu Will datang berkunjung.
Matahari menerobos jendela ventilasi kamarku. Jam menunjukan pk 09.00wib. namun aku belum beranjak untuk mandi. Aku melihat Debora terdiam disampingku. Aku tahu dia juga merasakan kesedihan yang sama seperti yang kurasakan. Perpisahan. Tapi memang kan, bila ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Aku pun menguatkan diriku. SMS di handphoneku membuyarkan semuanya.
From : Will
Pulang jam berapa?
To :Will
Jam 2 siang sama mobilnya Debora.
From : Will
Mau ku jemput kalau sudah sampai rumah Debora?
To : Will
Terserah kamu, sesempatnya kamu. Kalau tidak bisa jangan dipaksa Will.
From: Will
Kalau sudah hampir sampai rumah Debora, kasi tau aku ya. Aku  mau jemput. Miss u :*
To : Will
Iyah . :*
“Deb, gue ntar bareng mobil lo ya. Gak apa apa kan?” tanyaku membuyarkan lamunan Debora.
“Gak apa apa Ta, gue seneng kok. Mandi yuk.” Ajak Debora padaku sambil tersenyum.
“Deb, jangan sedih ya, nanti kapan-kapan kita main aja lagi kesini. Okeh? Udah dong sedih-sedihnya !”
“Tau aja lu ah gue lagi sedih.”ledeknya sambil melemparkan bantal ke arahku.

Pk 17.00 wib
to : Will
aku udah sampai rumahnya Debora nih. Kamu dimana?
Aku menunggu Will didalam rumah Debora sambil berbincang-bincang dengan mamanya. Namun tak lama kemudian Will datang.
“Ta, tuh Willl udah datang.” Kata Debora memotong pembicaraanku dengan mamanya.
“ok, tante, om, Debora, semuanya. Saya pamit dulu yah. Makasi tumpangannya.” Kataku sebelum pulang sambil menggotong bantal gguling dan tas-tasku dengan susah payahnya.
“Iya, nak.. hati-hati ya.” kata mamam Debora menasihatiku.
“Sip, tante.”
Dari luar Nampak Will kaget dengan barang bawaanku. Aku tersenyum melihat dia memandang heran jemuran yang ku selipkan diantara sarung bantalku.
“Ga  usah heran gitu Will. Aku hanya sedikit kreatif.” Candaku
“Bukan, bukan jemuranmu maksudnya. Tapi sarung bantal kamu itu loh jorok banget, dekil ih.” Serunya
“Ya abisnya aku gak ada waktu buat nyuci. Wangi kok, wangi iler. Mau ?” ledekku
“Ihhh.. gak mau, haha” Will menghindari bantal bersarung winni the pooh yang ku dekatkan di pipinya.
“Mesra banget sih, cepet pulang woiiii.” Teriak Debora dari pintu pagar mengagetkan kami berdua.
“Cie yang sirikkkk.” Ledekku pada Debora lalu melaju kencang. Sekilas aku mendengar Debora mengomel, “Kampret nih ! awas ya !!”
Motor Will pun melaju dengan cepatnya. Hebatkan pacarku ini? Selalu ada untukku bahkan menyambut kepulanganku. Aku pun kembali memeluknya. Hal yang jarang aku lakukan lagi selama 3bulan ini. Kali ini aku memeluknya erat. 3bulan dia sudah membuatku percaya bahwa cintanya memang hanya untukku. Dan rintik hujan yang turun pun mengakuinya.
Yang pasti, selamat datang suasana kelasku yang ku rindu. Selamat datang semuanya !
Chapter 15
26 November 2010
Hubungan kami baik-baik saja. Kadang aku bingung, tidak ada hal yang ingin kuperdebatkan. Will selalu menyetujui apa yang menjadi pikiranku dan keinginanku. Sehingga, aku pun segan untuk meminta hal yang akan menyulitkan Will nantinya. Will jarang mempermasalahkan perilaku ku, pakaianku, sifatku, cara makanku, dan semuanya. Aku senang karena Will bukan tipe cowok yang banyak protes, tapi sifatnya inilah yang kadang membuatku bingung.
Dia tak pernah membalas marahku, dia selalu tersenyum saat aku melampiaskan kekesalanku padanya. Dia juga tak pernah membalas kata-kata kasarku saat aku sedang emosi. Dia tahu bagaimana caranya memadamkan amarahku, dia tahu bagaimana menyejukkan hatiku yang panas. Dia tahu bagaimana cara membuat aku tersenyum lagi. Aku bersyukur bisa dimanja Will bak putri raja.
Disisi lain, sebenarnya aku berpikir. Sampai kapan Will masih akan bertahan denganku. Aku mau merubah semua sifat burukku, namun sulit rasanya. Aku jugatak mau terus-terusan melampiaskan semua pada Will. Aku juga berpikir, sampai kapan cinta Will masih untukku.
Aku mencintainya. Semenjak semua ia buktikan dengan selalu ada untukku diwaktu aku harus menge-kos. Diwaktu saat dia buktikan padaku dengan tetap menjemputku meski hujan lebat. Disaat dia masih meluangkan waktuku walau dia juga memiliki banyak masalah. Banyak hal yang telah dia buktikan padaku.
Aku semakin takut bila hari itu datang. Hari dimana perpisahan harus terjadi entah karena apa. Apa Will menakutkan hal yang sama? Apa dia tahu bahwa semua akan berakhir juga? Apa ini yang menyebabkan dia tidak pernah mau mencari masalah denganku dan selalu mengalah untukku?
Kita tak akan tahu apayang terjadi dimasa yang akan datang kan? Meski kami jarang bermasalah selama pacaran, tapi entah mengapa aku takut. Takut tak bisa melihat wajah ngantuknya lagi setiap pagi. Takut tak bisa mendekapnya lagi. Takut tak bisa melihat tatapan matanya yang meluluhkan itu. Will, harus berapa kali aku mengutarakan bahwa aku sungguh mencintai mu?

Senior High School- When The Troubles came
Chapter 15
02 Januari 2011
Tahun baru ini, hubungan kami berakhir. Aku hancur. Tahun baru baru berjalan 2 hari, namun aku harus memulainya dengan hancur. Sebenarnya dia sudah memutuskan hubungan ini sejak Desember. Aku tidak tahu mengapa alasannya. Tapi aku memang sudah merasakan dari sejak awal November dia mulai menjauhiku.
Aku merasakannya. Ya, jelas. Setiap jam istirahat dia selalu menghilang entah kemana. Namun setiap kutanya alasannya, dia selalu bilang bahwa dia ke kelas koko nya atau sedang ada di lab computer. Setiap pulang sekolah dia selalu pulang duluan. Alasannya terburu-buru harus menjemput adiknya. Ada yang membuatku ganjil disana. Ada yang disembunyikan dan aku tak tahu mengapa.
Terakhir kali kami SMS adalah di malam tahun baru kemarin. Aku bahkan tahu ada hal yang sedang menjadi pertanyaan dalam hatiku. Namun aku tak mau asal menuduh tanpa alasan yang jelas. Tapi aku tahu. Tapi aku seolah tak ada kekuatan lagi.
Ku pandang celengan ungu berbentuk rumah dengan selembar surat dalam amplop yang masih dibungkus rapi dengan kadonya. Itu adalah kado ulang tahun terakhir dari Will untukku sebelum kami memutuskan untuk menyudahi segalanya. Oh ya,  Bukan kami. Tapi dia.
Aku tahu apa yang Will lakukan di belakangku. Aku tahu apa yang Will sembunyikan dariku. Ceritanya, aku tak sengaja membaca SMS dari Vita, anak perhotelan yang beda kelas denganku. Aku tahu semua isi SMS itu karena ku baca satu persatu dengan sadar. Ya, memang kebiasaan Will adalah, tidak pernah menghapus isi SMS dalam hp nya walau sudah seminggu bahkan sebulan yang lalu. Vita memang manis. Lebih cantik dariku. Badannya mungil dan tutur katanya sopan. Dia pendiam dan aku juga tidak terlalu akrab dengannya karena kami beda kelas.
Aku tahu Vita menyukai Will sejak lama. Lebih tepatnya saat mereka PKL di hotel yang sama. 3bulan adalah waktu yang cukup untuk menabur benih cinta, kan? Maka tak heran apabila saat kami putus, dia mengungkapkan semua yang dia rasakan pada Will. Ya Vita ’menembak’ Will. Will tdk menolak ataupun mengiyakan. Ya, aku tahu semuanya. Aku tahu. Dan itu menyakitkan.
Aku memang tidak tahu dari mulut Will sendiri. Aku jelas tahu dari orang lain. Aku pun tahu saat menjelang malam tahun baru, Will memberikan sepasang hamster beserta kandang dan peralatannya lengkap untuk Vita. Hal yang sama saat dia memberikan aku sepasang kelinci. Dan aku pun tahu mereka sempat nonton bersama.  Aku jujur tidak ada hak untuk marah saat ini. Hubungan kami telah berakhir. Tapi aku kecewa, semua berakhir tanpa ku tahu apa penyebab aku di putuskan seperti ini. Dan fakta yang aku tahu adalah tentang Vita yang menyukai Will. Aku sangat yakin, Will bukan cowok playboy. Dia tak mungkin memutuskanku karena dia menyukai Vita juga. Aku yakin, bukan karena itu.
17 Januari 2011
Aku sekarang tahu apa yang menjadi rahasia Will memutuskan aku. Dari sahabat SMP ku. Shenni namanya. Okey, biar kujelaskan mengapa Will sampai akrab dengan Shenni.
Sewaktu sedang membelikan kado untuk ulang tahunkuyang ke 15 tahun lalu, dia memang sempat SMS-an dengan Shenni. Sebagai sahabatku dari SMP, dia pasti tahu apa yang aku suka. Karena Shenni lah, akhirnya Will tahu bahwa aku sangat menyukai kelinci. Sehingga dia membelikanku kado boneka kelinci waktu itu. Aku tidak menyadari keakraban mereka akan berlanjut sampai sekarang. Bahkan Shenni tahu alasan mengapa Will memutuskanku yang aku sendiri tidak tahu mengapa.
Aku sempat cemburu mengingat Will pernah kerumah Shenni tapi tidak sekalian kerumah ku yang jaraknya tidak jauh. Dia juga sempat bilang dulu bahwa Shenni itu cantik dan dia suka walau cintanya hanya untukku. Dulu aku percaya, tapi tidak untuk sekarang. Melihat keakraban yang terjadi diantara mereka, aku menjadi berpikiran negative terhadap sahabat SMP ku ini.
Sebelum aku dan Shenni akhirnya bertengkar karena aku tak suka dengan keakrabannya lewat sms kepada Will, aku tahu bahwa Will curhat kepada Shenni kalau mamanya tidak menyukai hubungan kami karena perbedaan suku antara aku dan Will.
Mama Will melarang Will untuk terlalu akrab denganku dan harus mulai menjauhiku. Aku memang sudah tak kaget dengan penolakan mama Will terhadapku walau sebenarnya aku tak tahu alasannya.  Tapi mama Will memang pernah mengirim pesan kepadaku untuk menjauhi Will dan berteman saja.
Ya, perbedaan suku. Aku pribumi dan dia Chinnese. Tak dapat menyatu. Itu yang baru aku tahu.

31 Januari 2011
Sekarang aku tahu mengapa Will tidak mau cerita kepadaku tentang alasan dia menjauhiku. Dia tidak mau aku tersinggung. Dia takut aku sedih kalau tahu mamanya menentang hubungan ini.
Dia juga menjelaskan awal pertama hubungannya dengan Vita yang begitu akrab. Dia memang menyukai Vita. Dia mengakui bahwa ia sempat menonton bersama Vita. Ia juga mengakui semuanya bahwa Vita sempat menembaknya. Semua hal yang telat untuk dijelaskan karena aku tahu dengan sendirinya. Ia menyadari rasanya pada Vita karena seringnya pertemuan antara mereka sejak PKL. Namun, kalau bukan karena mamanya yang  terus memaksa dia untuk menjauhiku, rasa sukanya pada Vita tak akan muncul. Tapi sulit bagiku untuk mempercayai dia sepenuh hati.
Dia mengajakku untuk kembali. Aku tidak bisa karena aku tahu beban yang akan dia alami nantinya. Aku tak mau dia tertekan karena mencintaiku. Tapi dia meyakinkanku bahwa mamanya pasti berubah seiring berjalannya waktu. Dia pun mengajakku balikan. Jujur, aku masih menginginkannya. Tak peduli apa yang terjadi esok. Hari ini aku berharap semuanya kembali seperti sedia kala. Dan mamanya mau merubah pendiriannya.
Dan semuanya kembali. Aku menyusun kembali kepingan hatiku yang sudah berserakan hancur. Walau tak seutuh dulu, aku ingin harapan itu menjadi nyata. Aku sudah mengorbankan segalanya, termasuk persahabatanku dengan Shenni yang kini hancur. Kami tak seakrab dulu. Bahkan sudah mulai lost contact dan tak pernah saling sapa. Tapi aku tak peduli. Aku masih memiliki Will. Aku rela korbankan itu semua. Yah , kadang cemburu buta memang bisa menghancurkan persahabatan.
Chapter 16
14 Febuari 2011
Aku menantikan hari ini. Tour Jawa-Bali angkatan 2009. Yup. Kami akan berkeliling Jawa Bali selama 8 hari. Aku pun mencari cari bus ku. Aku duduk bertiga dengan Aryana dan Funa, teman dekatku selama disekolah. Sebenarnya aku mau duduk dengan Debora, teman dekatku selama kita nge-kos bareng. Tapi, kedua teman dekatku ini tak menyukai sifat Debora. Alhasil, aku harus membuat Debora kecewa karena dia berharap untuk tetap bisa duduk denganku. Sementara teman dekatku yang lainnya, Rezi, dan Will, pacarku ada di bus lain.
Selama di bus, aku lebih banyak diam dan SMS-an dengan Will. Aku paling tidak bisa pecicilan didalam bus karena hal itu akan membuatku mual. Hal yang paling bisa membuatku antusias adalah melihat bus Will berdampingan dengan bus ku lalu aku melihat wajahnya dibalik jendela. Atau, saat bus kami rehat sebentar di pom bensin dan Will menemuiku sambil menanyakan keadaanku.
Perjalanan untuk sampai ke Bali dengan bus yang kami tempuh adalah 2 hari. Selama itulah aku harus duduk di dalam bus. Bosan rasanya. Aku hanya sempat menghirup udara saat bus kami sampai di dek kapal untuk menyebrang. Alhasil aku cukup puas melihat lautan membentang dari atas kapal.
Saat aku berusaha menikmati hembusan angin laut yang begitu kencang dari sisi kapal, Will berdiri disampingku secara tiba-tiba.
“Enak yah Ta, adem udaranya,” Kata Will
“Iya. Hehe.” Kataku sambil tersenyum sambil terus memandang pemandangan sekitar laut.
“Kamu pucat.” Katanya lagi memperhatikan wajahku lekat-lekat.
“Ah masa sih.” Sergahku  cepat.
“Kamu udah makan? Mau aku beliin pop mie?”  tanya Will menawarkan.
“Gak usah Will, makanan nya mahal disini. Aku gak apa apa. Ini pucat karena di bus seharian. Mual aku jadinya. Hehe”
“Aku ambilin  obat masuk angin aja yah, nanti kamu tambah sakit.” Desak Will kuatir.
“Gak apa kok Wil, udah ah. Bagus yah Will pemandangannya. Udaranya juga enak, Will.” Kataku menatap bentangan laut yang tidak begitu biru namun menyejukkan.
“Kamu sih baru pertama kali naik kapal ya ? hahah” katanya meledekku.
“Iyah sih, aku gak pernah naik kapal. Pulang kampung naik bus. Emang dulu kamu sering?”
“Waktu kecil sih, sering. Kan kampung mama papaku di Pontianak. Jadi kalau mau pulang kampung naik kapal dulu.” Jelasnya membelai pipiku.
“Kalau sekarang?”
“Gak pernah. Udah gak ada saudara lagi disana. Tapi setidaknya aku pernah naik kapal, weee..”lidahnya menjulur padaku, ku sambut dengan cubitan dipinggangnya. Dia meng-aduh manja padaku.
“Sakit..sakit..sakit Ta ! udah doooong.” Rengek Will padaku.
Aku pun hanya  menyengir kuda melihatnya meminta ampun padaku.

16 Febuari 2011
Pk 21.00 wib
Akhirnya rombongan tur kami sampai juga di Bali. Lelah menghantui malam kami. Will menungguku turun dari bus. Aku mengacuhkannya. Aku memang masih mencintainya, namun perasaanku tidak total 100% lagi seperti dulu. Aku tahu masalah dari hubungan kami cukup berat karena sudah menyangkut penolakan dari pihak keluarga. Oleh karenanya, aku menghindari dirinya. Ku bawa koper besarku dengan penuh susah payah tanpa bantuan Will lagi. Kalau saja hubungan kami masih ‘semudah’ dulu, aku yakin pasti Will memaksaku untuk membawakan koper besarku.
Aku mengikuti Funa dan Aryana ke kamar penginapan kami. Kami memang ditempatkan sekamar. Tak sabar aku merebahkan diri ku yang lelah ini. Will berusaha berjalan seiringan denganku. Mengantarkanku ke kamar dahulu setelahnya ia menuju kamarnya sendiri.
Aku menutup pintu kamarku. Ingin kubasuh diriku ke air. Jernih. Ya, agar pikiranku jernih. Ku jatuhkan tubuhku ke atas spring bed empuk yang cukup menampung dua orang. Aku merasa ada yang janggal setelah kami kembali balikan. Aku merasa kini Will lebih hati-hati dan tidak se-protektif dahulu. Dia mulai membiarkanku bebas, walau masih sedikit membiarkanku. Perhatian yang dia berikan padaku pun terasa kaku dimataku. Tak seromantis dulu. Aku tahu dia terlalu memaksakan hubungan ini karena dia tahu bahwa aku teralalu berharap padanya.
Aku pusing dengan semuanya. Kantukku tak dapat ditahan lagi. Ku abaikan handphoneku yang biasanya selalu ku dekap untuk tetap terjaga saat Will menghubungiku. Tidak untuk malam ini. aku membiarkan handphoneku didalam tas. Tak lagi menantikan ucapan selamat tidur itu.
17 Februari 2011
Pk  07.00 wib
Tak sadar sudah pagi. Aku merasa baru sekejap menutup mata. Belum puas rasanya, aku pun kembali memeluk guling. Funa dan Aryana pun masih terlelap karena setahuku, mereka tidur lebih malam daripada aku. Aku melihat handphoneku sejenak. Tidak ada sms masuk. Oh, begitu rupanya, kuletakkan kembali handphone ku di tas.
Tok..tok..tok..
Sekilas ku dengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Terlalu malas untuk membuka pintu,ku biarkan saja pintu itu terus diketuk. Samar-samar kulihat Funa membuka pintu. Seseorang berdebat disana.
“Hei, kalian belum mandi? Mau sarapan loh bentar lagi.” Kata suara yang ku kenali itu. Will. Ya pasti Will
“Ah bodo ah, masih ngantuk gue. Ngapain sih lo kesini?” ku dengar Funa sewot sekali dibangunkan dari tidur nyenyaknya.
“Bangunin kalian. Yaudah see u.” Lalu tak kudengar lagi Funa menggerutu.
Aku bangun. Berusaha membuka mata. Aku kecewa. Will tak sedikitpun beralasan untuk bertemu denganku. Ku pikir dia kekamarku untuk membangunkanku atau sekedar menengokku. Ku bangunkan Aryana dan Funa yang sama-sama enggan untuk bangun. Akhirnya mereka  pun ku tinggal mandi.
Pk 09.00 wib
Aku terduduk di bangku bus ku. Aku melanjutkan tidurku yang kurasa belum cukup. Sebal rasanya mengingat tadi saat makan pagi, semua orang termasuk Will mempermasalahkan eyeliner ku. Aku memang jarang berdandan, tapi memangnya kenapa sih kalau sesekali aku ingin terlihat berbeda? Apa image baik, pintar, dan apa adanya sudah begitu melekat padaku sehingga saat aku ingin nakal sedikit saja, semuanya terasa aneh ya?! Memakai eyeliner kan bukan berarti aku nakal.
Funa dan Aryana ikut membelaku. Mereka bilang, semua hanya sirik saja padaku karena tidak biasanya aku berdandan begini. Hebatnya, Will ikut memprotes ku. Dia yang paling kecewa melihatku berdandan diluar kebiasaanku ini. Katanya aku tidak pantas berdandan nakal seperti itu.
Setelah itu, Will juga memprotes porsi makan pagiku yang dinilainya terlalu sedikit. Dia tak setuju bila aku diet begitu ketatnya. Aku sudah mengelak bahwa aku tidak diet. Tapi aku mual jika makan terlalu banyak. Aku sedang sakit perut, namun dia tetap memaksaku untuk makan banyak.
Aku pun hanya duduk terdiam di bangku bus ku. Sesekali aku mendendangkan lagu yang anak-anak lainnya sedang nyanyikan atau mendengarkan ‘bli’, orang Bali yang kali ini menjadi tour guide bus kami. Kalau lagunya ku ketahui, ya aku ikut bernyanyi. Apabila tidak, aku hanya menyandarkan kepala ku disisi kaca jendela sambil memejamkan mataku.
Ah. Hari ini aku sungguh kesal.
Chapter 17
Hari terakhir di Bali, menuju Jogja
Pk 09.00 wib
Aku sudah mengepak-ngepak barangku. Tidak terlalu banyak yang harus kubereskan mengingat aku ini adalah orang yang rapi dan cukup simple. Aku masih sedih, hape nokia 6600 yang dibelikan mama papaku harus wafat di laut kuta Bali. Kemarin, kami berkesempatan bermain di pantai kuta Bali. Saat sedang berjalan di bibir laut sambil beradu lari dengan ombak yang akan membuat bajuku basah, teman sekelasku dengan menyebalkannya menyeretku dan melemparkanku ke laut. Aku teringat hape nokia 6600 masih ada disaku celanaku. Dengan sebalnya langsung ku maki –maki si Andrian, temanku yang menyeretku itu.
Kini hape itu kusimpan benar-benar. Hanya tinggal tulang saja. layarnya kini tak lagi hidup. Hapeku sudah seperti ikan asin rasanya. Bukan hanya itu, bahkan simcard nya pun harus ikut wafat. Ahh.. sebal sekali. Dan bukan hanya itu, karena sudah terlanjur basah kuyup, mau tak mau, ku lanjutkan saja bermain di lautan yang katanya paling indah didunia ini . Aku, Rezi, Aryana, Funa, serta Will berlarian menyongsong air, tak peduli baju kami yang basah. Kami sampai lupa bahwa kami lupa membawa baju ganti. Akhirnya, kami semua pun membeli baju yang dijual oleh banyak pedagang dipinggiran Pantai Kuta. Will membelikan baju untukku karena aku benar-benar sudah kehabisan uang. Dia yang memilihkan baju itu untukku. Satu hal yang benar-benar kulupakan. Pakaian dalamku basah semua. Dan akhirnya mau tak mau, untuk pertama kalinya aku berpakaian tanpa menggunakan pakaian dalam, begitupun yang ku tahu bahwa yang lainnya juga melakukan hal yang sama. Sungguh lucu.
Aku ingin segera meninggalkan Bali. Pulau yang indah, namun hatiku sedang tidak disini untuk menikmatinya. Semua terasahambar karena seseorang terkadang yang terlihat asyik sendiri selama tur ini. Beberapa waktu,mataku memang tak pernah beralih untuk mengawasinya selama kami berwisata. Apalagi Vita juga ada dirombongan tur ini. Aku tak mau mereka bernostalgia dan menganggapku sebagai salah satu dari ukiran patung Bali yang tak bergerak. Aku tahu bahwa Vita pun masih mengharapkan Will
Sebenarnya aku malas sekali membahas ini. Will benar-benar membuatku mati rasa. Hampir, maksudku.
Chapter 18
19 Feb 2011
Pk 12.00 wib
Di Poh Sarang, Blitar.
Hari keempat di tur kami. Wisata menuju Goa Maria di Poh Sarang. Disanalah aku menyempatkan diri untuk berdoa. Hanya 3 permintaan yang kupanjatkan. Kesehatan orang tua, kesuksesan untuk diriku, dan kelancaran dari hubunganku. Aku dan Will sudah berpacaran 1tahun lebih, maka dari itu, aku tak mau semua berakhir sia-sia. 3 permintaan itu sudah cukup bagiku. Aku tak mau yang lain.
Aku menyempatkan diri untuk membasuh wajahku dengan air suci yang mengalir di Gua itu. Rasanya sejuk dan kuharap penuh mujizat. Memang tak bisa mengandalkan mujizat yang datangnya dari air, karena sesungguhnya mujizat itu datangnya dari Tuhan. Aku tahu sekali akan hal itu, tapi keinginanku untuk mendapatkan mujizat membuatku meremehkan hal yang sudah kutahu sejak lama itu. Aku ingin benar-benar berpacaran layaknya temanku yang lain. Dimana saat pacarku sakit, aku bisa berkunjung kesana tanpa takut dengan makian mamanya dan pandangan sinis mamanya terhadapku.
Aku mengharapkan mujizat itu ya Tuhan. Sepintas, mataku mulai mencari sosok Will. Will tidak berdoa. Tapi dia ikut menemaniku mengambil air yang terus mengalir dari gua. Apakah tak ada doa yang dia panjatkan untuk hubungan kita?
Pk 19.00 wib
Rombongan akhirnya tiba disebuah Cottage di kawasan Jogja. Hari sudah gelap, namun aku harus menguatkan diriku untuk mencari cottage kelompok kami yang jaraknya sanagt berjauhan. Sambil menenteng koper yang sangat berat, akhirnya kami mau tak mau harus mencari sendiri kamar kami. Aku, Funa, dan Aryana kembali sekamar ditambah Debora yang memang menambah jumlah muatan kamar kami.
Aku menemukan kamarku. Kamar kami ada di pojok dari  3 deret cottage yang semuanya adalah kosong. Belum lagi ditambah dengan pepohonan rimbun yang mengelilinginya. Sebenarnya kelompok kami merasa tidak adil, mengingat kelompok yang lain mendapat kamar yang lebih baik dari pihak hotel.
Ya, AC kamar kami bocor, ditambah WC yang tidak layak untuk dipakai karena terlihat jorok dimataku. Sebagai ketua kelompok kami, Funa pun yang bertugas mengadukan masalah ini, dan kami menuntut ganti kamar. Mataku sudah 10 watt, namun aku belum bisa merebahkan diriku di kasur yang empuk.
Setengah jam kemudian saat aku termenung diatas koperku, guru ku datang menggiring kami ke kamar yang lain. Kami pun menuju cottage kami yang baru, yang kuharap lebih layak dan lebih bersih. Dan ternyata memang benar. Aku sangat menyukai lokasi cottage kami yang baru ini. Betapa tidak ? Cottage ku bersebelahan dengan cottage Will. Dan setelah ku mengamati, meja televisi yang ku geser ternyata tersebunyi connecting door yang tidak dikunci.  Funa menemukannya secara tidak sengaja saat kunciran rambutnya jatuh disela-sela belakang televisi.
Aku menjadi tidak mengantuk. Tanpa sepengetahuan guru, kami membuka connecting door itu. Malam indahku dimulai. Kami menonton sinetron bersama-sama sampai tengah malam. Funa dan Aryana menemaniku hingga akhirnya mereka tidur. Rezi pun tertidur dikamarnya. Hanya ada aku, Will, dan televisi yang menyala. Kesunyian melanda. Namun aku belum mau tertidur. Rasanya sulit berpisah dengan Will. Akal sehat ku pun dikalahkan nafsu yang memuncaki pikiran Will. Gelap. Aku tak dapat menolak hasrat yang tak bisa lagi kutahan. Dan semuanya terjadi.

20 Feb 11
Kunjungan rombongan tur kali ini adalah menuju Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Yah, aku belum pernah melihat seperti apa bedanya kedua candi itu. Bus pun melaju dengan santainya. Seperti biasa, aku lebih memilih tidak banyak bicara di bus dan lebih asik mendendangkan lagu yang aku suka. Aku tidak SMS-an dengan Will karena handphonenya kehabisan baterai.
Saat bus terpakir dipintu halaman candi Prambanan, aku dengan malasnya keluar karena cuaca nya yang sanngat panas. Terik sekali. Mengingat aku sedang masa pemutihan kulit, aku enggan keluar dari bus. Namun rasa penasaranku akan candi Prambanan menyeret kakiku juga untuk kesana. Kupakai jaketku dan kututup wajahku dengan tas ketika matahari menyengat dengan ganasnya.
Aku mencari sosok Will diantara rombongan bis yang baru saja sampai. Teringat aku akan peristiwa tadi malam. Aku meragu, janji yang ia ucapkan akan ia tepati. Tapi memang dasar setan jenis apa yang membuatku mau melakukan hal itu tadi malam. Ada sedikit penyesalan dalam diriku. Padahal aku tahu, hubungan kami memiliki rintangan yang berat dan belum tentu setelah peristiwa ‘itu’, Will akan mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Ah sudahlah, panasnya terik ini yang hampir pk 11 siang sangat menggangguku yang sedang memikirkan ini. Aku berjalan menuju Candi Prambanan yang ternyata masih jauh sekali dari halamannya. Will terlihat diam saja hari ini ketika ku rangkul dan ku sapa. Tapi entah mengapa aku acuh dan anggap itu hal sepele yang tak akan merusak hariku yang ingin menikmati hari ini. Aku bisa saja ‘ngambek’ sebenarnya namun aku sungguh malas sekali memulai pertengkaran setelah malam kemarin kami baru saja mengalami peristiwa yang bagi akal sehatku menjijikan itu. Ternyata memang benar apa yang dikatakan orang, masa SMA terutama saat kelas pertengahan adalah masa yang rawan sekali bagi yang berpacaran. Aku mengalaminya. Dan akal sehatku selalu kalah melawannya.



Pk 13.00 wib
Next destination, Candi Prambanan. Kali ini tour guide yang memandu kami adalah sesama anggota rombongan yang berjurusan Travel. Aku kembali diam di bus sementara Aryana dan Funa sibuk mondar mandir sana sini tidak jelas juntrungannya. Sesekali aku melihat mereka yang sedang pedekate dan jadian selama Tur ini. Ternyata banyak juga yang cinta lokasi dan akhirnya jadian. Aku menggelengkan kepalaku saat timbul hasrat melakukan hal yang sama. Tidak. Tidak. Will sudah cukup.
Aku memejamkan mataku. Kututup gorden jendelaku karena panas terik yang sangat silau. Semakin siang semakin panas rasanya. Aku sudah membandingkan kulit ditangan kanan dan kiri yang makin menghitam saja rasanya. Ah, sial. Pasti sulit untuk mengembalikan kulit ke warna semula bila sudah keling begini. Makin santer saja hinaan mama Will tentang diriku yang makin terlihat pribumi ini jika melihat warna kulitku sekarang.
Begitu tiba, aku takjub akan kemegahan Candi Borobudur. Halamannya lebih luas dan cukup lelah untuk mengelilingi apalagi sampai pada puncaknya. Aku sudah mulai enggan terlalu berlama-lama bermandikan terik. Tapi Will penasaran sekali. Ia meninggalkanku dengan Funa dan Aryana. Entah dengan siapa saat ini, yang aku tahu dia ingin mencapai puncak borobudur. Ah sudahlah, aku memilih berteduh di dalam Candi. Mencoba bergabung dan muncul di kamera teman-teman untuk ikut berfoto. Yang penting tidak terkenan sinar matahari terlalu banyak.
Saat aku sedang duduk diam ditepian bongkahan kecil batu candi  membelakangi matahari sambil memandangi para pengunjung lainnya yang ada, Debora menepuk pundakku.
“Renata, sendirian aja, gak bareng Will? Apa lagi berantem?” tanya nya.
“Gak tahu deh, hehe.. gue kan bukan baby sitternya. Masa kemana-mana ama dia. Gak kok, gak berantem.” Jawabku ketus.
“Tadi gue liat dia lagi foto-foto ama Vita. Makanya pas gue liat gada lo, gue pikir lo lagi berantem.” Jelasnya lagi.
“Heheh.. gak kok, emang gue lagi pengen sendiri ajah. Bosen kali lama-lama nempel terus haha.
“ ujarku setengah bercanda padahal dalam hatiku rasanya panas sekali. Entah mengapa aku malas mempersoalkannya.
“ Yaudah, gue mau foto-foto sama yang lainnya dulu yah. Dah Renata..” Debora pun lalu dari hadapanku dan melambaikan tangannya. Aku membalas lambaiannya dengan senyum yang kubuat-buat.
Entah karena kebetulan atau karena apa, Will tiba-tiba muncul dihadapanku dan menyapa.
“Hei, Ta. Kok duduk disini? Tumben kamu gak narsis-narsis. Pemandangannya bagus banget loh dari atas.”
“Cape. Hehe. Pengen duduk aja, panas .” kataku namun tak menatap mukanya sama sekali.
“Iya sih panas banget. Yang lain kemana? Kok kamu sendirian?” tanyanya lagi yang tambah membuatku emosi.
“Gak tau.” Kataku singkat sambil memainkan tali karet jaketku.
“Yaudah, balik yuk ke Bus. Panas.” Ajak Will.
“Kamu aja sendiri. Ajak pacar barunya yang dari tadi foto-foto sama kamu.” Kataku yang  sudah tak tahan lagi memendam alasan ke-bete-an ku.
“Siapa?”  Will bertanya balik.
“Siapa lagi sih, ya Vita lah !!!!” bentakku pada Will.
“Kamu tahu aku gak suka sama dia. Dia mau ngambil kamu dari kau. Apa salah aku marah sama kamu karena aku cemburu. Aku aja yang JELAS-JELAS PACAR KAMU, belum minta foto-foto tuh sama kamu. Masa dia yang BUKAN PACAR KAMU, udah foto-foto. Sementara aku sendirian! Lo tuh kemana aja Will !” Jelasku sambil memberi penekana pada kata ‘pacar’ dan ‘bukan pacar’
“Tadi dia yang ngajak Ta. Aku Cuma temenan doang kok sama dia. Maaf ya, maaf banget.” Mohonnya padaku.
“Ga ngertiin perasaan aku banget sih Will.” Kusadari air mataku sudah bergelinang.
“Maaf banget Ta, plis jangan nangis. Iyah aku salah. Maaf ya. Janji gak foto-foto sama dia lagi deh.” Will memegang tanganku sambil memohon. Aku semakin tidak tega menghukumnya lebih dari ini, namun aku mengeraskan hatiku karena ini bukan yang pertama untuknya. Saat di Bali, ia pun melakukan hal yang sama.
“Yaudah kita jalan yuk, foto-foto  bareng.” Ajak Will mulai menggodaku yang sedang marah.
“Ga ah, udah gak pengen. Panas.” Jawabku ketus
“Yaudah jangan ngambek lagi ya, udahan dong ngambeknya.”
“iya, iya. Udah yuk ahh. Aku mau ke bus.”
“Tunggu sebentar yah, 5 menit aja jangan kemana-mana. Pinjem handphone kamu yah.” Aku meminjamkannya, dan ia pun berlalu dari hadapanku.
Tiba –tiba terdengar suara pimpinan rombongan kami yang berbicara dengan TOA-nya.
“Di mohon dengan sangat, para rombongan SMK Dharma Pelajar harap  kumpul kembali di Bus untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan. Dalam waktu 5menit akan kami tinggal bila belum sampai bus.”
Aku pun panik. Namun aku tetap menunggu Will. Saat ku lihat rombongan yang lain sudah menuju bus semua, tambah paniklah aku. Aku tak mungkin meninggalkan Will. Namun,tiba-tiba belum 5menit, Will sudah muncul di hadapanku dan menyerahkan handphone.
“Kamu ngapain sih? Kita udah mau ditinggal tau.”
“Ambil video pemandangan candi borobudur dari atas buat kamu. Yaudah ayuk cepetan, nanti kita ketinggalan bus. Lari, Ta.” Will menarik tanganku dan berlari. Aku tidak bisa mengimbangi langkahnya yang terlalu besar.
“Will, langkahku tidak selebar kamu.” Protesku.
“Kamu sih pendek. Jadi, kakinya juga pendek. Haha.” Kata Will mengejekku.
Aku yang kesal pun mengejarnya untuk mencubit pinggangnya. Dasar. Kenapa bawa-bawa tinggi badan sih.
21 Februari 2011
Pk 08.00 wib
Tujuan hari ini, berkeliling Jogja serta Malioboronya. Rasanya tak lengkap bila ke Jogja namun tak ke Malioboro. Aku tidak ada niat untuk berbelanja sih, namun aku hanya ingin cuci mata dengan bule-bule yang hilir mudik di kota Pelajar ini.
Kali ini aku berencana membeli sepatu vantovel yang murah untuk acara table manner nanti malam. Will mau menemaniku berkeliling di department store atau di deretan pedagang kaki lima yang banyak berjajar disekitar Malioboro. Dia dengan sabar memberi saran dan membiarkanku memilih sepatu yang sesuai dengan seleraku. Sudah ku jelajahi sepanjang Malioboro sampai keujungnya namun aku belum menemukan sepatu yang pas dengan harga yang pas dikantongku juga. Akhirnya aku menuju department store terdekat dan memilih sepatu vantovel plastik yang termurah. Harganya hanya 29.900 rupiah. Lagi-lagi Will yang mengeluarkan biaya untuk membelikan sepatuku. Aku berjanji padanya, sampai di Jakarta akan kuganti semua uangnya walau ia tak ada menyuruhku untuk menggantinya.
Sepatu yang ku cari sudah ku temukan dan kini tak ada benda yang ingin kubeli. Tapi tiba-tiba mataku tak pernah lepas dari benda mungil nan populer saat itu, jam monol. Aku ingin sekali jam monol versi kotak namun berwarna coklat. Will seolah tahu saja apa yang ku mau. Dia menawarkan jam tangan yang dijajakan oleh para pedagang disana. Namun sulit sekali menemukan yang berwarna coklat dan harganya mahal sekali,  tidak jauh beda dengan harga jam monol di Jakarta. Namun setelah sekian lama mencari, Will menemukannya untukku dan membelikannya. Demi mendapatkan harga yang lebih murah, Will membeli dua jam monol berwarna biru dan coklat. Yang biru untuknya, dan yang coklat untukku. Kali ini aku punya sesuatu yang sama dengan Will. Jam tangan kembar walau beda warna. Lagi-lagi aku berjanji padda Will untuk mengembalikan uangnya sesampainya tiba di Jakarta nanti. Namun ia berkata padaku bahwa itu kenang-kenangan darinya, cukup aku bisa menjaga dan merawatnya, ia sudah senang.  Aku pun merangkulnya sepanjang jalan. Betapa bangganya aku mempunyai pacar  seperti dia. Mau mengerti aku, dan tau apa yang ada dipikirankku.


Pk 19.00 wib
Seluruh rombongan sudah siap dengan perlengkapan mereka masing-masing. Semuanya terlihat rapi dan sangat seragam dengan blazer kebanggaan kami, khas warna marunnya SMK Dharma Pelajar. Malam ini akan ada table manner di salah satu hotel bintang lima di daerah Jogjakarta. Ini adalah acara wajib yang harus diikuti karena akan mendapatkan sertifikat resmi.
Awalnya aku panik karena aku lupa membawa kaos kaki seragam sekolah kami. Namun untung saja Funa membawa kaos kaki lebih jadi aku bisa meminjamnya. Masalah sepatu sudah selesai karena seharian di Malioboro aku sudah menyempatkan diri untuk mencarinya.
“Ta, dandannya yang wajar saja. Kamu ga cocok dandan yang aneh-aneh.” Kata Will mengingatkanku.
“Iya, aku Cuma pakai bedak, lipgloss, dan blush on kok.” Kataku.
“Iyah, jangan mau kalau Funa dan Aryana maksa kamu memakai mata-mata dukun itu yang hitam-hitam.”
“Eyeliner, Will.” Koreksiku sambil tersenyum karena Will tidak tahu bagaimana menyebut nama-nama alat kosmetik untuk cewek.
“Iyah, pokoknya jangan yah. Udah yuk, mau berangkat nih. “
“ok.”
Pk 21.00 wib
Akhirnya seluruh rombongan sudah sampai di halaman hotel bintang lima nan megah. Kami semua menuju ballrommdi  lantai 3 secara bergantian menggunakan lift. Will terus disampingku. Sialnya, karena kebagian lift terakhir, kami pun hanya mendapatkan sisa tempat duduk yang kosong saja. Untungnya masih ada dua tempat duduk tersisa di depan, tepat depan panggung untuk kami berdua. Tambah dag dig dug diriku.
Hidangan pertama di awali oleh hidangan appetizer / pembuka berupa toast bread yang enak sekali. Namun tak bisa main sembarang makan saja. Namanya saja table manner, sudah pasti semua ada tata krama dan cara makannya. Kalau bukan table manner,  roti kecil seuprit ini sudah pasti habis dalam hitungan sekali lahap. Namun cara makannya yang ribet dan njlimet beserta peralatan makannya yang harus sesuai dengan fungsinya, membuatku kenyang sekali walau belum menghabiskan roti kecil seuprit yang sudah ku yakini harganya muahal pasti.
Hidangan kedua, ketiga dan selanjutnya hingga hidangan dessert tak mampu kutampung lagi. Padahal kalau dipikir-pikir, total porsi yang disajikan jauh berbeda dengan porsi makanku pada umumnya. Mungkin karena tata krama dan cara makannya yang mengenyangkan dengan sejumlah peralatan makan yang banyak.
Saat acara table manner selesai, ternyata jam sudah menunjukan pk 11.00 malam. Pantas saja sudah jamnya aku menguap terus dari tadi. Acara pun ditutup dengan foto bersama. Dan kami pun pulang kembali ke cottage kami masing-masing. Ini adalah malam terkahir kami di Jogja. Besok kami akan kembali ke Jakarta. Dan aku ingin malam ini berkesan bagiku.
22 Februari 2011
Pk 08.00 wib
Sarapan pagi terakhir kami di aula cottage lebih spesial dari biasanya. Hari ini suasananya lebih berbeda. Alunan gamelan dan kulintang, musik khas jogja dengan nyanyian jawa para sinden semakin memperlihatkan cirikhas Jogja. Belum lagi hiasan dan ornamen khas Jogja yang berada di ruangan seperti keris, gong, dan ukiran-ukiran khas Jawa semakin memperlihatkan bahwa sarapan terakhir ini lebih berbeda dari biasanya.
Belum lagi makanan yang tersaji adalah Gudeg, salah satu makanan khas Jogja dan hidangan-hidangan tradisional lainnya. Aku pun semangat makan pagi hari ini.